20 Maret 2008

Malam ini kembali kami nangkring menanti tengah malam tiba. Di Blitz. Mau nonton Flood. Jam 23.45 mainnya. Buat yang mau tau bagaimana pelemnya, nantilah di postingan lainnya. Kali ini yang akan saya bahas adalah soal impas-impasan.

Somewhere di pelajaran ekonomi di masa smp atau sma saya pernah denger yang namanya Titik Impas, Break Even Point (BEP) kata orang londo sana. Contoh gampangnya adalah, kalo saya buka warung bakso, saya keluarin uang untuk sewa tempat, beli panci, beli kompor, beli mangkok, beli sendok, dll, nyetok bahan baku untuk satu bulan, lalu saya hitung total pengeluaran saya. Let say... 10 juta rupiah. Lalu saya surpe kanan kiri ke tukang bakso lainnya, akhirnya saya putuskan bahwa baksonya akan saya jual permangkok 10 ribu rupiah *mahal amat yah..ga papa lah ini kan cuma permisalan*. Artinya, ketika mangkuk ke 1000 bakso saya terjual, saat itulah saya BEP. Nilai BEP ada di 1000 mangkuk itu. Baru setelah mangkuk ke 1001 saya mulai mengumpulkan keuntungan.

Malam tadi, ketika menunggu pelemnya mulai. Otak saya mulai berpikir. Berapa ya yang dibutuhkan untuk menyewa satu lantai di Grand Indonesia? Berapa ya yang dibutuhkan untuk operasional blitz itu selama 1 bulan? Lalu, berapa ya jumlah penonton blitz per bulan? Pada penonton keberapa mereka akan BEP? Apakah sekarang mereka sudah BEP? Sudah 2 kali saya nonton pelem malem, tidak di wiken, dan tidak untuk pelem yang lagi heboh hebohnya ditonton orang. Waktu itu saya nonton Love in the Time of Cholera. Penontonnya Cuma 10 orang. Baris yang saya duduki saya kuasai sendiri. Lalu malam tadi. Ketika kami beli tiketnya, kamilah orang pertama. Semua seat masih kosong. Pas pelem nya maen, ada sekitar 15 orang yang nonton. Apa iya BEP nih Blitz?

Saya lalu berandai-andai. Kalo saya yang punya blitz, ketika memutuskan akan membuka bisnis ini, saya akan menghitung biaya yang diperlukan. Maboklah saya. Lalu saya juga harus menghitung berapa kira kira jumlah penonton yang bisa saya gaet. Makin maboklah saya. Lalu saya perlu memasang harga yang gak-mahal-mahal-amat biar orang masih mau beli, tapi juga gak-murah-murah-amat biar saya masih bisa nafas dan gak langsung bangkrut di tahun pertama. Percayalah, pada posisi ini saya pasti sudah modhaarrr. Ndak wes. Ampun. Ndak sanggup saya.

Oh iya, jadi inget. The-so-called skripsi saya dulu menghitung harga jual inkubator yang dibuat teman-teman saya di jurusan Teknik Mesin, supaya gak kemahalan dan membuat orang males beli, tapi juga gak kemurahan sehingga pembuatnya nombok. Oya, waktu ada faktor apa yang saya lupa istilahnya. Intinya inkubator itu (menurut saya) kualitas nya susah dibuktikan secara langsung. Mau tanya-tanya juga gak segampang nanya kualitas sabun cuci kan. Jadi harga yang dipatok produsen jadi faktor yang mempengaruhi penilaian dia akan kualitas produk. Kalo terlalu murah calon pembeli bisa mengira ini-murah-banget-pasti-kualitasnya-gak-bagus. Ribet ya. Enggak kok, hehehe.

*jadi pikir-pikir lagi untuk mengeksekusi niat buka usaha sendiri*
**apa perlu buka-buka lagi buku ekonomi ya?**

2 Responses so far.

  1. yang ini ni ....

    anak teknik industri banget ... :D

  2. Erma says:

    yoi banget, hehehe

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -