Tuesday, February 28, 2012
Tuesday, February 21, 2012
Monday, February 20, 2012
Hutang puasa
Menyadari bahwa daya ingat saya terbatas, saya mencatat hutang puasa saya di ponsel. Bak mencatat ulang tahun, saya tandai hari-hari dimana saya tak berpuasa.
Lalu saya ganti ponsel.
Dan yang saya pindahkan cuma buku alamatnya.
Lalu sepupu saya ngasih tau kalau dia mau nikah. Abis Lebaran. Tanggal 24 Agustus.
Hah? Agustus uda lebaran? Jadi puasanya bulan Juli? Nasib jadi kuli Jerman, dikasihnya kalender Jerman, ya gak ada lebarannya. Merencanakan kegiatan juga bareng bule atau 'setengah bule' (karena rambutnya yang kaya bule ngomongnya uda mirip bule).
Kembali ke hutang puasa.
Karena catatannya lenyap, saya bulatkan saja ke jumlah hari maksimal. Bukan 30 hari. Emangnya saya ibu menyusui. Tujuh hari.
Beberapa minggu lalu baru sempat bayar satu hari, lalu ke luar kota *alesan*. Lalu pelatihan *alesan kuadrat*. Dan hari ini akan bayar yang kedua.
Daripada lupa, dicatat di blog aja.
Lalu saya ganti ponsel.
Dan yang saya pindahkan cuma buku alamatnya.
Lalu sepupu saya ngasih tau kalau dia mau nikah. Abis Lebaran. Tanggal 24 Agustus.
Hah? Agustus uda lebaran? Jadi puasanya bulan Juli? Nasib jadi kuli Jerman, dikasihnya kalender Jerman, ya gak ada lebarannya. Merencanakan kegiatan juga bareng bule atau 'setengah bule' (karena rambutnya yang kaya bule ngomongnya uda mirip bule).
Kembali ke hutang puasa.
Karena catatannya lenyap, saya bulatkan saja ke jumlah hari maksimal. Bukan 30 hari. Emangnya saya ibu menyusui. Tujuh hari.
Beberapa minggu lalu baru sempat bayar satu hari, lalu ke luar kota *alesan*. Lalu pelatihan *alesan kuadrat*. Dan hari ini akan bayar yang kedua.
Daripada lupa, dicatat di blog aja.
Published with Blogger-droid v2.0.3
Friday, January 27, 2012
Kalo dilelang, ada yang mau gak ya?
Saya lagi bongkar isi lemari, dan terharu banget nemuin hasil karya tangan saya dan tante saya masih tersimpan rapi. Lupa dipakai. Bertahun-tahun. Mau dikasih ke orang, kok ragu apa beneran bakal kepake. Sayang mikir proses pembuatannya yang berhari-hari. Mau dipake sendiri, juga bingung kapan makenya? Secara saya kalau pergi, bawaannya segambreng, tas-tas 'cantik' kayak gini kurang optimal buat saya. Jadi, gimana kalau saya lelang aja? Biar seru, lihat dulu barangnya, setelah itu baca aturan mainnya.
Tas biru ini dirajut tangan oleh miss Erma. Iya, saya. Bertahun lalu, salah satu tetangga saya ngajarin ngerajut dengan benang wol. Saya gak tau apa jenis rajutannya, yang jelas bahannya benang wol dengam jarum yang ada pengaitnya. Yang lain menjadikannya syal, saya menjadikannya tas. Untuk mengurangi kemungkinan mulur karena keberatan beban, bagian dalam dan talinya dilapisi kain furing berwarna senada. Bagian atasnya juga dikasih resleting biar gak gampang dicopet. Pekerjaan jahit menjahitnya dilakukan oleh ibu saya. Kuat deh kalo diisi dompet, ponsel, charger, dan buku tipis.
Kalau mau, gimana caranya?
Tinggalkan alamat email di kolom komentar, nanti saya kasih instruksinya. Pendaftaran saya terima sampai 7 Februari 2012 jam 23.59 WIB.
Ditunggu.
Tas biru ini dirajut tangan oleh miss Erma. Iya, saya. Bertahun lalu, salah satu tetangga saya ngajarin ngerajut dengan benang wol. Saya gak tau apa jenis rajutannya, yang jelas bahannya benang wol dengam jarum yang ada pengaitnya. Yang lain menjadikannya syal, saya menjadikannya tas. Untuk mengurangi kemungkinan mulur karena keberatan beban, bagian dalam dan talinya dilapisi kain furing berwarna senada. Bagian atasnya juga dikasih resleting biar gak gampang dicopet. Pekerjaan jahit menjahitnya dilakukan oleh ibu saya. Kuat deh kalo diisi dompet, ponsel, charger, dan buku tipis.
Kalau mau, gimana caranya?
Tinggalkan alamat email di kolom komentar, nanti saya kasih instruksinya. Pendaftaran saya terima sampai 7 Februari 2012 jam 23.59 WIB.
Ditunggu.
Published with Blogger-droid v2.0.3
Thursday, January 26, 2012
Ketika layanan gratis menghancurkan perusahaan
Lihat kotak shoutmix di sidebar sebelah kanan blog ini? Memang gak banyak digunakan, tapi saya dulu masih rajin ngecek isinya. Buat para pembaca yang malas ninggalin komen, nulis di (semacam) buku tamu jadi pilihan. Tapi, sekarang sudah tidak bisa. Layanan gratisnya sudah tidak tersedia.
Membaca penjelasannya disini, niat awal ngeblog tentang my long long journey to Kemayoran *ngelebay* jadi berubah ke kenapa dan bagaimana Shoutmix akhirnya menghentikan layanan gratisnya. Baca sendiri disini. Atau baca di bawah ini untuk analisa suhu Erma *halah*.
Berapa banyak layanan gratis yang kalian gunakan di internet? Kalau saya, account Yahoo, Google, Twitter, Facebook, Multiply, errr... kayaknya semua account saya gratisan deh hehehe. Kenapa account gratisan ini masih bisa beroperasi, bahkan terus menerus melakukan perbaikan?
Jaaa waaaa ban nyaaaaa *ini dari kuis apa ya? kok saya lupa*
Dari iklan.
Atau dari pengguna berbayar.
Eh, ada juga lainnya. Dari investor. Tapi kan at some point, itu perusahaan juga harus menghasilkan keuntungan untuk tetep beroperasi. Caranya, ya balik ke yang dua di atas.
Pernah liat iklan di Facebook? Yang di sebelah kanan kecil-kecil itu? Kalau di account saya, biasanya yang muncul tentang "kerja di rumah dapat jutaan" atau "mengurangi berat badan tanpa tersiksa". Kenapa itu yang muncul? Jangan tanya saya. Harusnya sih ada algoritma sehingga iklan yang muncul yang mendekati profil sang pengguna. Etapi, saya kan gak pernah masang status pengen kerja di rumah. Apalagi pengen berat badan berkurang. Si facebook bisa baca pikiran kali ya?
Ada lagi yang dari pengguna berbayar. Misal multiply. Kalau gak salah, namanya premium account. Jadi yang punya premium account harus bayar 'iuran' tetap, mungkin bulanan, mungkin tahunan. Dan sebagai kompensasinya, ada fitur yang didapatkan, fitur yang tidak didapatkan sang pengguna gratisan. Misalnya, kapasitas penyimpanan lebih besar, notifikasi ini itu.
Kembali ke shoutmix. Shoutmix menggunakan strategi kedua. Pengguna premium.
Dengan anggapan bahwa pengguna premium adalah orang-orang yang awalnya pengguna layanan gratis, maka shoutmix terus-terusan memperbaiki fitur untuk pengguna gratisannya.Gak salah juga kan asumsinya. Etapi, ini jadi bumerang ketika para pengguna gratisannya jadi keenakan. Semuanya terpenuhi, buat apa bayar? Gak salah juga kan kesimpulannya. Pengguna gratis keenakan, perusahaan kelimpungan. Nah, diantara beberapa alternatif metode bertahan 'hidup' yang ada, akhirnya shoutmix memilih untuk menghapuskan layanan gratisnya. Semua layanan jadi berbayar.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah strategi ini akan berhasil?
Kita lihat lagi setahun kedepan *eh sapa juga yang masih mau memonitor?*.
