15 September 2007

Hari pertama puasa, chatting dengan jeng Wiwiek (mantan teman sekantor yang sekarang sudah tidak sekantor)

Wiwiek: Eh kapan-kapan buka bareng yuk
Erma : Yuukk. Ajak Dinna juga ya
W: Mauuu. Lo yang jadi EO nya ya
E: Bolee. Kalo bertiga mah gampang

Jadilah gue tanya jam pulangnya si Wiwiek. Dan kantornya yang bapuk itu ga mengalami perubahan jam kerja. Pulang jam 5.30. Malang benar nasibmu naaak. Sms ke Dinna, respon positif, dia pulang jam 4 dari Bogor, tapi bersedia berbuka puasa di daerah Sudirman, ato Jaksel. Gue? Puasa ini jam kantor cuma sampe 4.30 ajah. Gampanglah.

Respon positive. Langkah berikutnya adalah: Pilih tanggal.
Secara ini cuma bertiga, yang enak adalah pas hari kerja aja. Supaya jatah bu bar skala gede yang biasanya diadakan di weekend tidak terganggu.

Rabu sore. 19 September. Wiwiek dan Dinna yang males mikir dan mau gampangnya ajah setuju.

Lokasi? Gue menerima masukan dari mereka, tapi syarat utamanya adalah musholla nya PW dan tempat makannya juga PW. Tentative nya sih Plaza Semanggi. Wiwiek mengusulkan Solaria di gedung kantornya. Saran ditampung. Kepastian nanti deket-deket harinya.

Bu bar kedua,
diawali dengan situasi yang mirip sama diatas, hanya aktris nya saja yang berbeda. Kali ini gue memanggil sang teman SMP lewat YM juga. Pembukaan ini itu diseling ocehan ga penting, ga jelas, dan saling mencela dapatlah hari Selasa 18 September. Lokasi, PIM.

Gue memang seneng kumpul-kumpul skala kecil gini. Lebih gampang hubunginnya, dan lebih gampang nentuin tanggal dan lokasinya. Walaupun, biasanya sang pencetus ide awallah yang akan banyak menentukan tanggal dan lokasinya. After all, kebanyakan orang kan lebih seneng jawab bisa/enggak dan mau/enggak daripada harus ngasih ide baru. Jadilah, dikatorisme dengan semangat persahabatan gue terapkan disini.

Ah... senangnya... tak sabar menanti selasa tiba.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -