13 Juni 2009

Saya dan pacar sedang keranjingan House. Kami nonton season 1-5 berurutan. Dokter menyebalkan yang pintar dan (nyaris) selalu benar ini, benar-benar bikin kecanduan. Udah gitu, biar berangosan *baca: males cukuran*, dia tetap sedap dipandang mata (saya). Slurrpppp... Hahahaha

Eniwe, episode favorit saya adalah ketika House dan Cuddy ada di pesawat, dan ada 1 orang yang jatuh sakit. Penumpang lainnya khawatir ketularan. Udah gitu, penerbangannya masih lama pula. Sebagai pelengkap penderitaan, si Cuddy juga (diduga ketularan) sakit. Hampir semua orang yakin kalo penyakit yang diderita orang pertama ini menular. Si House lalu ngomong di depan, dia bilang penyakit orang di depan tadi, menular. Siapa aja yang merasakan gak enak di perutnya, dan tangan kiri yang bergetar, berarti uda ketularan. Serentak orang ngeliat tangan kirinya. Sebagian besar memang gemetar. Makin paniklah mereka.

Dan setelah itu, dengan santainya House bilang bahwa dia bohong. Penyakit orang di depan itu gak menular. Gejala yang barusan muncul (perut gak enak dan tangan bergetar) hanyalah sugesti yang dimunculkan oleh otak masing-masing setelah mendengar perkataan House. Jadi pas House bilang 'tangan bergetar', maka orang pada mikirin 'tangan bergetar' dan berusaha menemukan apakah 'tangannya memang bergetar'. Otak orang tersebut menerima signal tersebut sebagai suruhan untuk membuat tangan bergetar. Dan memang akhirnya itu tangan bergetar.

Jadi intinya adalah, pikiran apa yang kita masukin ke dalam otak kita.

Saya sedang didatangi sakit lutut saat itu. Lelah membuktikan bahwa ini sakit otot biasa karena olahraga, saya akhirnya meyakinkan diri saya saja, bahwa ini bukan apa-apa. Bahwa ini gak sakit. Bahwa kaki saya, sebentar lagi normal.

Apakah berhasil? Apakah setelah itu kaki saya 'sembuh'?

Tidak saudara-saudara.

Moral story nya adalah : itu cuma berhasil kalau si House beneran yang ngomong, hahahaha.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -