30 November 2007

Senin lalu si babe (baca: bos baru) bilang bahwa HR sudah menegur karena departemen saya datangnya extremey late. Lalu kami terlibat dalam pembahasan panjang kenapa orang-orang datang setelah jam 8.30 Hohoho saya tentunya termasuk dalam gerombolan telat itu.. Jaraaaaaaaaang banget absen saya menunjukkan saya datang sebelum jam 8.30

To the point saja, saya bilang padanya bahwa saya dateng siang bukan karena macet, bukan karena saya pulangnya malem, bukan yang lainnya. Simply karena saya merasa "nyaman" datang jam segitu. Karena buat saya, yang penting adalah kerjaan saya selesai, program nya jalan. Kalo harus dikerjain selama 10 jam, ya saya jabanin. Gak usahlah pusing-pusing ngurusin uang lembur. Ga ngarep!

Eh ternyata menurutnya itu salah. Buat si babe, yang penting adalah being in the office jam 8.30 - 17.30 Usahain kerjaan selesai jam 17.30 dan kalaupun enggak, ya ditinggal aja. Kalo kantor kami merasa bahwa sang pegawai "perlu" lembur, maka kantor akan "meminta" pegawai untuk lembur dan kemudian mengurusi administrasi lemburnya (baca: uang lembur).

Saya terpana. Ketika saya cerita ama si pacar, dia dengan berapi-apinya bilang "udah,..tinggal ajah". Dan ketika saya cerita sama mantan teman sekantor, beliau juga memberi reaksi yang setipe. Asli.. saya berasa kerja jadi buruh pabrik. Lha gimana enggak, HR kantor saya apa enggak punya tools untuk menilai performa kerja pegawainya selain dari ngecek absennya? Apa kabar itu appraisal?
Saya putus asa.

Saya sudah berniat udahan.
Lalu saya ingat peraturan kantor baru yang sedang dalam proses pengesahan di Depnaker. Katanya kalo salah satu pihak memutuskan kontrak sebelum akhir waktu kontrak, maka pihak yang memutuskan itu wajib membayar penalti sebesar gaji selama sisa durasi kontrak. Saya gak rela. Masak saya kudu "sedekah" 3 bulan gaji ke kantor ini? Mending buat kawin, hehehe. Si pacar bilang, "you take it or leave it".

Saya butuh cool off dulu.
Saya cuti kamis kemaren. Pengen tidur siang, begitu alasan saya. Dengan sok sibuknya saya merasa sabtu dan minggu tidak cukup bagi saya untuk melaksanakan semua kegiatan non-kerja saya. Hari Rabunya, saya dapat konfirmasi bahwa peraturan baru itu masih dalam tahap penerjemahan. Artinya, belum bisa diberlakukan karena belum disahkan oleh Depnaker. Artinya lagi, saya terbebas dari ancaman penalti itu. Well, at least saya yakinnya begitu.

Dan ternyata libur kemaren itu saya dirumah saja. Siang harinya saya baca buku di teras depan saya, dan berpikir "ternyata membosankan juga kalo siang-siang bolong gini ada di rumah". Kalo di kantor males ngapa-ngapain dan malu kalo ngebrowse kanan kiri, saya kan bisa beres-beres file, atau bikin artikel untuk blog (blog kantor tentunya).
Ah...sepertinya saya belum siap untuk menganggur. Gak punya penghasilannya sih masih berani. Tapi ketidakstabilan emosi yang disebabkan oleh ketidakproduktifan sepanjang harinya yang saya ga berani. Saya bisa gila.

Akhirnya saya bilang sama pacar. Saya mau terus. Supaya saya MAU dateng pagi, saya akan memikirkan kerjaan apa yang akan saya kerjakan esok paginya. Dengan demikian, saya akan merasa berguna. Dan gak buruh-buruh amat. Pengecut? Terserah. Buat saya, saya hanya ingin waktu saya dihabiskan dengan kegiatan bermanfaat. Dan duduk di kantor, ngetik ini itu, dan melakukan sesuatu untuk the-so-called benefficiaries itu rasanya lebih bermanfaat daripada bengong-bengong di rumah sepanjang hari.

Saya juga sadar bahwa ini artinya mengikat diri saya sampai Maret tahun depan. Karena kalo mau berhenti, sekarang lah waktu yang tepat. Besok-besok saya bisa terancam sedekah ke kantor kalo mau berhenti.

Saya pengen kerjanya ikhlas aja. Jadi ga ngitung ini itu. Ga ngarep ini itu. Dapet gaji aja insyaallah makan uda kenyang. Ikhlas. Itu saja.

Walau masih agak susah juga. Karena setiap kali ngeliat si babe (which is setiap hari...secara saya satu ruangan dengan dia), saya jadi ingat betapa dia menganggap kami-kami ini seperti buruh pabrik. Iyah, buruh pabrik. Yang musti ada di kantor jam 8.30 - 17.30 apapun yang terjadi. Dan memandang si bos besar (bos nya si babe), saya jadi ingat betapa dia lebih percaya dengan selembar surat keterangan sakit dari dokter instead of pernyataan pegawainya yang bilang "saya sakit tapi ga mau ke dokter. Saya hanya butuh istirahat satu hari"

Sudahlah.. hidup ini kan pilihan.
Dan saya sudah memilih.

8 Responses so far.

  1. www.soridorimori.wordpress.com says:

    hai jeng ...

    bahan yang bagus nih buat diskusi. gw kasih komen yak ...

    sebetulnya, gw setuju dengan babe ... karena di satu sisi, itu menunjukkan profesionalisme qt. why? profesionalisme itu tdk hanya diukur dari quality of our work tapi juga oleh efektifitas dan efisiensi ... dan untuk dua yang terakhir, dipengaruhi oleh waktu.

    en eniwei .... sebetulnya qt ada persamaan sih dengan buruh pabrik... alias sama-sama EMPLOYEE.

    he ...he ...

    so we are bond with the company regulation ... no matter what.

    kesimpulan: jadilah bos untuk diri sendiri bila keberatan dengan peraturan ... :D

    btw, gw sendiri sih masih jauh dari yang namanya "profesionalisme" ...

    mumpung bisa berteori ... he2

  2. Erma says:

    Masalahnya jeng,
    profesionalisme disini HANYA diukur dari waktu yang dihabiskan sajah. Titik.
    Appraisal? Hanya setahun sekali?
    Sakit hati juga rasanya ketika mereka sama sekali tidak bilang apa apa ketika kami membagi rata pekerjaan yang ditinggalkan teman-teman yang resign. Tidak bilang apa-apa ketika orang-orang berguguran. Eh..malah ditegur soal absen.

    Sakit hatiiii!!!!

    Tapi I agree with you. Jadilah bos bagi diri sendiri kalo gak mau diatur-atur.

  3. jendral says:

    coba.. ada berani mendefinisikan kata-kata berikut:

    1. profesionalitas
    2. efisiensi
    3. efektifitas

    kalo gak bisa definisiin.. pepesan kosong dong namanya...

    pis ah

  4. www.soridorimori.wordpress.com says:

    Professionalism:
    1 : the conduct, aims, or qualities that characterize or mark a profession or a professional person
    2 : the following of a profession (as athletics) for gain or livelihood

    Efficiency:
    1: the quality or degree of being efficient
    2 a: efficient operation, b (1): effective operation as measured by a comparison of production with cost (as in energy, time, and money) (2): the ratio of the useful energy delivered by a dynamic system to the energy supplied to it

    Effective:
    1 a: producing a decided, decisive, or desired effect -an effective policy- b: impressive, striking -a gold lamé fabric studded with effective…precious stones — Stanley Marcus-
    2: ready for service or action -effective manpower-

    Semoga bermanfaat .. ;)

  5. jendral says:

    jeng soridorimori.. masih bingung nih..

    1. "..karena di satu sisi, itu menunjukkan profesionalisme qt.."

    being profesional di NGO itu.. artinya.. be in the office on time?

    sesuai kan dengan definisi profesionalisme:
    "the conduct, aims, or qualities that characterize or mark a profession or a professional person"

    2. epektif.. itu artinya mencapai hasil yg diinginkan bukan? hal itu benar2 tergantung dgn waktu ya!? kegiatan (di lingkungan kantor NGO) apaan sih yg sangat tergantung dgn waktu?

    3. efisiensi... yg ini jangan ah.. nanti kalo nanya kebanyakan... gw keliatan begonya

    pis euy
    * bukan orang NGO *

  6. Erma says:

    Sebentar saya artikan dulu... *jiwa translator tulen*

    Professionalism:
    1 : perilaku, tujuan, atau kualitas yang menandai karakteristik sebuah profesi atau orang yang profesional 2 : pekerjaan sebagai sumber penghasilan (asli.. yang ini ga ngerti)

    Efficiency:
    1: level/tingkat efisien
    2 a: aktifitas yang efisien , b (1): pekerjaan yang efektif, yang diukur dengan membandingkan produksi (atau hasil?) dengan biaya (energi, waktu, dan uang) (2): rasio penggunaan energi yang bermanfaat yang dihasilkan oleh sistem dinamis

    Effective:
    1 a: memberikan hasil yang ditetapkan, ditentukan, atau diharapkan -kebijakan yang efektif- b: mengagumkan, menyolok
    2: siap untuk memberikan layanan atau kegiatan -effective manpower-

    Koment untuk definisi ini, pada edisi selanjutnya ya..

  7. Erma says:

    Definisi yang ada masih belum bisa memberikan gambaran lebih jelas apa itu profesionalitas, efisiensi dan efektif jeng.

    Profesionalisme.. perilaku yang menandakan orang yang profesional. Lalu profesional nya itu apa?

    Efisiensi.. pekerjaan yang efektif dengan membandingkan produksi dengan biaya. Efektif nya aja belum jelas. Dan gue masih belum menemukan hubungannya dengan being in the office on time. Karena kalo secara waktu, waktu yang gue gunakan untuk nyelesaiin kerjaan kan sama aja, hanya gue geser waktu mulainya aja.

    Efektif..memberi hasil sesuai yg ditetapkan. Hm.. gue masih merasa hasil ku sesuai dengan yg ditetapkan. KEcuali kalo hasil yg diharapkan adalah "datang jam 8.30" ya.

    *Bener bener jadi bahan diskusi yang menarik*

  8. dinsul says:

    bener-bener diskusi yang menarik ;)

    sebelumnya, sorry ya jeng kalo jadi "menarik" begini ... :)

    pertama, profesional itu tergantung bidang kerja masing-masing ... dan pertanyaan jendral bener "apakah be in the office on time is professional in NGO?"

    Maaf jendral, saya belum menemukan artikel yang membahas tentang profesionalisme pegawai NGO... adanya juga profesionalisme organisasi NGO. btw, menurut jendral sendiri, apakah disiplin waktu termasuk tindakan profesional?

    kedua, sepengetahuan gw, efektif ada kaitannya dengan waktu "apakah pekerjaan dapat terlaksana dalam rentang waktu yang diberikan (office hour, deadline, etc.)". jadi, waktu dapat digunakan sebagai kriteria ukurnya.

    btw, pemberi waktu adalah employer ... dalam hal ini atasan ato organisasi. balik ke pertanyaan jendral "kegiatan apa di NGO yang tergantung waktu", menurut pengalaman jeng erma bagaimana?

    Ketiga, profesionalisme mempengaruhi efisiensi *sumber: beberapa artikel profesionalisme NGO dari mr. google*. Btw, artikelnya tidak membahas mengenai profesionalisme pegawai NGO ...

    So, mungkin kesimpulan dapat ditarik dari pengalaman masing-masing ...

    Maaf ya jeng ... mungkin gw terlalu meng-generalisasi soal profesionalisme :). Maaf juga ya jendral ...

    aniwei, miss u so so .... *4 jeng erma*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -