26 Agustus 2009

Sesuai agenda, saya bersama teman-teman akhirnya pergi ke Sikuai. Minggu sore, setelah menempuh perjalanan udara 1,5 jam dari Jakarta, lanjut dengan 40 menit di mobil, plus 1 jam di perahu, Sikuai nampak diujung mata.

Pantainya seindah dan sebersih foto-foto yang beredar. Kalau pengen duduk duduk santai di depan kamar, kelihatan pulau di seberang. Rasanya deket gitu. Kalo bisa berenang mungkin ada yang iseng berenang kesana. Menurut teman saya yang sudah berkano kesana, pulau seberang itu kosong (tapi ajaibnya, banyak terlihat botol minuman plastik di pantainya). Lalu tengok kanan kiri, yang kelihatan laut, laut, laut, dan laut.

Tidak berapa lama, kami masuk dapat kunci. Bak anak kota sejati, kami berharap pria-pria bercelana pendek itu akan membawa dan mengantarkan bagasi kami yang segudang itu ke kamar masing-masing dong. Ternyata tidak. Katanya sih, mereka kekurangan tenaga. Orangnya sedikit sedangkan maunya dapat duit banyak kamarnya banyak. Jadilah kami menggelandang koper-koper itu ke kamar. Yang....ternyata lumayan jauh dari dermaga itu. Sekitar 300meter deh. Lintasannya pun bersemen. Duh..duh..duh.. semoga saya gak perlu 'mengandangkan' si koper setibanya di Jakarta.

Masuk kamar. Luas dan fasilitasnya (tampak) standar seperti kamar hotel lainnya. Tempat tidur (twin, kalo di kamar saya), kamar mandi, lemari, tivi, AC. Tapi, seperti manusia yang tidak sempurna, kamarnya pun punya ketidaksempurnaan *iih..maksa*. TV nya cuma mengakomodir 6 channel. Lima channel lokal, dan 1 tivi kabel. Yang ajaib, kalo kita memilih channel tivi kabel ini, kita tidak bisa mengira-ira apa yang akan muncul di layar. Karena yang muncul akan tergantung dengan pilihan orang-orang yang sedang menonton tivi di lobi Restoran Lumbo-lumbo nya. Kalo disana pengen National Geographic, ya itulah yang ketonton di kita. Kalo disana pengennya sinetron SCTV, ya itu juga yang ketonton di kita. Lucu *sinisme*. Oh ya, meski setiap kamar punya remote TV dan AC, ternyata kombinasi kebermanfaatan masing-masing berbeda. Ada yang remote AC nya gak berfungsi. Ada yang remote TV nya batrenya uda gepeng. Dan silahkan buat kombinasi pilihan keadaan lainnya.

Eh, disini listrik mati ya jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hehehe.. Back to stone age, kalo kata bos saya. Tapi jangan khawatir, air masih nyala kok. Jadi yang mau main basah-basahan di pantai, lalu mau mandi sebelum jam 4, masih bisa.

Takut tsunami?
Pulau ini punya tempat evakuasi. Tempat tinggi yang bisa diakses dari 2 jalanan menanjak. Satu dari belakang restoran Lumbo-lumbo, satu dari belakang kamar 206. Saya dan teman-teman sudah mencoba naik ke tempat aman ini di pagi terakhir di Sikuai. Dan ternyata...cukup melelahkan. Keringat sebesar bakso pun keluar setibanya diatas *
hiperbola*.

Oya, berhubung tempatnya yang terkecil, maka semua kebutuhan pengunjung hanya bisa disupply oleh pengelola hotel. Semua. Tidak ada tukang jualan disini. Walhasil karena kami menginap 2 hari 3 malam disini, kantor kami memesan paket yang mencakup kamar + 3 kali makan + meeting room + 2 kali coffee break. Eh.. tapi jangan bayangkan paket full board yang biasanya ada di hotel-hotel itu ya. Makanannya disini seadanya. Porsinya ngepas. Pas buat orang yang lagi diet. Jadi makannya gak boleh banyak-banyak gitu. Hahaha. Bayangin, kami ber12, dan dikasih buah yang isinya 12 potong semangka, 12 potong melon, dan 12 potong nanas. Jangan bayangin potongan seperti tukang buah itu ya. Ini potongan segitiga itu, yang sekali caplok masuk semua. Lauk pun porsinya demikian adanya. Yang berlimpah cuma nasinya. Itupun, nasi yang pera' Yang kabur-kabur itu. Yang biasa buat nasi goreng itu. 'Keajaiban' berikutnya adalah, kami bertemu soto sebagai hidangan pembuka di semua sesi makan berat kami. Hm..jangan-jangan mereka masak soto sepanci buessarrrr lalu diambil sedikit sedikit untuk kami. Snack untuk coffee break nya pun ajaib. Awalnya yang diajukan ke kantor kami adalah menu yang berisi 2 jenis snack setiap break. Dan salah satunya pasti meliputi keripik (singkong, ubi, talas) atau kacang (goreng, rebus, telor). Setelah nego 2 hari (iya, 2 hari!) akhirnya segala yang kriuk kriuk itu bisa diganti. Dengan bakwan jagung, ubi goreng, dan pisang goreng. Oh lala. Di malam kedua, kami minta diadakan barbeque di pantai. Tau kan...bakar-bakaran itu. Tapi bayangan barbeque dengan menu seafood aneka ragam itu pupus ketika kami melihat di panggangan, tusuk demi tusuk sate. Menurut mereka sih, itu udang, cumi, dan ikan sudah dipotong-potong dan dibakar. Porsinya, lagi-lagi ngepas. 12 X 5 tusuk untuk kelompok kami. Plus jagung bakar. Plus nasi goreng dan mi goreng. Iya, anda gak salah baca. Barbeque kami ditemani oleh nasi goreng dan mi goreng. Ckckckck.. siapapun yang bikin menu di hotel ini bener-bener perlu hidup di dunia nyata.

Walhasil, kami semua jadi tak sabar untuk menanti saat pulang ke kota. Kota Padang. Pulau ini bikin pengunjungnya kurang gizi.


3 Responses so far.

  1. dinsul says:

    erma, gw ketawa-ketiwi sendiri baca postingan loe ...

    gw batal deh untuk minta ikut ...secara juga ga mungkin ...hehehe ...

    mudah2an paling ga bb loe turun 2 kilo ... :p

  2. hahahahahahah *puas banget!*

  3. Erma says:

    @Dina. Ah..abis ini gue posting soal kamar besar yang gue dapatkan di Padang deh :P
    Dan ya, kenapa gue gak kepikiran untuk pergi ke timbangan ya?

    @Ira. Tapi pulaunya tetep indah loohhh. Jadi kalau kesini, gak usah nginep, mending nyewa kapal sendiri aja. Gak jauh kan dari kampung halaman lo Ra *gak jauh dari Hongkong*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -