20 Mei 2008

Ada sebuah keluarga. Ayah, ibu, dan 3 anak. Dua anak tertua sudah berpenghasilan. Mereka semua masih tinggal serumah. Si sulung biasanya membantu menyumbang untuk pengeluaran keluarga.

Suatu hari, si ibu berkata kepada seorang tetangga, "bisa gak saya pinjam xxx ribu rupiah untuk bayar listrik? Si sulung kehabisan uang. Tanggal xx pas si sulung gajian, langsung saya ganti". Si tetangga memberikan.

Tanggal xx berlalu. Si ayah mendatangi si tetangga, "suami tante anu sakit, dia gak punya uang untuk rumah sakit. Uang yang untuk bayar kita pinjamkan ke dia dulu". Si tetangga maklum.

Sekitar 3 minggu dari tanggal xx, adik si tetangga (yang tidak tau urusan pinjam meminjam diatas) bercerita. "Listrik keluarga itu hampir diputus tadi ama PLN. Belum bayar katanya", ujar si adik. "Berapa bulan nunggaknya?" tanya si kakak. "Gak tau deh, tapi tadi udah mau dicabut tuh, berarti uda lama kan". Well, he got the point.

Misterinya adalah:
uang xxx ribu rupiah itu obviously bukan untuk bayar listrik *PLN datang kan*
fakta sakitnya si tante tidak bisa dibuktikan *gak ada energi untuk membuktikan*
lalu, buat apa uang itu?

Bagaimana, analisa anda?

3 Responses so far.

  1. Begitu banyak kebutuhan, begitu banyak kekurangan..
    Mungkin awalnya niat keluarga itu meminjam duit benar2 untuk membayar listrik. Tapi sesampai di rumah terilhat: beras habis, gas habis, pilih lampu terang atau makan??

    Ketika jatuh tempo otak berputar. hutang kan harus kreatif (atau demi gengsi). lalu lahirlah *ide suami si tante yang sakit. Sayangnya kreatifitas itu hanya untuk menutupi alibi demi alibi.

    Udah tagih aja Errrr... masukin red-list juga. hehe

    (gimana analisaku?)

  2. Erma says:

    analisa ditampung

  3. Trias says:

    Wanita1 : Ingetin gw y, kalo sekali waktu gw seperti ibu itu.
    Wanita2 : Okay....

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -