30 Oktober 2007

Kemaren itu...saya (sok) sibuk nyiapin pameran Pekan Sadar Bencana (PSB) DKI Jakarta 2007. Eh, jangan salah bacanya ya, yang saya maksud "sibuk nyiapin" itu bukan artinya saya berperan serta aktif dan signifikan dalam proses persiapan PSB ituh. Bukaaannn... Saya juga kan bukan pegawai Pemda, ngapain juga ikut repot.

Yang bener, ACF (ini baru kantor saya) minta ikutan dalam pameran itu. Punya stand gitulah namanya. Sang bapak dari Pemda ituh bilang, hari Selasa (23 Oct) lokasi sudah siap. Pamerannya sendiri baru dimulai hari Kamisnya. Nah, sebagai pegawai yang baik, bertanggung jawab, dan penuh dedikasi *ditampar massa* saya tentunya menyediakan diri untuk mempersiapkan stand ACF. Rabu sore nya saya sudah berencana mengunjungi lokasi bakal pameran. Ceritanya biar tau apa saya yang perlu saya angkut dari kantor. Udah nge-tek in mobil kantor untuk mengantar saya jam 3 sore, eh sang sopir mengaku masih di airport jam 3 kurang 5 nya. Ora sopan!! Apa kabar ituh peraturan yang bilang kalo mobil uda dijadwalkan dipake oleh user lain, maka sopir wajib meninggalkan user yang overtime. Pretttt....

Ya sudahlah, saya merayu mengajak salah satu rekan saya untuk menemani ke Monas. Untung dianya mau. Sampe sana, kami bengong. Yang tampak di depan mata adalah tenda pesta yang panjang ituh, dengan beberapa puluh orang sedang ketak ketok bangun booth dari triplek (yang putih putih itu looooh). Saya telpon lah si bapak Pemda, tanya apakah booth juga disediakan oleh panitia. Dan si bapak dengan manis nya menjawab, "kami menyediakan tenda besar itu saja mbak. Partisi itu masing-masing". Busyet dahhhh. Ngobrol dong pak dari kemareeeeen. Sore begini, saya harus menodongkan pisau di leher orang finance saya kalo mau minta duit buat nyewa booth. Mereka kan cuma mau buka kotak duit nya pagi doang.

Sok cari inspirasi, akhirnya saya dan rekan kerja itu, duduk duduk dulu di dekat patung Ikada. Liat kanan kiri. "Kita gimana nih mas?" tanya saya putus asa. Si mas ini sebenarnya mengajukan ide ide yang cukup kreatif. Tapi saya dengan tak tau terima kasihnya malah sering menjawab dengan, "trus pake apa mas?" ato "emang bisa ya mas?" ato "wah repot banget mas". Untungnya si mas tidak mudah menyerah. Kami pun akhirnya sepakat untuk menampilkan replika sebuah kamar. Perabotan yang dipake ya perabotan aslinya. Hasil menjarah properti kantor, dan mengangkut barang dari rumah masing-masing (baca: rumah saya dan rumah Mas Arde) untuk dibawa ke sana.

Saya yang dengan gagah perkasanya menyanggupi bawa dipan tempat tidur. Lha..kan papannya bisa dicopot-copot, GAMPANG dong bawa nya, pikir saya. Gampang mbahmu! Meski bisa dibongkar, itu kayu nauzubillah beratnya. Dan papan yang terpanjangnya kan mencapai 2 meter. Mana ada taksi yang bisa menampung. Walhasil, yang niatnya tengah malam mau datang ke kantor bawa dipan, jadi kembali tidur menghadapi kegagalan. Si pacar memang sudah mengajukan usul untuk pake mobil bak terbuka saja untuk mengangkutnya. Namun saya tolak mentah-mentah. Rp 250.000,- hanya untuk mengangkat dipan saya ke kantor, sementara besok paginya Rp 250.000,- lagi untuk mengangkut semua barang ke Monas.

Akhirnya, hanya kasur busa yang berhasil mejeng di pelataran monas. Padahal uda membuat niat busuk untuk masang dipan, masang kasur, trus tidur-tiduran kalo lagi sepi pengunjung. Hehehe.

Eniwe, kamis pagi itu akhirnya kami (baca: saya dan Mas Arde) sukses membangun booth kami tanpa menyewa partisi. Bangganya tiada tara *hiperbolis banget*. Apalagi pas ngeliat tetangga yang nyewa booth Rp 1.200.000,- tapi cuma diisi 4 poster, 1 meja, dan 2 kursi. Alahhh...mendingan booth gue kaleee *belagu mode ON*

Sang wagub baru, pak Prijanto mengelilingi stand satu persatu, tanya basa-basi ini itu. Di stand kami, beliau bilang "masukkan kegiatan penyadaran tentang kebersihan juga ya, biar masyarakat ga buang sampah di kali lagi." Saya mah cuma senyam senyum penuh kepalsuan. Tapi pas si pak wakil menjauh mas Arde menimpali dengan, "lha ngapain jadi kita yang ngerjain penyadaran? Itu kan harusnya kerja pemerintah. Kita mah bantuin doang". Cerita lama...beda perspektif antara pemerintah dengan organisasi non pemerintah (NGO gitu loohh)

Eniwe lagi... ternyata yang mereka sebut PEKAN sadar bencana itu cuma berlangsung 4 hari, yaitu Kamis sampai Minggu. Dan dengan ajaibnya, pada hari Minggu siang, ketika Monas justru didatangi pengunjung, peserta pameran justru sudah siap membongkar booth nya. Arrrggghhh... Kalo begini caranya, bagaimana mau SADAR BENCANA pakkkk???

One Response so far.

  1. wpurtini says:

    wah, kau harus mendengar ceritaku ttg orang pemda.........

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -