10 Maret 2009

*Dengan asas reportase lengkap dan membantu orang2 yang kelak membutuhkan informasinya, keterangan diberikan selengkap mungkin. Dijamin berasa seperti ikut pergi bareng kita deh. Hehehe*

Sesuai rencana, kunjungan kami ke Solo make Air Asia ke Jogja. Berangkat jam 6 pagi dari Cengkareng. Fakta baru yang saya temui adalah: berangkat gelap2 gini ke bandara hanya membutuhkan waktu 30 menit, pintu masuk terminal 1C rame me me pagi itu, dan demikian pula adanya counter check in nya Air Asia. Agak culture shock sayanya, biasanya diutus kantor pagi buta ke bandara naik Garuda, gak ada antri antinya acan. Air Asia nya berangkat on time (dan jadilah kami berdua berlari-lari mengejar si pesawat sambil ditakutin, "cepetan mbak, ntar ditinggal lho" oleh si mas Air Asia), jadi jam 7 sudah kelaparan di Adi Sucipto. Sarapan KFC duluuu.

Habis sarapan, sesuai petunjuk Tyas, kami naik bis Solo-Jogja dari pertigaan bandara. 19 ribu saja berdua. Bis nya gak pake AC, tp karena pagi itu kosong, jadi gak pengap-pengap banget. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam, disertai klakson tiada henti dari supir bus setiap kali pengemudi (motor, mobil, apapun) di depannya yang tidak melaju secepat yang dia inginkan. Sampailah di terminal bus Tirtonadi, Solo. Kembali atas petunjuk Tyas, kami naik becak ke hotel. Meski si Tyas bilang "jangan lebih dari 7 ribu" untuk ongkos becaknya, kami toh menyerah pada 10 ribu. Semangat juang menawar kami sudah agak jinak rasanya. Sudah dipesankan di Hotel Mawar Indria, alamat persis nya lupa, tapi lokasinya di depan stasiun Solo Balapan, jalan ke kanan 10-20 langkah. Rate hotelnya 175.ooo permalam. Ada tivi (14') dan kamar mandi dalam (air panas). Kamarnya luas sih, tp seperti gak terawat gitu. Jadi keliatannya usang. Dan kamar kami jendelanya gak bisa ngunci. Padahal hotel ini (dan kamar kami) persis di pinggir jalan raya Monginsidi itu. Kan seyeeeeemmmmm. Udah niat pindah hotel sih, tp kok ya males nyarinya. Jadilah si Rini mengikat ikat kursi ke jendela *
informasi ini baru berani di publish setelah kami check out dari sang hotel, just in case si calon malingnya demen blogwalking, hehehe*.

Makan siang hari pertama, kami cuma jalan sedikit dari hotel, ada sate buntel Pak Kasdi. Satu buntel, Tongseng kambing, nasi 2, dan teh manis panas 2, habisnya 30 ribu. Sate buntelnya enak, tongseng nya juga enak. Meski menurut saya porsi nya agak kecil. Disinilah kami jatuh cinta pada tegukan pertama kepada sang teh manis. Enak tehnya.



Dengan transportasi andalan, becak maksudnya, kami menuju Pasar Klewer. Dan cuma muter lewat aja. Penuh sesak dan sumpek sekali rasa pasar ini. Apalagi sebelumnya kami sudah diberi informasi tambahan oleh ibu penjual sate tadi, kalau belanja mending di PGS (Pusat Grosir Solo) di dekat Klewer itu. Lebih nyaman dan harga juga gak beda jauh amat. Maka setelah solat ashar di Masjid Agung Surakarta dekat Klewer situ, kami pun ke PGS. PGS ini kayak Tanah Abang kalo gak lagi rame. Lengang. Si Rini aja belanja ini itu disana. Saya dengan suksesnya hanya jadi guide. Nafsu duniawi berhasil ditahan, hahahaha. Balik dari Klewer, kami pengen nyobain naik angkot, apa daya gerimis sudah menyapa. Jadilah kembali menyerah pada becak.

Makan malam, si Rini berniat makan nasi liwet, saya pengen nyoba susu jahe. Setelah menyempatkan diri beli srikaya di depan warung Pak Kasdi tadi, kami berniat ke Galibu saja. Daerah di depan PGS ini dipenuhi dengan tenda-tenda penjual makanan, demikian hasil survey kami siangnya. Andai PGS nya masih buka ampe malam, mungkin kami akan belanja lagi ke PGS, kekekek. Di jalan menuju Galibu inilah kami melewati deretan penjual nasi liwet. Si Rini langsung sigap bilang, "berhenti disini dulu yuk", yang diiyakan oleh si bapak pengayuh becak. Ternyata ini adalah daerah Keprabon, tempat liwet yang kami cari. Dengan mudahnya kami menemukan Nasi Liwet bu Wongso Lemu, yang katanya juga digemari pak Harto ini. Makan nasi liwet dan tentunya teh manis hangat berdua, habisnya (lagi-lagi) 3o ribu rupiah. Saya mungkin kurang cocok ama liwet ya, karena saya merasa santannya terlalu terasa sehingga jadi cepet kenyang. Si Rini kayaknya oke oke aja tuh.

Dengan keadaan masih kenyang oleh nasi liwet, kami toh nekat minum susu jahe yang dijual tepat di depan bu Wongso tadi. Tidak menyesal deh. Soalnya enak banget rasanya. Beneran enak sampai-sampai perut yang tadi mengaku kenyang ini masih mampu menghabiskan segelas besar susu jahe hangat *eh ini enak apa kaminya aja ya yang rakus*. Segelasnya cuma 3000 rupiah loh. Jadilah kami jatuh cinta lagi, kali ini kepada sang susu jahe.

Sudah kenyang langsung pulang? Ah enggak dong. Masih sore gini *padahal udah jam 9*. Biasanya di kota halaman kan baru keluar dari kantor nih. Si bapak becak pun diminta membawa kami ke Galibu. Just in case pengen jajan. Enggak deng. Disana kami hanya memastikan bahwa beneran jualan makanan disini. Perut uda kenyang gak bisa beli apa-apa. Sudahlah akhirnya kami pulang dengan gembira. Dan tentunya membuat janji untuk beli teh lagi dan susu jahe lagi esok hari.

Sampai jumpa di petualangan hari ke 2 ya.

*foto-foto lainnya di multiply ya*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -