Ambisi, kemana kamu pergi?

Baca cerita neng Capcai yang mau berangkat ke Enggres, saya kok jadi mikir. Dimana itu ambisi milik saya sendiri? Ada beberapa orang (yang sudah berkeluarga dan memiliki anak) bilang ambisinya berada di nomor sekian setelah keluarga, ada lagi yang bilang ambisi nya masih tersimpan baik menunggu waktu terjadi, ada lagi yang bilang ambisinya telah berubah.

Saya mencari, di mana ambisi milik saya?

Mengorek memori, saya berusaha mengingat kapan terakhir kali saya bercita-cita, punya ambisi, punya tujuan. Sulit ternyata, hampir tak berhasil. Saya hanya berhasil mengingat kalau neng Erma kecil dulu pernah bercita-cita jadi pramugari. Aih...

Kenapa pramugari, karena berangkat dan pergi kerja diantar jemput, tak perlu naik angkot apalagi bis. Ya amplop, motivasi yang sungguh amat cemen. Alasan lainnya, karena tetangga saya yang pramugari itu, selalu tampak cantik ayu mempesona, bahkan ketika kami menemui di rumahnya. Yang sekarang kalau dipikir-pikir, ketemunya juga kan pas Lebaran, ya doi dandan lah ya, wajar kalau cantik. Ampun, malu bener deh saya dengan betapa cemen cara berpikir saya tempo dulu. Dari sesi berpikir cemen itu juga, saya mendengar kalau tidak berkacamata dan dan gigi bebas dari lubang, adalah dua (dari entah berapa) syarat untuk jadi pramugari. Begitu saya mengetahui gigi saya ada yang berlubang, melayang pula cita-cita bocah SD itu.

Saya tak berhasil mengingat lagi, apa ambisi hidup saya berikutnya.

Masuk SMP, ke jalur mudah memilih tempat yang memang menjadi 'rayon' dari SD saya. Demikian pula masuk SMA. Dan berhasil tanpa drama atau persiapan berlebihan. Belajar biasa-biasa saja. Mungkin persiapan masuk kampus kuning yang agak spesial. Mungkin karena sudah membaca bahwa saingannya bukan ratusan, bisa ribuan untuk merebut kursi di jurusan pilihan, saya pun masuk bimbel. Itupun tak terlalu ambisius, karena dalam placement test awal, nilainya sudah masuk perkiraan 'passing grade'. Memang ada rasa khawatir, bagaimana kalau tidak diterima, bagaimana kalau nilai yang lain lebih bagus, tapi dengan damai dan tanpa khawatir pula, saya mendapftar di kampus swasta yang jadi pilihan favorit para tetangga. Karena anak ABRI dapat diskon ahahahahahaha. Ada yang tau, kampus mana?

Ke masa kini, dengan damai di rumah selama lebih dari 2 tahun terakhir, saya juga jadi bertanya-tanya sendiri, apa itu ambisi? Di mana kamu sembunyi? Kemana kamu pergi?

Oh M oh H

Meski lama (banget) gak bikin posting baru, sebenarnya saya ini masih menyusuri dunia maya loh. Feedly masih dibaca, meski jarang komen. Facebook masih dibuka, meski isinya komen doang. Youtube juga masih nonton, apalagi kalau akhir bulan dan kuota internet masih banyak. Sebagian besar kegiatan tersebut dilakukan pakai tablet.

*kemudian sayup-sayup ada yang ngomong "hare genee masih pakai kuota".

Kenapa bukan hp?

Ya terserah nyonya aja dong.

Laptop kadang dipakai juga sih, meski ya memang gak sebanyak tablet atau hp. Intinya semua (ehm) gadget di rumah masih berfungsi dengan baik, termasuk koneksi internet nya. Hingga suatu siang, nyonya mau nyalain laptop. Masukin password login laptop (bukan login email atau account online ya), kok incorrect mulu. Padahal yakin kalau masih ingat dengan passwordnya. Sampai pake nanya ke suami segala, padahal dia juga uda gak pernah pakai laptop yang ini. Pun jawaban beliau juga sama dengan ingatan saya. Lah ya dia yang bikin password. Nyonya kan numpang laptop suami ajah.

Untungnya, tidak seperti PIN ATM yang kalau tiga kali salah, password ini bisa berulang kali salah gapapa. Dia akan terus aja ngeluarin tulisan "incorrect password". Serupa dengan si nyonya yang bisa ngulang jawaban kayak kaset rusak (kalo pertanyaannya juga sama, kayak kaset rusak).

Setelah beberapa kali tarikan nafas, nyonya baru ngeh kalau keyboard si laptop ini suka mark up. Huruf M nya dipencet sekali, akan muncul banyaaaaaaaak sekali. Jelas tertolak dong passwordnya, lah password nya mengandung huruf M. Nyonya gak mau dikadalin laptop dong, dengan tipu daya, saya berhasil memunculkan satu saja M, sesuai kebutuhan password.

Eh kemudian, H nya gak muncul. Yak betul, passwordnya mengandung huruf H. Ampun dijeeee.... minta dicubit banget deh ini keyboard. Padahal sebelumnya gak ada masalah loh. Untuk huruf H ini, nyonya gak berhasil menemukan ide.

Setelah ngadu ke sang pemilik, pemilik laptop maksudnya, nasihatnya cuma "diistirahatin aja, mungkin dia lelah". Eaaaaa

Untungnya ada laptop satunya.

Maklum, istri prohemer, laptop dua biji di rumah.

*menanti komen dari Capcaibakar

Dengan bantuan youtube, nyonya pun permisi dengan sang pemilik untuk buka keyboard. Bongkar laptop. Ambisius sekali, secara gak pernah bongkar laptop sebelumnya. Ya buat apa, punya suami prohemer getho loh... Secara ajaib, suami kasih izin.

Setelah nontonin youtube dan banyak-banyak doa, akhirnya berani juga ambil obeng dan buka laptop. Berhasil buka keyboard dan mendapati gak ada debu sedikitpun di bawah keyboard. Lah katanya masalahnya kotoran di bawah keyboard. Zzzzz...

Lalu baru nyadar, jangan-jangan cuma dua key itu yang bermasalah (si huruf M dan H). Ganti lah cari video bagaimana mencongkel key di keyboard. Lagi, setelah nontonin youtube, bacain komen, dan banyak doa, akhirnya berani juga mencongkel kedua key itu. Coba dipencet secara normal, dia memunculkan huruf secara normal juga. Ya ampun, kamu tuh maunya apa sih key...

Dengan posisi key dicongkel, berhasil juga login laptop. Cari-cari opsi hapus password, baru setelahnya dipasang kembali si key. Alhamdulilah. Berhasil login, berhasil browsing. Lapor dengan bangga ke pemilik laptop.

Setelah sekitar 1 jam dipakai, tau-tau layarnya mati sendiri. Zzz... Apaan lagi inih? Restart gak mau, tak tampak apa-apa. Akhirnya nyonya menyerah kalah dan menanti suami pulang saja untuk lihat dan beresin (kalau mau, mudah-mudahan sih mau).

Sulit

Saya punya 3 keponakan, umurnya 6,4, dan 2 tahun masing-masing. Kayaknya. Gak hafal juga sih tahun lahirnya. Layaknya anak kecil, hobi mereka bermain yang melibatkan fisik, lari-larian, bola, petak umpet, gendong-gendongan, dll. Ngos-ngosan juga kalau diladeni. Sudah gitu rumah (mertua) jadi berantakan pula.

Sebagai orang dewasa yang lebih banyak akalnya, saya pun mengajukan sesi permainan tanpa ngos-ngosan. Tebak-tebakan!

Ini bukan tebak-tebakan yang ala "Bagaimana memasukkan gajah ke dalam kulkas?" gitu ya. Tebak-tebakan kami semacam ini isinya:

Saya : Aku adalah buah berwarna merah, kulitku hijau, airku banyak. Apakah aku?
Bocah : Apel!
Saya : Bukan!
Bocah : Mangga!
Saya : (mangga apaan buahnya merah?) Bukan!
Saya : Aku dijual di abang-abang rujak.
Bocah : Semangka!
Saya : Betul!
Bocah : Horeeee!

Permainan ini cukuplah membuat bocah #1 dan bocah #2 duduk beberapa menit. Yang bocah #3 sih kayanya belum ngerti, jadi biarin ajalah dia mondar-mandir hahahaha.

Suami, masih mau dan kuat ngelayanin permainan gendong-gendongan. Awalnya. Kalau satu aja sih bocahnya lumayan yak buat ngelatih otot biar mirip Channing Tatum atau kalau gak pakai atasan gitu. Lah ini, satu digendong, yang 2 lagi ngantri juga. Selamat gempor, Suami!

Setelah satu seri gendongan (maksudnya, setiap bocah udah kebagian), Suami ngeles dari permainan gendongan dengan mengajukan syarat bahwa siapa yang bisa menjawab tebakan dari dia, baru gendong lagi. Demikian isinya:

Suami : Aku adalah makanan yang berasal dari Itali

(Istri nyengir, emang nih bocah uda pada ngerti Itali apa).

Suami : Aku berwarna kuning, dengan bumbu warna merah. Aku rasanya enak.
Bocah #1 : Mangga!
Bocah #2 : Roti!
Suami : Bukan!
Bocah #2: Nasi! (ini maksudnya nasi kuning apa yak? Si Tante mulai nyengir)
Bocah #1 : Pizza!
Suami : Bukan!
Suami : Aku seperti Mi.

Masih gak terjawab.

Bocah #1 : Aku gak tau Om, ganti aja pertanyaannya.
Suami : Coba tanya sama Tante Erma, boleh gak diganti pertanyaannya
(Trik ngeles berikutnya dari suami, suruh tanya eikeh).
Saya : Oh tidak bisa.
Bocah #1 : Pertanyaannya yang gampang aja deh.
Saya : Wah, ya ndak bisa dong. Kan hadiahnya gendong, jadi pertanyaannya harus yang sulit juga.
Bocah #2: Nah itu. Ayok SUIT ajah (muka lempeng)

SULIT kaliik.... Bukan SUIT. Kecil-kecil mau ngajak plesetan dia.

Ngedapur, Emping

Buat sebagian besar orang, sambal adalah pembuat nafsu makan. Ada yang bilang, selama sambalnya enak, lauk dan sayur apapun jadi lahap makannya. Saya tidak suka sambal. Jadi, buat saya, justru sambal bikin makan gak lahap.

'Sambal' buat saya, adalah kerupuk.

Makan dengan lauk apapun, jadi terangkat beberapa derajat level kelezatannya, kalau dilengkapi dengan kerupuk. Gak sampai harus banget ada kerupuk di setiap sesi makan sih, tanpa kerupuk aja badan gak kunjung kurus gini. Eh, kurus kan karena olahraga kan ya? Bukan karena makan kan ya? Buktinya, makan saya sudah dikit ini, tapi kurus mana kurus?

*disenggol sepeda

*dan disambit sepatu jogging

Entah apa dan kapan asal muasalnya, saya jadi suka sekali dengan emping. Ini kerupuk yang rasanya gak bikin bosen, bahkan dengan 'iming-iming' asam urat. Dulu ibu saya meski cukup sering menggoreng kerupuk, emping tergolong jarang muncul di dapur kami. Harganya tergolong mahal. Yang sering muncul tentu kerupuk bawang (kerupuk putih dengan pinggiran warna-warni), kerupuk udang (kalau dapat oleh-oleh), atau kerupuk beli matang yang plastikan warna coklat itu, entah apa namanya. Emping muncul di hari lebaran. Afdol sekali rasanya makan ketupat dengan emping. Padahal masak ketupatnya juga jarang banget di rumah, umumnya pesan 20 buah saja dan ibu masak sayur dan lauknya sendiri.

Begitu punya uang sendiri, dalam sesi makan di luar, begitu terlihat emping di meja, maka saya hampir pasti akan mendatangi. Si emping. Mau itu makan soto, mi goreng, warteg, makanan padang, apa aja cocok sama emping, prinsip saya.

Dalam episode-episode ngedapur, saya awalnya kurang minat untuk menggoreng aneka kerupuk sendiri.

Buat apa? Beli juga murah. Lagipula, keluarga kecil bahagia sejahtera ini kan makan di rumahnya hanya sekali sehari, gak perlu banyak-banyak nyetok kerupuk dong. Lagipula lagi kerupuk kan gorengnya harus dengan minyak banyak, gak efisien banget kalau sekali goreng hanya untuk 2-3 kali makan. Sisa minyaknya gimana?

Udahlah, beli kerupuk matang aja.

Tapi gak ada yang jual emping matang (dalam jumlah mencukupi). Adanya yang sudah diplastiki kecil-kecil untuk sekali makan. Plus, biasanya dijual di tempat yang menjual masakan jadi. Masak beli 3 bungkus emping doang dan gak beli 'dagangan utama'nya, aku kan malu kakaaaaak.

Jadi, ayo coba beli emping mentah.

Dan ternyata, gak mahal-mahal amat ya emping (mentah) itu. Inflasi apa kabar inflasi? Orang bilang inflasi bikin makanan utama yang dulu berasa murah, sekarang berasa mahal. Buat saya, emping itu deflasi kayanya. Soalnya dulu berasa mahal banget, sekarang kayaknya kok gak beda jauh ama jenis kerupuk lainnya ya? Emping juga tipis ringan gitu kan mentahnya, jadi beli 250gr bisa digoreng dalam 3 sesi buat saya, masing-masing sesi nya cukup untuk mengisi toples dan dihabiskan dalam 4-5 kali makan. Murah kan?

Minyaknya gimana?

Nyonya yang pengiritan ini menemukan, ternyata gak harus digoreng dalam minyak tergenang juga kok. Saya biasanya pakai penggorengan datar, dan paling diisi minyak 1cm aja, tapi sekali goreng hanya 4-5 pc aja. Lama dong gorengnya? Ya gapapa lah, lha wong dikit juga kok jumlah yang digorengnya.

Yuk makan emping dulu.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -