13 September 2007

Setelah gonjang ganjing kulkas kemaren, toh akhirnya puasa H1, kulkas tercinta kami yang sudah uzur itu masih dipake.

Wiken terakhir sebelum puasa, gue akhirnya tidak nyekar ke makam bonyok. Bukan ga sempet. Tapi memang enggak. Pertimbangannya adalah, gue merasa bahwa esensi nyekar itu adalah mengingatkan bahwa hidup di dunia tidak selamanya. Dan suatu hari nanti (bisa besok, bisa lusa, bisa bulan depan, bisa tahun depan) kita semua akan kembali kesana. Lalu esensi nyekar menjelang puasa ini, yang gue belum tahu. Selama ini yang gue denger hanyalah "ritual". Ritual tanpa jiwa kan ga ada artinya. Well, at least itu menurut gue. Dan alasan utamanya adalah, melewati ramadhan berdua aja itu rasanya kadang ngilu. Dan menekuri pusara akan membuat ngilu ini menjadi-jadi. Ini juga yang menjadi trigger scene "senyum" kemaren.

After all, rasanya kenangan mereka akan ada dalam hati gue, bukan dalam nisan mereka disana. Mau kirim doa? Gue kirim dari rumah. Gue memang berniat merapikan nisan mereka, tapi sedang memilih waktu yang tepat, tukang yang tepat, suplier yang tepat, dsb. Hasrat nyekar gue yang sempat timbul sesaat lebih disebabkan oleh ajakan adek gue. Somehow I was happy with the idea that my brother remembered to send prayer to our parents. Jadi gue mendukung ajakan dia dengan positif. Tapi dianya juga pengen berangkat sendiri bawa motor, ya gugurlah opsi itu.

Selasa sore, gue belanja. Ga banyak, hanya beras, dan bahan sahur H1. Gue belum bikin contingency plan bidang logistik menyeluruh untuk menghadapi puasa ini. Gue berniat bikin semur. Beli lah daging sedikit dan kentang. Karena prinsip yang berlaku di perut adek gue adalah, "apapun rasa masakannya, kalo ada dagingnya pasti dimakan", hahahaha.

Malem kamis, siap-siap masak. Rebus daging dsb. Trik gue adalah, proses memasak untuk sahur dilakukan di malam hari. Sehingga gue hanya perlu finishing touch di pagi nya. Dengan kondisi kompor cuma 1, minyak tanah pula, inilah rencana terbaik. Adek gue yang sudah menjadi korban kekurangberbakatan gue memasak, menawarkan diri untuk membantu. "Gue yang masak deh, kalo lo ntar rasanya aneh", kata dia. Sialan. Mendingan makan yang rasanya aneh apa ga makan sama sekali hayo?!

Anyway, bermodalkan rice cooker dan bumbu semur jadi. Sahur pertama kami pun sukses. Errr....nasi yang kelembekan bisa dimaklumi lah. Maklum, masih pemanasan, hehehe.

Misi gue berikutnya adalah:
- bikin plan menu
- bikin plan dimana (dan bagaimana) bisa dapetin bahannya
- bikin plan tukang jualan yang bisa mensuplai santap sahur kami (walopun perlu sedikit modifikasi)
- bikin plan suplai kerupuk.

Karena ternyata, kami berdua ini doyan sekali sama kerupuk. Rasa masakan yang ga karuan bisa tertolong dengan keberadaan kerupuk (apalagi kalo adanya emping, nyam nyam). Sayangnya, kami berdua males goreng kerupuk sendiri. Alasan utama: males, boros minyak goreng, males, lama, dan males. Hehehe

3 Responses so far.

  1. Susetyo says:

    Terharu bacanya...
    Kamu hebat!!
    "Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tapi carilah di hati manusia" Jalaluddin Rumi.

  2. Erma says:

    Wah..bagus bener kata-katanya mas

  3. Susetyo says:

    Hanya kata-kata. Tak ada apa-apanya dibanding yang telah km alami.
    pun itu kan kata-katanya Maulana Rumi ya, kucontek.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -