Tuesday, May 26, 2009

Krisis tempat berteduh

As some of you might have already know, rumah yang saya tempati sekarang ini adalah properti negara, dahulu dipinjamkan kepada Bapak saya dan para TNI plus PNS lainnya, agar mereka bisa bekerja, membela bangsa dan negara lalu kalau beruntung dan berpangkat tinggi, bisa jadi capres atau cawapres dikemudian hari tanpa khawatir anak dan istrinya kepanasan atau kehujanan *ini saya asli ngarang*. Teorinya, setelah masa bakti pada negara berakhir (baca: masa pensiun) -yang pada kasus Bapak saya, adalah 17 tahun lalu-, fasilitas ini harus dikembalikan pada negara. Untuk kemudian dipinjamkan kepada para abdi negara lainnya.

Namun tidak demikian yang terjadi dengan komplek saya ini. Satu persatu penghuninya pensiun, namun tidak ada yang pindah rumah karena 'terusir'. Ada yang pindah memang, tapi alasannya berkisar antara: uda beli rumah sendiri yang lokasi dan keadaannya lebih baik daripada yang disini, atau anaknya yang uda beli rumah, atau rumah yang disini secara sembunyi-tapi-ketahuan dijual ke pihak lain. Loh kok bisa? Ya bisalah. Apa sih yang gak bisa di negeri ini?!

Setelah isu perpindahan tangan berlalu, isu berikutnya adalah penggusuran. Aih... berasa jadi PKL ilegal gini.

Nah, isu paling gres yang baru muncul adalah tawaran rumah murah. Jadi, berita teranyar yang kami terima adalah: warga akan ditawari rumah murah tipe 22 di Jonggol sana *
kirain Jonggol itu deket Pondok Labu,.. ternyata itu mah Gandul, doweeewww*, tanpa DP, dicicil 10 tahun dengan harga Rp 200.000,- perbulannya. Tawaran ini, diindikasikan sebagai pertanda bahwa masa penggusuran sudah dekat. Hiii...seyeeemmm....

Pagi ini, saya dan madame ngobrol. Kami iseng berhitung, berapa orang di komplek kami yang belum punya rumah sendiri? Surprise surprise... ternyata cuma ada 5 yang belum (termasuk saya tentunya). Eh bujettt.... jadi maluu....

Hasil perhitungan diatas juga bikin saya jadi miris liat pola pengeluaran uang setiap bulan. Bayaran internet unlimited (yang sering lambreta itu) plus facial dan creambath, sama dengan cicilan rumah diatas itu. Berangkat ke kantor naik taksi 4 kali, sama dengan cicilan rumah diatas *
saya masih berangkat pake bis, btw*.

Harusnya dengan rezeki yang diterima hingga saat ini, saya sudah bisa mulai mencari tempat berteduh permanen. Eh, jangan beri saya kalimat basi, "perempuan mah gak usah bingung mikirin beli rumah, biar laki-laki yang musingin". Menurut saya, perempuan dan laki-laki sama aja kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kamu mau menyerahkan hidup dan nasib kamu di tangan orang lain? Hidup dan nasib tuh ditangan Tuhan, bukan ditangan suami *ketularan Fitri*

Tapi ada beberapa alasan mengapa sampai saat ini saya belum mulai memenuhi kebutuhan primer jangka panjang itu:
- Sejak lahir sudah di rumah ini, membuat saya merasa udah hime sweet home. Gak ikhlas rasanya pindah ke pinggiran kota. Padahal Bintaro juga pinggiran kota ya
- Saya gak sreg berhutang. Jangka panjang apalagi. Cicilan rumah tuh biasanya minimal 10 tahun. Tahun depan aja belum tau mau kerja dimana, makin ga tau lagi apakah saya akan menghasilkan uang yang cukup untuk bayar hutang.
- Saya belum berhasil memutuskan pengen rumah kayak apa. Kadang kalo rasa malas bebersih nya kumat eh ini mah selalu yak pengen punya apartemen aja yang kecil. Kalo lagi kumat rasa pengen leyeh-leyehnya, pengen punya halaman luas tanpa pohon besar. Ya seluas lapangan depan rumah saya itu lah. Hahaha. Kalo lagi musim rambutan, pengen punya pohon rambutan. Nah kan jadi bingung. masak saya harus punya semua jenis rumah yang disebut diatas?

Kalo kamu sendiri, seperti apa rumah impian kamu?
Sudah jelas, atau masih 'labil' seperti saya?

*yang uda punya rumah sendiri, gak usah komen deh. Bikin sirik aja soalnya :P

Monday, May 25, 2009

Apa-apaan inih

Sudah gajian, dan tadi gagal mentransfer (baca: mengamankan) uang dari rekening gaji ke rekening tabungan. Salah ATM nya. Bukan salah saya.

Dan lalu mendapati bahwa Gramedia GI diskon 30% all item (kecuali elektronik). Arghhhhh.... godaan syaiton!

Wednesday, May 13, 2009

Untung ada internet

Awalnya saya mampir di blog Ikram yang menulis tentang debat tim calon gubernur Jakarta, dibaca terus...nemu postingan tentang tas baru. Yang akhirnya membawa saya ke 'rumah' (lama) si ibu muda ini. Dan postingan tentang kemiripan wajah si anak dengan orang beken yang saya ikuti (hasilnya: saya gak kalah cantiknya dengan Julia Robert hehehe), membawa kami saling berkenalan lewat blog.

Mungkin karena umur yang gak beda jauh, atau ceritanya tentang kuliah yang agak mirip dengan kuliah saya, atau justru ceritanya yang gak melulu tentang anak (yang sampai saat ini masih jadi) semata wayangnya -ibu muda lainnya ceritanya tentang anaaaak mulu-, saya jadi pembaca setia blognya.

Ga lama sampai akhirnya kami nyambung di friendster, YM, facebook, dan plurk.

Meski belum pernah ketemu langsung, kayaknya kami sudah saling percaya *kami??? gue kaliiii*. Saat ia pulang kampung bulan lalu, saya dengan songongnya minta dibeliin dompet. Idihhhh...ngirimnya juga piye. Saya kan di Jakarta, dia di Bandung. Tapi, beberapa hari lalu, rumah saya kedatangan kiriman dari Bandung. Isinya? Dompet cantik. Dengan bonus toilet cleaner. Kenapa toilet cleaner? Biarlah saya, dia, dan fitri yang tau.
Aw... Iraaaa.... kamu baik sekalih sih. Makacih yaaaaa.

*foto atas dicolong semena-mena dari facebook ybs. Foto bawah dibuat semena-mena diatas tempat tidur saya. Itu yang dikanan bawah, iya jempol saya hahaha.

Thursday, May 07, 2009

Kamikaze

Kamis minggu lalu, sebagai upaya menjadi pelajar bertanggung jawab (yang abis bolos les hari sebelumnya, hanya untuk mendapatkan diagnosa yang tidak dapat dipercaya), saya tanya dong ya ke salah satu teman, belajar apa aja kemaren, ada PR gak. Nah dia dengan baik hatinya, ngasih tau dong, ada PR di halaman sekian sekian. Dannnnn... bahwa Senin itu akan ada tes.

Berhubung Senin masih lama, saya masih optimis dong kalo bakalan sempet belajar. Gile aja kalo gak pinter-pinter. Masak uda bayar jutaan, bodoh terus *hiperbolis*.

Sabtu, niat belajar. Gagal. Karena males.
Minggu, niat belajar. Gagal juga. Masih males.
Senin, harusnya belajar pas jam makan siang, atau sore-sore menjelang les. Gagal maning. Mendadak sibuk.

Sampe jam 17.30 aja masih ngerjain ini itu. Arghhhhhhh.....
Jam 18.00 baru bisa minggat dari kantor. Ampun, ini mah CUMA berhasil datang tidak terlambat namanya. Bye bye deh belajar. Bye bye deh ngerjain PR.

Saya pun masuk kelas bak prajurit Jepang yang akan melakukan misi Kamikaze. Melakukan serangan bunuh diri. Bedanya, yang saya 'bunuh' bersama misi bunuh diri saya bukanlah musuh, tapi kepercayaan diri, harga diri, keyakinan diri, dan segala milik diri ini lainnya. Huhuhuhu...

Sang guru lalu membagikan 2 lembar kertas. Berisi soal. Bolak balik. Bujetttt... ada kali itu 40 soal. Dari yang milih a-b-c-d, nyocokin gambar, ngisi paragraf kosong, benerin kalimat yang salah, semuaaaaaaa deh ada disitu. Mampussssss. Sayapun uda membayangkan bahwa pulang les nanti, saya mau makan yang enak-enak sebagai misi pembalasan 'patah hati' saya ini sambil misuh-misuh ke si pacar. Dan wikennya akan belanja gak karuan untuk mengobati esmosi *alahhh alasan aja*.

Ditengah misi pasrah-aja-mau-gimana-lagi saya sayup-sayup denger sang guru bilang, "Ini bukan testnya, ini hanya evaluasi". Mmmm.... bedanya test ama evaluasi apaan ya? Bukannya dua-duanya menguji sampai mana kita memahami apa yang uda diajarkan? Ya sudahlah biarkan saja. Lanjutkan mengerjakan saja. Semua orang (yang jumlahnya cuma 8 orang itu) pada serius menatap ke kertas soal (atau ke meja sambil bengong, gak tau juga ya, hehehe). Tiga puluh menit berlalu. Saya uda mulai males mikir. Kayaknya kalo gak boleh buka kamus, saya gak bakal ngerti juga apaan soalnya. Boro-boro jawabannya, perintah soal itu aja saya gak tau.

Setelah 45 menit, sang guru bertanya, "gimana, sudah selesai?" (dalam bahasa Jerman tentunya). Yang dijawab dengan cengiran lesu kami berdelapan. Mungkin karena iba, dia akhirnya bertanya, "emang bagian mana yang susah?". Dan merepetlah kami berlomba-lomba untuk berkeluh kesah bak anak SD. Akhirnya bareng-bareng kami bahas dan kami isi soal-soal di kertas 2 lembar itu. Lahhhhhh.... jadi ini bukan test dong? *lah pan tadi uda dibilang*. Jadi buat apa saya stress, patah hati, kecewa, rendah diri *berlebihan lagi* selama 45 menit sebelumnya? Ha?! Ha?! Ha?!

Anyway.. selama ngebahas soal itu, sang guru juga bilang, "kalian uda takut sendiri. Begitu ada kalimat yang gak ngerti, langsung putus asa. Begitu ada yang susah, langsung bilang 'ah ini grammar...jadi susah'. Padahal soal ini gak ada grammar sama sekali". Kami bengong. Malu. Hahahaha.

Selesai ngebahas soal itu. Kami istirahat 15 menit. Abis itu baru test beneran. Dan saudara-saudara... ternyata soal test (benerannya) itu gampaaangggg banget *mulai belagu*. CUMA ada 20 soal kali ya. Dan CUMA milih richtig oder falsch* dan a oder b**. Ah.... ini mah gue bisaaaaa.

Walhasil, saya pulang les dengan kepala tegak berdiri. Kepercayaan diri bangkit kembali. Dan semangat untuk belajar pun terisi kembali.

Makannya jadi apa? Nasi uduk aja... walaupun dihiasi insiden jus jambu. Tapi itu cerita lain deh.


*benar atau salah
** a atau b

Friday, May 01, 2009

You think?

Sudah tau kan ya saya sedang bosan? Nah salah satu kegiatan yang saya lakukan untuk membunuh kebosanan adalah baca blog. Dari blog Yasmin saya menemukan post ini. Pidato Oprah di Stanford. Saya sudah lama senang sekali nonton Oprah di Metro TV. Meski beberapa kali menderita karena menonton re-run yang diulang entah sudah berapa kali. Dan hari ini, ditengah kebosanan saya bekerja, saya menemukan satu kalimat dari Oprah,

'When you're doing the work you're meant to do, it feels right and every day is a bonus, regardless of what you're getting paid'.

Sebenarnya beberapa hari terakhir, saya bermaksud menyemangati seorang teman yang (tampaknya) sedang depresi berat dengan hidupnya. Dengan pekerjaannya. Dengan kota tempat ia tinggal. Tapi rentetan nasihat dari saya, saya telan sendiri dulu. Kepedean bener mau sok menasihati orang. Diri sendiri saja sudah hampir 2 minggu luntang-lantung gak jelas di kantor. Parahnya, bukan karena gak ada kerjaan, tapi karena saya malas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya saya kerjakan. Yang sudah saya setujui untuk kerjaan. Ah...dimana tanggung jawabmu Erma?! Yeah I know... Saya juga punya hati nurani tauk. Makanya sekarang saya jadi sakit kepala.

Suatu hari di masa lalu, saya sepertinya pernah membaca kalimat setipe dengan yang diatas. Lupa sumbernya. Intinya, kalau mau mengukur apakah kita bener-bener mencintai apa yang kita kerjakan, coba pikirin, apakah kita mau melakukannya tanpa dibayar.

Apa saya bersedia datang ke gedung tinggi ini, setiap hari, mengerjakan whatever it is that I usually do, and not getting paid?

I don't think so.

Jadi, saya gak mencintai pekerjaan saya? Kemungkinan besar begitu. Bukan karena bos nya galak. Bukan karena gaji nya kurang. Bukan karena harus pulang malam terus-terusan. Tapi mungkin karena kebalikannya. He??? Kebalikannya??? Iya. Karena bosnya terlalu baik. Karena gaji nya cukup. Karena saya bisa datang siang terus-terusan. Yak benar, tebakan anda semua benar. Kayaknya kurang tantangan ya?

Jadi, apa yang saya suka kerjakan, dan saya bersedia kerjakan tanpa dibayar?

Bikin jilbab. Hehehe.

Karena keasyikan bikinnya, saya jadi lupa misi penjualannya. Asyik sendiri ngasih-ngasih ke orang. Untungnya gak banyak yang menangkap kebaikan hati saya, jadi cuma sedikit yang jadi korban pemberian jilbab hasil karya perdana tangan saya. Gak dibayar. Seneng banget gitu pas bikin sesuatu yang uda 'dipesan' sama orang. Sama senengnya dengan menyelesaikan satu jilbab dan lalu mendengar ada yang mau. Senang sekali.

Jadi, apakah saya harus berpikir untuk alih profesi? Menurut anda?