22 Mei 2007

Setelah sebelumnya diganggu dengan Mas #1 dan Mas #2, sekarang gilrian Mas #3 yang menggelitikku.

Mas yang satu ini, lain lagi kelakuannya.
Mas: "Tau website nya NGO lain gak?"
Gue: "Ya yang ada di kartu nama itu."
Mas: "Udah semua. Kamu punya yang lain ga?"
Gue: "Cari aja di google"
Mas: "Ye...kirain kamu tau"
Gue: "Lha...semua juga aku cari di google"

Dan gue berburuk sangka.
Si Mas ini sotoy..belon juga baca semua website yang ada, uda buru2 bilang "aku uda liat semua". Asumsi gue, kalo dia membuka at least 10 website aja, akan ada 2 alternatif kejadian yang mungkin terjadi:
1) dia keasyikan baca, karena ada banyak informasi yang didapat. Lalu ga bisa mengangkat pantat dari kursinya (dan pastinya ga sempat mengunjungi gue dan berkata "kok kuenya uda abis?" lalu melanjutkan dengan "tau website nya NGO lain ga?")
2) dia mabok kepusingan, karena sepertinya website itu akan dalam bahasa inggris (terutama untuk int'l NGO). Semoga salah, tapi seinget gue, mas ini kurang kemampuan bahasa inggrisnya.

Si mas ini juga punya tendensi (in my opinion ya...) untuk mengambil sampel sekitar 10 item lalu memberi label hasil yang sama pada item-item lain yang tersisa.
Contoh 1:
Ada 60 responden. Dia telpon 8 lembaga, tanya kuisioner uda nyampe apa belon, dijawab ama mereka uda. Lalu si mas ini akan melaporkan "saya uda telpon SEMUA".

Dasar prasangka:
Been there done that. Bukan generalisasi gak bertanggung jawab nya. Tapi memiliki kewajiban menelpon 60 nomor dan menanyakan apakah kiriman sudah sampai apa belum (Dulu...ketika masih bersanding dengan Herr dan Frau. Kalo disini mah gue bisa dicaci maki gara2 bikin tagihan telepon bengkak). Dan yang terjadi adalah, tangan gue lelah memencet nomor. Mulut gue lelah mengucapkan rangkaian kata yang sama "Selamat siang, saya Erma dari **** tadi kami mengirimkan ****** mau konfirmasi apakah sudah sampai?". Dan pantat gue lelah karena ga terperangkap duduk di kursi deket telpon. Tambahkan dengan kekesalan ketika nomor yang dihubungi sibuk, atau ga ada yang ngangkat, atau salah tulalit. Karena itu berarti ada tambahan nomor yang harus gue pencet lagi.
Nah si mas ini, tiada pernah kulihat dia terpaku di depan telpon (secara telpon nya bukan di meja dia), tiada pernah kudengar sayup suaranya dari sebelah mengulangi rangkaian kata yang sama.

Maaf mas, saya officially sudah tidak punya stok respect dengan anda.
Maaf.
Saya pasti akan berusaha mencari stok dari sumber lain.
Karena SAYA perlu bisa respect dengan anda.
Saya tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak saya respect bukan ?!

Maaf juga.
Semoga saya tidak menuju kesombongan, keangkuhan, dan ketakaburan.
Semoga ini bisa saya jadikan pagar pembatas saya, supaya tidak bertingkah yang sama.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -