13 Maret 2009

Dengan asas petualang sejati, kamipun memutuskan untuk mencoba menempuh jalur kereta api dari Solo ke Jogja. Prambanan Eskpress menjadi pilihannya. Baca cerita-ceritanya, maka kami membayangkan kereta ini bak Pakuan Bogor-Jakarta itu. BerAC, berhenti di stasiun tertentu, dan gak penuh sesak. Berangkat pagi karena belum punya hotel di Jogja. Kami memutuskan untuk naik yang jam 8.45 Mau lihat jadwal lengkapnya? Intip blog ini aja. Tiketnya 7000 seorang. Dan harapan naik kereta yang kosong pupus seiring dengan terlihatnya kumpulan orang-orang menunggu Prameks di stasiun Solo Balapan. Tanpa perlawanan, kami pun naik kereta yang datang tepat waktu itu. Oh la la... penuh sekali. Mana kami bawa travel bag pula. What will be will be dah.

Satu jam berdiri penuh sesak, akhirnya kami sampai di stasiun Tugu, Jogja. Di stasiun yang walking distance dari Malioboro ini pula sebagian besar penumpang turun. Setelah berdiskusi sebentar utuk menentukan strategi pencarian hotel, akhirnya diputuskan lah bahwa si Rini akan ditinggal di Mall Malioboro beserta tas-tas kami sementara saya sang srikandi pendatang dari Jakarta ini akan berkeliling mencari hotel kosong murah meriah tapi bukan tempat esek-esek. Dagen penuh, Pajeksan penuh, Sosrowijayan penuh, dan akhirnya menyerah pada Sosrokusuman. Itu nama-nama jalan di samping Malioboro ya btw. Misi mencari hotel murah meriah tapi bukan 'begituan' itulah yang agak bikin pusing. Pilihan saya -yang akhirnya disetujui juga oleh Rini- jatuh pada Hotel Puspo Nugroho. Tampilannya kayak rumah gitu. Rumah kos-kosan lebih tepatnya. Di samping nya ada toko yang jual baju dan handycraft. Harga kamarnya 80.000 semalam. Itu kamar dengan kamar mandi di dalam, kipas angin. Tanpa TV. Back up plan pun dibuat untuk membeli dvd bajakan sebagai penghibur hati.

Setelah istirahat sebentar sambil mandi dan tidur-tiduran di kamar yang ukuran dan tampilannya beneran kayak kamar kos ini *kata saya yang gak pernah kos ini* akhirnya TKP pertama yang akan disatroni di Jogja ini adalah............... Mirota dan Pasar Beringharjo. Si Rini pun (lagi-lagi) beli ini itu di Pasar Beringharjo ini. Buat saya ini sudah yang kesekian kali ke Beringharjo. Jadi sudah melewati fase kalap melihat baju batik nan lucu. Baju yang lengan panjang harganya 35.000, kalo lengan pendek 25.000. Masuk ke Mirota pun jadi anti klimaks. Toko yang hampir selalu dijadikan rekomendasi tempat pembelian batik di Jogja ini penuh pas long weekend kemaren. Pengaturan peletakan baju nya juga agak kurang jelas. Jadi proses pencarian baju yang cocok sudah mirip sekali dengan proses pencarian harta karun. Gak banyak ba bi bu, kami langsung menepi ke arah kain batik (yang emang posisinya di pinggir). Dan akhirnya end-up asyik milih-milih sajadah batik. Kami pun pulang membawa 2 sajadah. Masing-masing. Hihihi. Benar-benar insyaf tampaknya kami.

Rencana makan malam kami adalah gudeg Tugu lalu dilanjutkan dengan Djendelo Cafe. Bermodalkan keterangan hasil browsing yang menyatakan bahwa gudeg Tugu ini terletak di perempatan Tugu, kami jalan kaki kesana. Owalah perjalanannya aja uda bikin laper. Dan keringetan. Sesampainya di perempatan kami celingak-celinguk mencari pusat keramaian. Jadi untuk yang susah nemuinnya nih saya kasih arahnya. Kalau kalian datang dari arah Malioboro, sampai di perempatan Tugu, ambil arah yang ke kiri (barat). Paling cuma 20 langkah dari lampu merah itu di sebelah kanan jalan, di emperan toko, dekat klinik bersalin, si ibu penjual sudah asyik duduk di trotoar. Comot comot komponen pembentuk gudeg dengan tangan. Melawan semua ajaran ibu-ibu bahwa makanan tidak boleh kena tangan supaya gak gampang basi. Ini ibu asik aja nyomot gudeg, bahkan tahu dan ayamnya juga diambil pake tangan. Olala... Karena saya minta porsi nya dikit, jadi pas gitu. Gak terlalu bikin blenger. Dan sepertinya si gudeg juga gak manis-manis amat. Makan berdua habis nya 20 ribu atau 30 ribu ya, lupa saya *nanti saya benerin kalo uda sinkronisasi ama Rini*.

Abis makan gudeg, kami melangkah ke shelter transjogja. Mau ke Djendelo di Gejayan sana. Jam baru menunjukkan pukul 9.15 Secara teoritis, masih akan ada bis transjogja yang akan lewat. Namun setelah 30 menit menanti kami jadi mulai ragu. Tau-tau muncullah ini bis yang disambut dengan wajah sumringah oleh calon penumpang di sebelah saya. Bukan Rini ya. Setelah perbincagan singkat antara si mbak (pegawai transjogja) di shelter dengan mbak di bis, akhirnya kami mendapatkan berita duka. Ini bis mau langsung ke pool. Tidak mengangkut penumpang lagi. Dua bis terdahulu yang seharusnya lewat shelter ini ternyata membelot dan langsung pulang ke pool tanpa koordinasi. Huh. Kerja kok sa'ena'e dewe begini.

Karena waktu sudah malam. Perut sudang kenyang. Mata sudah mengantuk. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Rasanya tak perlu dvd penghibur. Hampir bisa dipastikan bahwa kami akan langsung tertidur. Owh.. kan masih ditambah perjalanan kaki dari tugu ke hotel. Lumayan membakar kalori, hehehe

*foto-foto di mutiply aja ya*

7 Responses so far.

  1. Winy says:

    beli coklat monggo gak ma?

  2. Erma says:

    apa tuh coklat monggo win?

  3. Winy says:

    coklat yang ada tulisannya monggo :D
    merk ma...merk...

  4. Erma says:

    ah tidak tampak dalam penglihatan kami tuh win

  5. Winy says:

    disini ada liputannya http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/05/coklat-jogja-coklat-monggo.html/comment-page-2#comment-7811
    monggo...

  6. Erma says:

    ah... telat bilangnya Win.. padahal kami ke Mirota juga kemaren.
    Next time deh

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -