31 Desember 2008

Episode ini tentang keluarga.

Harusnya tidak banyak yang diceritakan. Karena yang saya consider keluarga hanyalah adek semata-wayang saya. Tapi....

Pertengahan tahun ini, adek saya menunjukkan pertanda baik. Menangkap peluang untuk menghasilkan uang dan meng
approach saya untuk mendapatkan dukungan. Saya senang. Sudah sewajarnya dia mulai memikirkan itu diusianya yang sudah 23 tahun. Dan saya senang bisa mendukungnya.

Sampai kejadian akhir tahun ini.

Maafkanlah saya yang masih belum mampu membaginya. Biar ini saya simpan sendiri.

Kejadian ini membuat saya terus berfikir, hingga saat ini. Apa pelajaran yang bisa saya petik, agar diujung hari, tidak hanya luka yang saya bawa. Tidak hanya kecewa yang tersisa. Saya percaya bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya. Saya juga percaya sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang melampaui kemampuan manusia untuk menghadapinya. Sungguh saya percaya. Tapi kadang hati, pikiran, dan keimanan yang masih dangkal ini masih tak mampu meyakinkan diri.

Berulang kali saya merasa tidak menjadi kakak yang baik untuknya. I should have done better. Dilema antara mendidik dia jadi mandiri dan tidak membiarkannya jatuh tersungkur sendirian malah jadi penyiksaan mental buat saya. Saya tidak tau mana yang harus saya pilih.

Bahkan dengan pengalaman hidup 23 tahun menjadi kakak. Dan 5 tahun lebih jadi satu-satunya keluarga yang ada, tidak membuat saya lebih ahli dalam hal ini.

Sungguh, saya masih harus belajar banyak.
Dan seringkali, pada saat-saat terberat dalam hiduplah, kita bisa belajar banyak.

2 Responses so far.

  1. iyra says:

    tabahlah sayang....

  2. Erma says:

    thank you dear... *hugz*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -