09 Januari 2009

Pejamkanlah
Rebahkanlah dirimu
Lepaskanlah segala yang tlah kau lewati
Dan tiba-tiba saya merasa lelah.

Praktis sejak 5 tahun lalu, saya berusaha sekuat tenaga menunjukkan pada dunia, bahwa saya bisa berdiri sendiri. Diatas dua kaki sendiri. Tidak mengemis perhatian, kasih sayang, dan dukungan finansial kepada mereka yang darahnya sealiran dengan saya. Yang terhubung dengan saya melalui garis keturunan.

Duduklah dengan manis kalian semua. Dari jauh disana. Tak usah rentangkan tangan. Karena saya tak akan jatuh tersungkur dan meminta kalian membopong saya. Angkuh. Angkuh dan keras kepala adalah kesan yang nyata terpancar dari sikap saya kala itu.

Sudah sejak lama saya memanggul rasa tak terkalahkan. Jangankan yang jauh dan jarang bertemu, orang tua saya pun saya lawan jika keinginan mereka bertentangan dengan saya. Saya akan menyerah kalah ketika tahu tidak ada pilihan lain dan tidak ada daya upaya yang bisa saya lakukan untuk mewujudkannya. Tentu dengan membawa kekecewaan sebesar gajah.

Saya menolak masuk ke tempat-kuliah-gratis-abis-lulus-hampir-pasti-jadi-PNS-di-tempat-basah, dan milih masuk kampus kuning, mengais keringanan SPP setiap semester karena 1,5 juta rupiah setiap semester adalah harga yang sangaaaat jauh dari jangkauan ibu saya yang hanya menerima 500rb perbulan dari nilai pensiun bapak. Menenteng bekal makanan dan botol minuman setiap harinya karena 100rb perbulan hanya bisa menutupi ongkos perjalanan dari dan ke depok setiap harinya.

Meski toh akhirnya saya menyerah menerima fakta bahwa saya sampai pada masa dimana nilai indah mempesona bukan lagi menjadi milik saya. 1001 alasan bisa saya kasih disini sebagai pembelaan diri, toh saya memilih untuk menjawab “itulah hasil terbaik yang bisa saya peroleh, waktu itu”. Kalau saya bisa memutar waktu, tentu saya bisa menemukan 1001 cara untuk melakukannya lebih baik lagi.

Saya menolak anjuran hampir seluruh dunia untuk mendaftar PNS atau setidaknya BUMN yang menjanjikan kesejahteraan dan pekerjaan sepanjang usia. Dan bertahan berpindah dari kantor satu ke kantor lainnya. Dari satu kontrak ke kontrak lainnya. Yet, I survived.

Sampai tadi malam.

Saya tiba-tiba merasa lelah.

Sekali-kali, saya ingin merebahkan diri, berkata “saya lelah”, dan mendengar seseorang berkata, “sini, bagilah bebanmu padaku”.
Sekali-kali saya ingin mendengar seseorang mengingatkan, “tak perlu kau taklukkan dunia sendiri, saya disini bersamamu”.
Sesekali, saya ingin mendengar seseorang berkata, “Tuhan tidak menjauhkanmu dari semua yang kau sayangi, IA mengirimkanku untukmu”.
Sesekali, saya ingin mendengar seseorang berkata, “kamu akan baik-baik saja, karena aku ada disini bersamamu”, ketika saya melihat dunia saya runtuh di depan mata saya.

Those sweet words.

Saya lelah.
Lelah berusaha menunjukkan bahwa saya baik-baik saja.
Lelah berusaha menaklukkan dunia.
Lelah membangun pagar besi untuk berusaha membuat kaki ini tetap tegak berdiri.

Saya lelah.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -