21 Desember 2009

Dahulu, saya adalah pembantu setia ibu saya kalau sudah mendekati masa lebaran. Kami akan melihat jadwal kapan saya libur dan memulai memasak kue-kue kering untuk lebaran. Favorit ibu saya adalah semprit, adek saya adalah putri salju, dan saya adalah kue keju (kastengel bahasa kerennya, tapi karena bahan dasarnya keju ya saya bilangnya kue keju).

Nah, dengan kepercayaan diri segudang, saya yakin 100% bisa bikin kue kering sendiri. Bermodalkan buku resep beli di Gramedia (karena buku resep ibu saya sudah entah dimana), lalu pinjam oven sama tetangga (karena oven saya secara misterius rusak setelah dipinjam orang) dan timbangan juga ke tetangga (karena timbangan saya tak tentu rimbanya). Mixer punya, loyang punya, cetakan kue punya, toples masih banyak, sampe kuas buat ngoles aja punya.

Lebaran 2 tahun lalu misi sukses terlaksana. Ada 2 macam kue kering berhasil dibuat SENDIRI. Keren gak tuh?! Tetangga sang pemilik oven dan timbangan aja sempat sangsi dan nawarin apakah mau dibantuin bikin kuenya. Tapi tentu saja saya kasih senyum manis sambil jawab "bisa kok sendiri". Hehehe. Lebaran ini meski skala nya menurun karena kesibukan *maklum wanita karir*, saya sempet bikin kue juga sebelum mudik.

Akhir tahun ini, saya mau mempersembahkan kue saya untuk tetangga baik hati sang pemilik oven dan timbangan itu. Supaya gak ketauan bikinnya, saya memutuskan untuk menumpang di rumah si pacar saat membuatnya. Kalo di rumah saya kan langsung ketauan pas minjem oven, hahaha.

Si pacar (dan ibunya) sudah meyakinkan saya bahwa di rumah mereka tersedia oven (kompor dan listrik), timbangan, mixer, loyang. Ok. Jadi kita hanya perlu membawa bahan-bahannya. Dan cetakannya. Dan toplesnya. Dan resepnya. Idih...banyak juga ya.

Hari itu, kami berencana membuat chocolate easymelt cookies dan cheese something something cookies.

"Belanja 1 jam, siapin adonan 1 jam, nyetak 1 jam. Okeh, mulai jam 12, jam 3 kelar ya", ujar si pacar optimis.

"Lah kan kuenya 2 macam joooo", saya realistis.

"Ya uda, tambahin 2 jam lagi. Jam 5 selesai", si pacar masih optimis.

Anyway, si pacar sudah saya buat bersumpah mati sebelumnya bahwa dia akan bantuin. Under my command. Saya mandornya. Ternyata ibu si pacar juga mau berpartisipasi. Udah lama gak bikin kue katanya. Saya kasih tugas kepada si pacar untuk menimbang bahan-bahannya, dan ibu si pacar saya minta untuk memisahkan kuning telur dan putihnya.

"Lah Erma nya ngapain?" kata mereka kompak.

"Ya mengawasi kerja anak buah dong", jawab saya.

"Sungguh kurang ajar. Masak orang tua disuruh-suruh", kata mereka.

Idih.... siapa yang minta dikasih kerjaan coba.

Keharmonisan bekerja bersama hanya tahan sekitar 30 menitan saja. Sampai pada masanya si pacar mengaduk adonan dengan mixer.

"Pake kecepatan yang paling tinggi", kata saya. Yang dijawab sama si pacar, "emang kenapa?". Yang dijawab balik "ya biar cepet kecampur dong ah", oleh saya tentunya.

"Tangannya juga muter searah jarum jam", kata ibunya. Yang tentu dijawab dengan "emang kenapa?" oleh si pacar. Krik...krik...krik... Ibunya gak bisa jawab. "Semua tuh pasti ada logikanya, gak mungkin cuma disuruh gak ada sebabnya", jawab si pacar, mister logic ituh. Ibunya pun berlalu. Daripada terjadi perang internal rumah tangga gara-gara kue, mendingan gue nonton tipi aja deh, gitu kali pikir ibunya. Hahahahaha.

Okeh, adonan siap dicetak. Eh kok terlalu lembek ya? Gak bisa dicetak dong? Saya bilang ke pacar, kelembekan ini indikasi nantinya kuenya gampang remuk pas uda mateng. Lah boro-boro mateng, nyetaknya aja susyah. Akhirnya, setelah ditinggal solat ashar, itu adonan dengan ajaibnya bisa dicetak. Eh, ada hubungannya ama solat ashar gak ya? Kayaknya enggak deh.

Dengan perjuangan panjang, akhirnya menjelang magrib selesai lah si kue coklat. Udah selesai? Idih... belum dong. Kan masih satu lagi. Lah bujettttt ampe jam berapa ini selesainya, batin saya.

Kue kedua gak pake tragedi "emang kenapa?" yang dilanjutkan dengan aksi walk out lainnya. Soalnya saya berhasil memberikan jawaban atas semua pertanyaa si pacar. Adonan pun bisa dicetak dengan baik-baik saja. TAPI.... potongan kacang almond yag harusnya menempel cantik pada kue bak wijen pada onde-onde, ternyata hanya cantik di buku. Membuatnya? Susyaaaaaaaa. Dan time consuming. Ya sudahlah, biarkan hasilnya tak secantik di buku.

Setelah semua beres, cuci piring, rapiin peralatan, saya pun beranjak pulang.

Tau gak jam berapa?

Jam 11 aja gitu.

*ada yang minta foto nya? atau resepnya? tinggalin komen ya*

4 Responses so far.

  1. mauuuuu... sama oven,mixer, cetakan,loyang, dan timbangannya
    eh kog samaan posting makanan..haha

  2. Erma says:

    warisan Ra... hehehe.
    Minta beliin Agus gih

  3. dinsul says:

    mau ... gw pengen liat hasil kue loe, ma

    cicip dunk ....

  4. Erma says:

    kasih gambar gampaaang...
    cicip susaaaah

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -