23 Oktober 2008

Tiba tiba diminta berangkat ke Jogja. Tanpa ada tanggal kembali. Bantu-bantu untuk hal yang belum pasti jadwalnya. Saya benci. Saya menggerutu.

Lalu saya lihat betapa saya diperlukan. Betapa kehadiran saya membantu. Dan saya pun terhibur. Rencana keliling-keliling disusun. Menjelajahi Jogjakarta adalah agendanya.

Lalu saya mulai lelah mencari tempat menginap. Saya ingin tinggal lama di satu tempat. Mungkin memang dasarnya saya bukan petualang. Saya pun tinggal agak lama di tempat yang saya anggap nyaman.

Lalu saya minta, setengah berharap, untuk pulang di awal minggu. Dan mereka bilang jangan dulu. Kami masih butuh kamu. Sampai kapan? tanya saya. Saya belum tahu, katanya.

Saya ingin mencela kekurang terjadwalnya kegiatan disini. Saya menghabiskan hampir seminggu mengerjakan pekerjaan biasa-biasa saja. Yang bisa saya kerjakan dari Jakarta. Pertemuan yang dijadwalkan terjadi Selasa lalu diundur menjadi Rabu, lalu menjadi Kamis. Dan ternyata hingga saat ini belum ada konfirmasi. Dalam hati, saya pesimis kalo pertemuan ini akan terjadi hari ini. Saya bahkan pesimis kalau perencanaan evakuasi yang dijadwalkan terjadi minggu ini, akan terjadi minggu depan. Bahkan setelah subsidi yang dijanjikan tiba di awal minggu depan. Hey, ini kelompok kerja yang kita sedang bicarakan. Orang-orang yang mengatakan bahwa peta sudah siap, namun beralasan masih di komputter si anu, ketika kita ingin melihatnya. Ah, asli, saya pesimis.

Lalu sang pihak yang ingin saya bantu berkata, setidaknya sampai Jumat. Minggu depan. Saya masih membutuhkanmu. OK. Saya bilang. Saya akan disini sampai Jumat. Lalu saya akan pulang jumat sore. Meski ada kemungkinan saya akan kembali pada Selasa kemudiannya. Biar. Saya bahkan tidak yakin acara yang akan dilaksanakan Selasa, masih on schedule.

Maafkan saya yang tidak percaya.
Hanya saja, saya menemukan banyak sekali penundaan disini.
Hingga saya jadi antipati.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -