03 Agustus 2007

Besok gue jadi "penerima tamu" di (pesta) nikahnya seorang tetangga di komplek. Penerima tamu adalah orang yang duduk di pintu masuk, dengan buku tamu dan wadah penampung amplop di depan dan sampingnya. Dirunut-runut, gue sepertinya sering banget deh kebagian tugas ini. Dulu, ibu gue mah menghibur dengan bilang, "kan enak, ga perlu pusing mikirin pake baju apa buat kondangan". Awalnya seneng-seneng aja. Gak perlu dandan, malah didandanin. Ga perlu cari baju baru, uda dapet kebaya dari sana. Ga usah ngamplop, dapet souvenir banyak boleh milih pula. Eh...lama-lama bosen juga bow.

Penolakan pertama gue berikan pada teman baik yang menikah di Surabaya. Gue bilang, "gue mau wara-wiri sepuasnya. Mau jadi tamu ajah, ga mau dijadikan panitia ya". Untungnya penolakan gue diterima. Untuk yang lain-lain, trik ini agak susah dipakai karena biasanya yang meminta adalah orang tua sang pengantin. Penolakan berikutnya dimungkinkan karena jadwal nikahnya sama dengan jadwal ujian praktikum proses produksi (ah...masa-masa itu, ketika gue diuji bagaimana mengelas, menggergaji, mengampelas, membubut *nostalgia mode ON*).

Eh iseng, coba ah di list siapa aja yang sudah "menerima jasa" gue jadi penerima tamu:
  • Mbak Tuti Amir
  • Mbak Tuti kecil (perhatian, ini adalah orang yang berbeda dengan nama diatasnya)
  • Mbak Titi
  • Mbak Dina
  • Mbak Dita (yang merupakan adik dari nama diatasnya. Can you imagine that?! Gue pastinya sangat "adorable" dong ya *gakadahubungannya*)
  • Mbak Rina
  • Mbak Ira (klien terbaru, yang besok ini)
Tolong diperhatikan ya, bahwa nama-nama diatas itu tinggal di komplek gue. Padahal komplek kami cuma 30 rumah. Uda berapa persennya coba yang menerima jasa gue. Dan pertanyaan favorit para tamu yang mengenali gue adalah, "Erma kapan????"
Ah..cape deeee

One Response so far.

  1. Anonim says:
    Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -