22 Oktober 2009

Kisruh gaji ini sudah berlangsung hampir 3 bulan. Karena ''dituduh' membayar pajak lebih kecil daripada seharusnya, maka saya dan beberapa rekan sekantor harus dipotong gajinya untuk membayar kekurangan pajak ini. Tax underpaid istilahnya. Padahal yang ngitung pajak, ya kantor. Yang motong pajak, ya kantor. Yang nyetor ke kantor pajak, ya kantor. Tapi yang dibuat jadi menderita adalah kami kami karyawan tak berdosa ini. Ck ck ck.

Tax underpaid saya tiap bulannya adalah Rp 271.000. Maksudnyah, tiap bulan gaji saya dipotong segitu. Plus dipotong pajak 'seharusnya' dan ASTEK juga. Saya termasuk golongan yang tenang damai aman sentosa aja dengan keadaan ini. Bukan belagu, uang segitu juga berarti loh. Kalo dikasih ke mbak Lala yang nyuci, dia akan bahagia menerima uang itu sebagai ongkos mencuci 10 sprei saya. Apalagi kalo dikasih begitu saja. Kalo dikasih sama orang yang lagi lapar gak bisa makan, apa gak girang loncat-loncat tuh orang. Tapi buat saya, I still survive even dengan potongan itu. "Rezeki gak kemana mbak", begitu jawab saya kalem kalo ditanya teman. Iya, kalo bukan dari kantor merah kuning hitam ini, kali aja sumber rezeki saya lainnya akan masih terbuka. Ini optimisme namanya. Dan menolak terpuruk karena uang *cih belagunya saya*.

Awalnya saya sempat bingung dengan seorang teman yang ribut mempermasalahkan tax underpaid ini. Nilai potongan dia more or less sama ama saya. Saya pikir, kalo saya aja yang gajinya kecilan bisa survive, kenapa dia enggak? Eh saya lupa, bahwa dia juga harus beli susu anaknya, harus beli makanan untuk orang tuanya, harus membiayai kuliah adiknya. Ah.... saya terlalu menggampangkan keadaan kali ya. Uang segitu nilainya pasti signifikan untuk dia dan orang-orang yang menggantungkan nasib padanya.

Ah, saya gak ngerti itungan pajak. Dijelasin sampe berbusa juga belum tentu saya ngerti.
Nah, orang yang 'ngakunya' ngerti itungan pajak, sepertinya tidak mampu bicara dalam bahasa manusia. Walhasil orang-orang yang datang padanya kembali dengan frustasi. Boro-boro puas dengan penjelasannya, justru jadi istighfar mohon ampunan karena membenci orang ini.

Wahai bapak ibu yang berurusan dengan gaji kami, ingatlah bahwa uang yang anda salurkan itu adalah jerih payah kami. Keringat kami. Kerutan di kepala kami. Kelelahan kami. Mulailah melihat kami sebagai manusia yang membutuhkan penjelasan, dan bukannya musuh yang sudah memegang senjata siap menyerang.

Mental note buat diri sendiri: pada nego gaji berikutnya, saya bakal minta nilai nett!

2 Responses so far.

  1. ekalong says:

    tenang, mba, Albert Einstein juga ngomong gini:
    Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini adalah pajak penghasilan

    dari sini:
    http://haxims.blogspot.com/2010/01/kata-kata-bijak-albert-einstein.html#ixzz0d2dZ9Sor

  2. Erma says:

    albert einsten bayar pajak?
    *takjub*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -