16 Oktober 2009

Ah... sudah Kamis. Si bos bilang kita perlu tour de city. Keliatan sebagai niat baik ya, padahal itu karena dianya juga belum pernah ke Aceh hahahaha. And so off we go. Kami melihat lokasi kapal yang nyangkut di atas rumah itu (lupa nama daerahnya), lalu mencari-cari tsunami red line dan tsunami pole. Lalu ke kapal PLTD segede gaban yang kebawa sampai lingkungan perumahan. Lalu ke TDMRC. Lalu makan di samping waterboom itu. Ikannya enak. Cuma, karena yang datang adalah orang-orang dari daerah laut juga, dengan hasil laut kebanggaannya (Kebumen, Bantul, Cilacap), mereka masih kompak bilang, "enakan di Kebumen". Harga diri oh harga diri. Saya tenang-tenang solat disini, dan baru sadar bahwa aroma seluruh masakan disana, menempel pada mukena saya. Jadilah saya salat isya dengan aroma makanan seafood.

Dari waterboom ke Laeuen (bener gak ya tulisannya? Bacanya sih kayak Lion bahasa inggris). Tempat rumah-rumah baru hasil relokasi. Cat dan bangunannya masih bagusan di kampung Turki di Lampoo itu deh. Meski sudah relokasi, tetap saja masih dekat dengan pantai. Teman saya bilang, orang sini all his life is being nelayan. Kalo direlokasi ke gunung, mereka gak tau harus cari penghidupan apa.

Ternyata hari ini ke Lampoo juga. Parkir di masjid Rahmatullah itu, alhamdulillah pada kedatangan ketiga ini kesampaian salat disana. Agak ngeri juga pas ngeliat foto-foto di dalam masjid. Yang menunjukkan masjid ini sebagai satu-satunya bangunan yang masih berdiri disini. Walaupun uda pernah melihat gambar ini, tetap aja rasanya beda ketika berada di lokasinya langsung. Kami juga ke pantainya. Bagus memang pantainya. Berpasir putih. Dan sepi. Si Dita aja ngasih rating 9 of 10. Saya pun berusaha membayangkan bagaimana rasanya melihat dinding air setinggi 10 meter datang dari pantai ini. Konon, orang Lampoo tau ada tsunami ketika mereka melihat air tinggi berjalan di dekat rumahnya. Mereka lari jauh-jauh. But some of them did not survived.

Dan hari ini pun ditutup dengan makan ayam tangkap dan minum kopi Ule Kareng (lagi).

Btw, hari ini ada 'oknum' yang bikin esmosi jiwa deh. 'Oknum' ini nelpon saya jam 5 pagi, dan mengajak rombongan sirkus saya berangkat ke Sabang paginya. Iiihhh... kami lebih baik dari anda dalam hal perencanaan, jadi kami sudah sejak sore kemaren bikin rencana keliling kota. Gak usah deh ke Sabang. Dannnn jam 6 sorenya, 'oknum' ini kembali nelpon saya, nanyain rencana malam rombongan sirkus saya. Dia mengundang makan malam bersama panitia lokal, jam berapa hayo tebak???

Jam 7 malam aja gituh. S****g apa ya? Dikira kami setidak becusnya dengan mereka dalam bikin planning. Saya cuma bisa bilang, saya inform ya. Kalau jam segini setau saya orang-orang uda bikin rencana sendiri. Dan dia bilang, "iya, itung-itung pamit lah sama orang sini, kan kita uda bertamu ke tempat mereka". Hwaaatttt, pamit? diselamatdatangkan juga enggak. Kami datang jauh-jauh kesini, bayar sendiri, dianggurin, pake suruh pamit?

Akhirnya sesuai janji, saya kasih tau info ini kesemua rombongan sirkus saya. Dan seperti sudah diduga, mereka memilih makan ayam tangkap dan ngopi aja bareng kami, wakakakak. Rasain.

Apakah sudah selesai esmosinya? Belum. Karena agak maleman dikit, ini 'oknum' nelpon orang lain yang juga lagi makan ama saya, katanya dia uda inform ke saya dari tadi siang. I started to think this lady is halucinating. Jangan-jangan karena kecapekan, dia membayangkan dirinya menelpon saya. Saya ampe ngecek register handphone untuk meyakinkan bahwa dia yang berhalusinasi, bukan saya. Sabar....sabar.... Soalnya pagi ini, sebelum si 'oknum' nelpon, saya yang kayaknya berhalusinasi bahwa saya merasakan gempa lokal di tempat tidur saya. More on this in another post deh.

*rombongan sirkus: orang-orang yang datang dengan dana dari kantor saya. In total ada 13 orang

2 Responses so far.

  1. dinsul says:

    sabar jeng ... sabar ...
    betewe, jadi qt ketemuan minggu ini?

  2. Erma says:

    mau kapan? jumat yuk..

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -