21 September 2007

Saya sudah selesai membaca trilogi Princess.

Dari buku pertama, saya berniat menamai anak perempuan saya nantinya, Sara. Karena tokoh yang bernama Sara di buku itu digambarkan sebagai wanita yang cantiiiikkk sekali. Kulitnya seputih pualam, wajah dan tutur katanya lembut. Dan ia sangat pintar di sekolahnya. Cocok kan seperti saya? *ditimpuk massa*. Sayangnya, saya ga punya priviledge untuk menentukan nama apa yang akan saya pakai seumur hidup. Orang tua saya sudah menamai Erma. Jadi, nama Sara ini akan saya gunakan untuk nama anak saya saja. Masalahnya.... saya sudah punya teman (yang cukup dekat) bernama Sara. Ga seru banget kalo nama nya ntar sama-an. Bisa tercoreng kredibilitas saya sebagai orang yang kreatif dan punya banyak ide :D

Dari buku kedua, saya berniat memakai nama Maha, juga untuk anak perempuan saya nantinya (kapannn yaaaa???). Kalo yang ini, bukan karakternya yang membuat saya jatuh cinta, tapi nama nya saja yang saya suka. Maha. Terdengar indah begitu. Tapi kata sang prospek suami, nama Maha ini ga asyik untuk dipanggil. Masak manggilnya, "Mah" ntar dikira manggil Mamah. Hm...iya juga sih. Ada juga nama Fayza yang saya suka. Tapi kayaknya nama itu sudah sering dipakai.

Dari buku ketiga, saya mulai suka dengan nama Nura. Nama ini sebenarnya sudah muncul dari buku pertama, tapi tertutupi oleh kecintaan saya dengan nama Sara dan Maha. Tetapi oh tetapi nama Nura ini memang jarang muncul, tapi nama yang mirip mirip, Naura, sudah sering muncul. Teman saya menamai anaknya Naura, di multiply pun saya menemukan nama bundaNaura (orang yang beda). Ah...saya ga mau.

Hayya...bukannya mikirin nikahnya kapan *yak diulang...satu..dua...tiga.. KAPAN KAWIN???* malahan mikirin nama anak begini.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -