08 Juni 2009

Heboh kasus bu Prita membawa reaksi yang hampir seragam. Well, at least pada orang-orang sekitar saya. Reaksi yang muncul adalah: TAKUT. Penjara memang masih menakutkan bagi sebagian besar orang. Takut masuk penjara, jadi takut nulis, jadi takut berkeluh kesah, jadi takut berpendapat.

Saya gak ngerti (dan masih belum berminat untuk mencoba mengerti) masalah hukum, undang-undang, dan peradilan. Jadi saya gak minat nulis bagian itu. Tapi bagian berani bicara. Mmm... kalo ngeblog jadinya berani menulis. Berani bertanya. Berani memberi tahu.

saya ingat dahulu saya penasaran kenapa jco gak mau ngasih saya 2 dus ukuran setengah lusin ketika saya membeli 1 lusin donat. Sebenarnya saya uda mengira-ira sih alasannya. Saya kan gak bodoh. Tapi saya pengen dapat konfirmasi, ya bahwa saya gak bodoh itu. Bahwa apa yang saya tebak benar adanya. Kalay jawaban yang diberikan ternyata berbeda, kan kemungkinannya hanya ada 2: saya yang belum pintar-pintar amat, atau mereka yang belum pintar-pintar amat. No hurt lah. Toh saya juga tetep doyan makan donat mereka.

Kalo surat ke Aksara, lebih bertujuan untuk mengingatkan manajemen pada komitmen mereka. Beneran. Toh apapun yang mereka jawab, saya tetep kesana kalo mau beli buku tertentu.

Nah, yang terbaru adalah buat tempat olahraga itu *cuma bisa dibuka oleh network saya*. Saya juga tau bahwa ngomel-ngomel demi (beberapa) tas gak worthed sama sekali. Saya join disana karena pengen olah raga, bukan karena pengen tas. Saya ngasih info ke temen yang bertanya, karena mereka teman saya, bukan karena pengen tas juga. Tapi, kan mereka yang punya program promo itu, yang tidak lupa disertakan di setiap newsletternya. Saya cuma mau tau, apakah pemahaman saya pada program mereka sama dengan pemahaman mereka sendiri. Dan ketika saya dapat jawaban (yang masih terasa mengganjal), saya tanya sama sumber lainnya. Yang relevan *eh.. manajer, sumber yang relevan kan ya*

Lagian, saya nulis ke mereka dulu, dan nunggu jawaban, sebelum akhirnya masang di blog. Jawaban mereka juga saya pasang di blog. Adil kan.

Kalo saya yang punya perusahaan, I would loooooove to know what my customer thinks about my product. The good and the bad. Terdengar terlalu idealis ya? Enggak ah. Kalo saya yang ilmunya pas-pasan begini aja bisa mikir begini, apalagi mereka yang berilmu, lebih berpengalaman kan. Sayangnya, sebagian besar orang baru 'bicara' ketika ada yang salah. Kalau benar, jarang ada yang mau 'bicara'. Ini menjadikan kesan bahwa opini, surat pembaca, melulu negatif isinya. Padahal harusnya gak begitu.

Jadi, bagi perusahaan yang pernah saya 'surati', bersyukurlah kalian. Karena dari surat saya, anda dapat gambaran apa yang konsumen anda rasakan. Gak semua konsumen anda bersedia melakukan keterangan ini. Saya gak segan mengisi kertas saran kalau memang saya rasa ada yang perlu disarankan. Dan gak semua konsumen bersedia melakukan hal ini.

Dan saya berniat untuk terus melakukan hal ini. Jika diperlukan.

2 Responses so far.

  1. ermaaaa ....

    gw ga bisa baca complain loe yang ke tempat olah raga ....

    ermaaa ... mauu bacaaaa ...

    *gile gw addict juga yak ama tulisan loe :p*

  2. Erma says:

    hahaha... network only :P

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -