14 Agustus 2009

Ok. Apa yang terjadi hari ini layak untuk mengesampingkan 'kesibukan' yang berakibat terbengkalainya blog.

Hari ini dibuka dengan kebingungan. Saya tak habis-habisnya mempertanyakan (pada diri sendiri), apakah saya membuat keputusan yang benar? Apakah saya bersikap dengan benar? Apakah selama ini saya menjalani kehidupan saya dengan benar? Dan seribu satu "apakah" lainnya. Sudah sedikiiiiit lagi sampai pada tahap membodoh-bodohi diri sendiri. Duh kenapa dulu gini ya? Kenapa dulu gitu ya? Dan seratus satu "kenapa" lainnya? Akhirnya mata berhasil terpejam ketika menyadari bahwa setidaknya dalam 1 hal, saya merasa sudah melakukan sebisa saya. Setelahnya, akan saya ikhlaskan saja apa jadinya pada Tuhan. Saya tidak tahu bahwa mungkin di waktu yang sama, Lek Anam saya, sekian ratus kilometer di sebelah timur, sedang sendirian..meregang nyawa. Lihat paragraf berikutnya.

Pagi, didatangi kesenduan. Henpon dimasuki dengan sms dari sepupu di kampung halaman. Isinya cuma 1 kalimat. "Mbak Er, Le Anam meninggal". Mau pingsan rasanya. Setahun lalu istrinya meninggalkan kami, meninggalkannya. Adik bapak saya ini akhirnya hidup sendiri. Di rumah besar berlantai dua dan toko didepannya. Beberapa waktu lalu, sepupu saya mengabarkan bahwa beliau jatuh sakit, namun akhirnya sudah baikan. Sakit jantung, kata sepupu saya singkat. Adik bapak saya yang lainnya, yang perempuan, akhirnya menemani kakandanya di rumahnya. Mungkin keadaan Lek Anam yang sudah agak baikan, yang membuat akhirnya buLek saya mau meninggalkannya sendirian. Pulang ke rumah peninggalan kakek nenek saya, yang hanya berjarak 500m dari rumah Lek Anam. Sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya, sendirian. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.

Siang, diantara santap siang yang enaknya nauzubillah di Le Meridien, di tengah-tengah workhsop, saya berbincang dengan seorang teman. Dia bilang, "teman saya ini bilang, ketika dia pertama kali solat, dia merasa dekaaat sekali dengan Tuhan". Mind you, temannya teman ini adalah bule, yang selama ini juga nyaris atheis. Teman saya ini melanjutkan, "waktu dia sedih mengenang neneknya yang sudah meninggal, dia datang ke tempat ibadahnya dan berdoa, namun dia merasa hatinya kosong. Akhirnya dia masuk istiqlal dan berdoa disana, hatinya terasa damai setelahnya". Subhanallah... Saya jadi mikir sendiri, sudah berapa ratus solat yang sudah saya lakukan, apakah diantaranya saya pernah merasa dekat dengan Tuhan saya? Sudah berapa kali saya berdoa, apakah diantaranya saya pernah mendapati hati saya tidak kosong lagi? Duh...

Malam ini, saya memutuskan untuk berdiam sedikit lebih lama di tempat ini. Menikmati kesendirian. Sungguh bukan kesendirian yang saya takutkan. Tapi 'merasa sendiri' lah yang sangat menyiksa.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -