Thursday, April 30, 2009

Entahlah apa ini namanya

Saya sudah didera kebosanan tiada tara pada pekerjaan saya. Bukan karena gak ada kerjaan. Justru ada kerjaan. Banyak. Tapi males nian diri ini mulai menggunakan otak untuk menyelesaikannya.

Dan lalu, pucuk dicinta ulam tiba. Kemaren hasil lab menyatakan saya tipes.

Saya gak percaya.

Bukan belagu. Bukan dokter saya. Tapi badan saya segar bugar. Panas sudah berlalu. Gak ada mual. Gak ada pusing. Lah kok bisa??? Saya datang ke dokter untuk mencari tahu apakah bintik merah yang muncul di tangan dan kaki saya ini adalah alergi dingin. Karena sebelumnya saya gak pernah punya alergi dingin. Ini dokter kok malah nyuruh tes darah. Biasa... takut DBD. Sekalian tes tipes aja, katanya. Sok ajah. Dan begitulah hasilnya.

Sampai tahap ini, saya bisa leyeh-leyeh dirumah berbekal surat dari dokter. Tapi karena saya punya harga diri *cuihhhh*, saya gak mau bolos demi sakit yang saya yakin gak saya miliki. Eh sebentar. Ini harga diri apa bodoh yak?! Biarin ajah deh.

*ini alasan utama kenapa saya yakin gak tipes beneran. Baca terus sama comment nya juga.*

Mungkin karena kebanyakan nonton House, saya jadi mendamba ketemu dokter pintar yang bisa memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya. After all, untuk itu kan pria dan wanita berjas putih itu kuliah sekian tahun.

Saturday, April 18, 2009

Unspoken

Some things are better left unspoken

Do you agree with that? Or you prefer the full honesty mode?

Thursday, April 16, 2009

Duh mas, gimana sih

si mas Bankangelstelle (bahasa Jermannya pegawai Bank yang laki-laki) di bank depan rumah saya ini, aduuuhhh....minta dipites deh *kutu kali, dipites*

Senin 6 April, saya datang bawa surat keterangan kehilangan. Mau bikin ATM baru. Dia bilang "minggu depan kesini ambil ATM ya bu". Udah dia bilang gitu doang. Jadi gak salah dong, kalau otak saya yang brilian ini menganggap minggu depan yang dimaksud di mas ini adalah Senin 13 April.

Senin 13 April, saya datang bawa bukti pengambilan ATM. Dan mendapatkan jawaban, "maaf bu, belum jadi. Mungkin karena kepotong libur panjang". Idiihhh... masak gue yang kerjanya bisa dari rumah aja tau bakal ada libur panjang, mas yang kerjanya nongkrong di bank seharian, yang hidup, kerja, dan omzet bank nya sangat dipengaruhi oleh libur panjang, gak tau kalau bakal ada libur panjang. Anehhh. Akhirnya dia bilang, "coba Rabu atau Kamis ya bu". Idiiihhh kedua, kok coba sih mas. Gak meyakinkan banget.

Kamis 16 April, datang lagi. Dan mendapati bahwa .... belum jadi juga. Set dah bujeeetttttt.... Kali ini si mas nya bilang, "saya minta nomor telepon ibu aja deh, nanti kalau uda jadi kami telepon". Set daahh.... Untung gak gue labrak bahwa gue uda bertahun-tahun jadi nasabah cabang situ, dengan rekening yang selalu ada isinya, dan gak pernah ganti nomor telepon. Emang ye... jauuuhhhh lebih gampang NANYA dibanding CARI TAU SENDIRI. Blah.. kalo gak gue merindu setengah mati pada ATM (dan isi rekeningnya) uda mau gue tutup aja rekeningnya, biar dapet shock therapy. Hidup ini keras bung! Shock therapy itu perlu! But still, si mas ini perlu dapat kejutekan saya sedikiiiit saja.

Mas : nanti kami hubungi kalau sudah jadi bu
Saya : jadinya kapan mas?
M : belum tau bu, takutnya terselip di cabang
S : (bukan urusan gue, itu kartu keselip dimana. You do your work, I do my work. Menyediakan kartu ATM baru buat saya adalah YOUR WORK) *oh tentu, ini dalam pikiran saja, saya kan masih baik*
S : mas gak bisa tau berapa waktu normal pembuatan ATM baru?
M : saya gak bisa pastikan bu
S : Cari tau dong mas. Masak saya cuma nunggu telepon dari mas doang.
M : *menciut*
S : *melotot*
M : Senin ya bu.

Nah gitu kek mas dari tadi. In fact, harusnya mas dari awal (tanggal 6 April) nanya nomor telepon saya. Nih ya mas, kalau saya yang jadi mas, saya bakal ngelakuin ini:
minta nomor telepon nasabah, kalo kelupaan dan nasabah keburu ngabur pulang, cek data nasabah.
Rabu sore (8 April), menjelang jam kantor habis, kalo ATM belum sampe, saya telpon nasabah, bilang "maaf ya bu, kartunya belum datang. Kalau sudah datang, segera saya kabari". Ini untuk menghindari orang-orang yang bete karena uda datang siang ke kantor demi ngambil ATM di bank yang deket rumah, eh ternyata ATM nya belum jadi.

Rabu minggu depannya (15 April), kalo ATM juga belum sampai, saya telepon dulu kantor pusat yang bagian bikin ATM. Dampratlah mereka disana. Eh enggak deng. Tanyain aja, kartunya dimana, kok belum sampai, kapan sampai. Nah lalu berikan informasi 'kapan sampai' ini kepada nasabah lewat telepon. Ini, again, untuk menghindari kebetean diatas.

Dan lalu, ketika akhirnya ATM jadi (yang artinya dalam waktu yang lebih lama dari normal), saya akan obrak-abrik stok souvenir di kantor. Kasih lah 'tanda maaf'. Mug kek. Boneka kek. Tas kek. Apa gitu. Udah tau salah, menebus dosa dikit dong. Masak musti diajarin soal Customer Relationship sih ama saya.

Wednesday, April 15, 2009

Karena yang kamu ingat, belum tentu benar

Kalau selama ini saya selalu percaya dengan apa yang saya ingat, rasanya sekaranglah waktu yang tepat untuk memikirkan kembali 'kepercayaan' saya itu.

Ini rangkaian kejadian Selasa 31 Maret yang saya (kira saya) ingat. Hanya sekian menit saja padahal.

turun dari motor
masuk ke ATM
ambil handphone, liat nomor indosat
masukin ATM
bayar tagihan indosat
ambil slip
tarik tunai
ambil uangnya, masukin ke dompet
ambil slipnya, ambil ATM nya, masukin ke dompet
keluar dari ATM

Ketika jumat paginya saya gak menemukan ATM tersebut di dompet, saya INGAT bahwa karena ribet, itu kartu ATM saya taruh di kantong tas. Saya YAKIN sudah masuk ke tas. INGAT dan YAKIN.

Sabtu pagi, saya bongkar dompet. Ganti dompet sambil cari sang kartu kebanggaan itu. Gak ketemu. Saya bongkar tas. Semua tas yang ada di luar lemari (padahal hanya tas ransel yang punya kemungkinan menyimpan kartu itu). Gak ketemu juga. Saya bongkar sekali lagi dompet. Juga tas. Masih gak ketemu.

Akhirnya saya telepon call centre sang ATM. Bertanya beberapa transaksi terakhir dari kartu itu. Well, awalnya operator nya yang memberikan pertanyaan itu pada saya. Karena saya gak inget, maka dia yang akhirnya menjawab (tentu, setelah beberapa pertanyaan konfirmasi data diri). "Pembayaran indosat xxxx rupiah dan penarikan tunai pada Selasa malam". Saya gak tanya lagi berapa nilai tarik tunainya. Karena saya PIKIR masih cocok dengan ingatan saya.

Untuk menjernihkan pikiran, saya nonton tivi, makan, nyetrika, dll. Agak sore, saya ulangi ritual pembongkaran. Masih gak ketemu. Pada saat ini, si pacar sudah tiba.

Saya telepon kembali call centre sang ATM. Jawabannya masih sama. Pembayaran indosat xxx rupiah. Dan penarikan tunai. Tapi kali ini saya tanya berapa jumlah tarikan tunainya. "Sejumlah yyy rupiah".

*&^$*)(%^*&^%%^RF%^R^%*&(*())JBVR%^E^&%

Mengambil uang di ATM sejumlah yyy rupiah, bukanlah kebiasaan normal saya. Bengong dulu sesaat. Si pacar bilang, "transfer kali". Saya yang masih online dengan si operator menanyakan, "tarik tunai atau transfer?". Tarik tunai, demikian jawab sang operator dengan yakin. Ah.....

Saya langsung blokir kartu saya.

Meski gak ada lagi transaksi yang terjadi setelah Selasa malam.

Saat itu, keyakinan saya akan daya ingat di kepala ini sudah menurun sangat drastis. Sangat sangat drastis.

Ajaibnya, yang terlintas di kepala saya waktu itu adalah, "ya sudahlah". Pasrah aja gitu.

Si pacar bilang, "mungkin gak waktu itu lo transfer ke rekening lo yang lain. Seinget gue, waktu itu lo agak lama di ATM nya". Hm.. transfer senilai yyy ke rekening lainnya, memang mungkin. Dan untuk membuktikannya, saya telepon bank saya yang lain. Nanya, apakah ada transferan masuk. Dan ternyata gak ada. Ya sudahlah. Pasrah.

By this time, kalian yang membaca, pasti sudah bisa menebak dong apa yang terjadi. Jadi saya gak perlu nerangin lagi kan. Bikin sakit hati aja.

Baiklah.

Pelajaran dari kejadian ini adalah: SELALU pastikan bahwa uang, slip, dan ATM sudah masuk ke dalam dompet sebelum meninggalkan ATM. Periksa 3 kali. Karena kita manusia, bisa bikin salah. Bisa lupa. Bisa bengong. Bisa teledor.

Sunday, April 05, 2009

Antara jalan-jalan dan global community


Iming-iming “jalan-jalan” ke luar negeri pasti menarik hati banyak orang. Sudah berapa banyak orang yang saya dengar berguman "enak ya si anu... training ke luar negeri, bisa sekalian jalan-jalan”. Ihhh saya sama sekali gak setuju. Namanya training, pasti sebagian besar waktu yang dihabiskan digunakan untuk training. Kerja di luar negeri, ya pasti sebagian besar waktu yang dihabiskan digunakan untuk kerja. Karenanya lah,.. mimpi saya ke luar negeri sudah tidak lagi dibalut dengan training atau kerja atau bahkan beasiswa ke luar negeri.

Pengumuman
kompetisi blog berhadiah summer school di Utrecht ini juga awalnya saya tanggapi senada. Namanya juga school. Pasti isinya belajar. Menginjakkan kaki saja di negeri orang, tapi menghabiskan seluruh waktu di dalam kelas, jelas bukan jalan-jalan buat saya.


Ketika saya cari informasinya , ternyata dugaan saya salah besar. Ini adalah salah satu alasan mengapa kita harus cari informasi dulu, sebelum memberi penilaian
*berbicara pada diri sendiri*. Karena kalo kita iseng mengunjungi situsnya summer school nya Utrecht, kita akan tau bahwa dalam progam 2-6 minggu di summer school ini, Utrect menyertakan program outdoor (atau kita disini suka bilang “jalan-jalan) seperti ekskursi *mengenang ekskursi di kampus dulu* olahraga, dan kegiatan seru-seru lainnya, untuk memastikan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman di dalam kelas saja.

Summer school 2009 ini sudah edisi ke 22. Ribuan peserta dari seluruh penjuru dunia mengikuti program ini. Variasi kewarganegaraan, latar belakang, dan usia peserta dari program ini tentu akan memastikan kita bisa masuk selangkah ke dalam global community. Apakah itu cukup membuat kita jadi bagian dari global community? Ya enggak lah masa ya enggak dong. Duren aja dibelah, bukan dibedong *
menggaring tidak semestinya*. Berada dalam satu tempat, melakukan kegiatan yang sama dengan global community membuat kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengetahui lebih banyak lagi mengenai bagian bumi lainnya. Sebagai orang indonesia tulen, menghabiskan seluruh hidup saya di indonesia, yang sebagian besar temannya adalah orang indonesia, maka akan menarik sekali untuk mengetahu apa bagaimana menggapa dan siapa yang terjadi di negara masing-masing. Informasi ini kan dengan mudahnya dapat kita cari dengan bantuan om google, pikir anda. Iya. Tapi ekstra, bonus, yang bisa saya dapatkan dari kesempatan ini adalah, getting to know what they are thinking about their country. An insider perspective. Itu yang saya suka sekali. Pendapat dan pemikiran jujur yang tidak disensor dan tidak dikemas semata demi menyenangkan pendengar (or in most cases, pembaca).

Lalu, itu saja? Ya enggak lah, masa ya enggak dong. Duren aja dibelah, bukan dibedong *
mengulang kegaringan yang sama*. Sebagai bagian dari global community, kita perlu menjaga agar pintu pembuka ini tidak langsung ditutup begitu program selesai, koper terkemas, kita kembali ke negara masing-masing. Alur informasi perlu terus dijaga. Komunikasi dengan peserta lainnya melalui berbagai media informasi yang kini banyak menjamur, adalah salah satu usaha untuk memastikan bahwa kita selalu menjadi bagian dari global comunity. Semoga mereka juga punya blog, kami bisa tukeran link blog, dan terus update mengenai keadaan di negeri masing-masing. Oh, kalau mereka mau mengerti tulisan saya, mereka perlu belajar bahasa indonesia dahulu sih, hahahaha. Tapi kalau pun enggak, saya bersedia kok menulis dalam bahasa inggris yang pada keadaan normal hanya dilakukan pada jam kantor, dengan laptop kantor, dan untuk dokumen kantor. Hehehehe. Kan artinya saya juga memperluas pergaulan dengan global community yang selama ini hanya terjadi pada jam kantor :D

Friday, April 03, 2009

My beautiful bracelet

Terima kasih kepada pak Edy Marbyanto sekeluarga, untuk kiriman cantiknya. Secantik yang menerima, hehehe.

Warnanya maching dengan segala baju

Yang putih memantulkan cahaya jadi warna-warni. Bagus deh.
Pengakuan dosa : jadi ini aslinya uda dirangkai jadi gelang dengan karet bening itu. Tapi saking semangatnya nyoba, putuslah itu belang. Kaburlah batu-batunya. Tapi saya berhasil ngumpulin semuanya.

Perhatian... itu yang pink kecil bukan bagian dari paket. Kami comot aja dari hiasan Hp temen, hihihi.

Sekali lagi, terima kasih banyak sekali amat sangat untuk pak Edy dan ibu Edy. Kirimannya cantik sekali. Saya sukaaaa sekali
*speechless*

Wednesday, April 01, 2009

Permohonan (kurang ajar) hari ini

Tuhan,
boleh gak satu hari aja,
saya bisa ngebrowse sesuka hati,
ngeblog sesuka hati,
didampingi musik enyak enyak,
ikut bernyanyi keras-keras tapi gak bikin orang lain sakit perut,
dengan internet yang was wis wus seperti di kantor saya ini,
dan keyboard yang endaang seperti laptop kantor saya ini,
tapi gak pake perasaan bersalah karena mengabaikan tugas dan tanggung jawab terhadap pemerintah negara-yang-tembok-pemisahnya-udah-runtuh-itu dan pemerintah kita yang kadang gak tau terima kasih itu