01 Oktober 2009

Hanya dalam tempo 2 bulan saja, saya ditemui oleh 3 gempa besar. Subhanallah.

16 Agustus 2009.
Di tengah-tengah laut ketika mau mencapai Pulau Sikuai, teman sebelah saya menunjukkan handphonenya. Ada gempa 6,9 SR di Mentawai. Dekaat sekali dengan tempat dimana kami sedang berada. Sms yang tidak diakhiri dengan kalimat pamungkas "Berpotensi Tsunami" membuat kami setengah tenang, setengah bingung. Tenang karena kami percaya BMKG knows best, bingung karena kami pikir dengan parameter yang ada, harusnya berpotensi tsunami. Anyway, tim kami akhirnya mendiskusikan hal ini malamnya, ketika sudah sampai di Pulau. Getarannya masih terasa beberapa kali, meski tergolong kecil. Hati saya deg-degan juga. Pulau kecil ini....bisa habis disapu tsunami, kalau tsunami nya beneran terjadi. Saya belum tau musti lari kemana. Arahnya dimana, jalurnya bagaimana.

It was agreed then bahwa malam ini kami harus tidur dengan handphone dalam posisi on, bukan silent. Siapa yang merasa getaran besar, harus keluar dari kamar. Siapa yang dapat sms dari BMKG tentang potensi tsunami, harus keluar kamar dan membangunkan seluruh anggota tim (yang kamarnya berdampingan) untuk kemudian lari ke atas, ke tempat evakuasinya. Ajaibnya, saya gak panik sama sekali. Saya tau saya sedang bersama dengan segelintir orang yang tahu persis what to do. Meski begitu, saya toh tidur dengan celana panjang dan kaos panjang malam itu. Tas sudah saya taruh di sebelah tempat tidur, berisi dompet, senter, handphone, pakaian dalam, dan cemilan. Di sebelahnya, bergo saya. Kalau toh saya harus lari keluar, saya gak mau gerudukan nyari barang atau malah repot sendiri ganti baju. Sekitar jam 3an saya ngerasa getaran. Saya bengong dulu sebentar, berusaha mikir apakah ini lebih besar daripada yang kami rasa di ruangan meeting tadi. Saya cek hanphone, gak ada yang nelp/sms. Saya intip jendela, gak ada teman yang panggil-panggil. Saya akhirnya kembali tidur. Alhamdulillah, evakuasi tidak diperlukan.

2 September 2009.
Kami baru saja selesai rapat di BPPT lantai 23. Saya sedang menanti seorang teman yang masih mengobrol di dalam ruangan. Kami berencana kembali ke kantor. Dan lalu kami pun mulai bergoyang. Kami saling berpandangan, dan baru sadar ketika ada yang bilang "gempa ya?!". Orang-orang disekitar saya langsung berpencaran. Ada yang minggat ke tangga darurat, ada yang masuk ke ruangan. Saya kemana? Saya bersandar aja dulu di dinding. Toh saya liat diatas, gak ada barang-barang yang mungkin runtuh (seperti lampu gantung misalnya), di dinding juga gak ada yang mungkin jatuh (seperti lukisan misalnya). Sambil baca al fatihah *
mau baca ayat kursi gak apal*. Begitu goyangannya berkurang, saya jalan menuju tangga darurat. Untung saya sudah nenteng tas, jadi gak repot mikirin harta benda. Karena ingat bahwa instruksi keselamatan standarnya adalah "mulai keluar lewat tangga darurat ketika getaran sudah berhenti", saya melanjutkan sesi bersandar di dinding dekat lift. Akhirnya, ketika sudah tidak terasa getarannya, saya melangkahkan kaki ke ruangan rapat. Niatnya mau ngasih tau ke teman bahwa saya akan turun, daripada dia khawatir nyariin saya. Mau sms juga biasanya jaringan telpon rusak kan. Di dalam ruangan orang-orang masih pada jongkok di pinggir meja dan kursi. Si teman kayaknya gak ngeh waktu saya bilang saya mau turun, ya uda saya turun aja sendiri.

Saya menyusuri tangga darurat dan ketemu orang-orang lainnya tanpa ada kepanikan berarti. Sambil turun saya toh juga mikir, "duh...yang ngebangun gedung ini dulu pinter gak ya? korupsi gak ya? fondasinya kuat gak ya? roboh gak ya sekarang?". Saya agak tenang karena mikir, sarangnya para teknisi (teknologi) pasti gak sembarangan lah gedungnya. Hati ini pun tenang. Turun tangga agak kelelahan juga. Setelah sampai bawah, saya sms ke adek dan pacar. Takutnya mereka khawatir, karena tahunya kan saya ada di lt.46. Abis itu saya telpon temen-temen yang sedang di kantor, membayangkan kelelahan mereka menuruni 46 lantai lewat tangga darurat. Alhamdulillah saya dapat diskon 50% hari itu. Hati ini agak deg-degan karena teman saya nunjukkin sms BMKG yang bilang ini berpotensi tsunami. Duh Tuhan...jangan kasih kami tsunami destruktif lagi ya...please..., doa saya dalam hati. Sambil ketar-ketir menanti 'golden time' 30 menit itu. Toh akhirnya saya pulang. Minggu depannya saya dapat kabar bahwa tsunami nya beneran terjadi, tapi hanya sekian centimeter. Gak destruktif.

30 September 2009.
Sudah jam 5 lewat ketika sang bos menelpon, mengabarkan bahwa gempa 7.6 SR melanda Padang. Rekan kami yang di Padang gak bisa dihubungi. Langsunglah kami di kantor sibuk menelponin siapapun yang kami kenal di Padang. Dan gak ada yang bisa dihubungi. Saya kirim sms buat jaga-jaga. Pengen lihat kapan nomor mereka aktif. Gak ada yang delivered. Saya buka detiknews.com belum ada berita. Di facebook baru ada 1 orang rekan yang update status berisi sms info gempa ini. Khawatir. Kantor saya menyuruh penghuninya pulang saja kalau gak ada keperluan penting. Ah..padahal saya berencana ngelembur. Instead of pulang, saya meminta si pacar membawa saya ke kost temen di Setiabudi. Craving for information, saya langsung minta nonton MetroTV dan TVOne. Ternyata gempanya besar. Tapi belum ada gambar kerusakan. Belum ada data korban. Mungkin sama seperti saya, media ini juga beluum berhasil menghubungi siapa-siapa disana. Esok harinya barulah ketauan betapa dahsyatnya gempa ini. Subhanallah.. banyak bener korbannya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sampe hari ini, saya masih agak ngeri liat berita dampak gempa di TV. Suka merinding liat yang berdarah-darah.

Semoga yang mendapat musibah diberi kekuatan untuk menghadapinya.

*kalau ada yang pengen tau dimana saya bekerja, nih.

4 Responses so far.

  1. Winy says:

    inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. klo bisa kasih juga link ke web yang ngasih prosedur2 standar tanggap bencana jeng...
    btw, lo beneran gak hafal ayat kursi? i suggest u prior it before ur deutch exam =D

  2. Erma says:

    dulu pernah hafal jeng Winy
    dan, kata sapa gue hafal deutsch? :D

    link ke prosedur? diusahakan ya.. mohon diingatkan juga kalo lupa

  3. iya..kan dulu klo mau lulus sma.. disuruh hapal ya ma..ih kangen..oleh2 mana.....

  4. Erma says:

    dulu mah guru agama gue janji ngasih nilai 10 buat yang bisa hafalin surat yasin

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -