20 Juli 2007

Sepertinya gara-gara postingan ini, gue banyak ditanyaain oleh penggemar blog gue (bah..ngaku-ngaku) dengan kalimat "jadi kapan kawin?" ato "katanya uda mo merit ya?" ato "mana undangannya?"

Ctrl C + Ctrl D = Cape Deeeee

Jadi begini ya kelanjutan ceritanya, si pacar itu memang pernah bilang, "abis ini mo beli cincin deh". Yang gue tanggapi dengan "oya? emang kenapa?" (
ge-er campur curiga, tak percaya). Dan ternyata kecurigaan gue beralasan, karena dia menjawab, "biar abis itu bisa beli yang lain. Kan lo ga bakal ngomel lha wong uda ada yang buat lo getooh". Seeeee..... pastilah ada udangnya

Lalu diskusi kami berlanjut dengan kenapa perlu ada cincin. Si pacar salah mengira bahwasanya gue pengen dibeliin cincin. Padahal gue bukan mau CINCINnya, tapi arti yang terkandung di baliknya. Bahwasanya ini adalah one step further bla bla bla. Nah, gue memasang simbolnya sebagai cincin (berlian yang matanya banyak, he he he). But actually, it doesn't have to be a ring. Biar gampang aja, gue cuma nyebut, "cincinnya dulu doooong" kalo lagi ngobrol.

Nah, hasil dari perngobrolan itu, si pacar mengerti bahwa ketika gue bilang cincin, bukan refers to cincin harfiah itu. Tapi dia juga mengerti, bahwa gue (tentunya) tidak menolak kalo someday dia ngasih gue cincin, apapun tujuan dan motif di belakangnya.

Dan, gue juga sudah memutuskan. Sesuai dengan azas
take 100% responsibilty for my life, kalo gue pengen CINCIN (secara harfiah), ngapain nungguin orang lain ngasi ke gue. Beli sendiri aja. Emansipasi gethoo looohhh.

*buat boncu, tapi kalo mo ngasih juga diterima dengan senang hati loh... Jariku kan ada 10

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -