Wednesday, September 30, 2009

Mudik demi kesehatan jiwa

Baiklah, seperti yang saya nyatakan sebelumnya, mudik kemaren sebenernya tidak membawa misi khusus. Saya gak punya ekspektasi apa-apa dalam mudik kali ini. Paling silaturahmi ke rumah sodara. Paling pindah-pindah dari rumah keluarga nyokap ke keluarga bokap. Angpai sudah gak mungkin dapat, bikin kue pun sudah tak sempat. Udah gitu, si tamu bulanan datang pas hari terakhir ngantor. Yak...pupus sudah cita-cita puasa pol. Pupus juga harapan shalat Ied pake mukena baru dan baju baru bareng sodara-sodara. Selain karena mukenanya belum selesai, baju baru ternyata belum disetrika hahahaha.

Menyenangkan sebenarnya sekali-kali berkumpul dengan keluarga. Rame-rame gangguin tante yang masak. Bantu motong-motong atau kupas-kupas, atau cuma duduk di pinggir sumur nontonin yang masak, memberi contoh buruk pada sepupu yang kelas 5 SD yang abis dimarahin karena mau ikutan duduk di pinggir sumur hehehehe.

Malam takbiran, saya terjaga sampai jam 3 pagi. Menyulam pita. Tadinya berdua sama seorang sepupu, tapi dia tepar jam 1 pagi. Adek saya melek jam 2 pagi dan kelaparan. Setelah berhasil saya komporin untuk bikin indomi (plus diyakinkan bahwa kompor gas nya nyala, dapurnya terang, indomi dan telor tersedia), jadilah kami sahur indomi jam 3 pagi. Orang Jakarta yang anehhh. Akibatnya, saya gagal bangun pagi untuk ikut ke tempat shalat ied. Mata masih berat. Rencana mandi ketika orang-orang pada sholat pun gagal. Yang ada, orang-orang uda pada pulang saya baru bisa buka mata. Huaa... ntar lebaranannya abis saya mandi dong. Kan malu bau iler.

Dan lalu, setelah bermaafan dengan keluarga inti, dan gantian ngobrol sama sepupu yang gak bisa pulang dari Papua, kami ngider ke tetangga-tetangga sebelah. Pertanyaan "kapan kawin?" bisa dengan brilian dialihkan kepada om yang 10 tahun lebih tua dan belum menikah *licik* dan disertai ancaman, "nanya-nanya mulu, gak gue bawain oleh oleh ya dari Jakarta". Ternyata kalo di kampung ini, gak ada yang nawarin makan ketupat. Untung uda pada makan di rumah. Dan ternyata menu favorit kami saat nenamu ke tetangga adalah: ote ote. Ini adalah bakwan versi jawa, dimakan dengan cocolan petis udang. Ada satu rumah yang menyajikan ote ote dan tahu masih panas. Fresh from the penggorengan. Setelah melirik penuh makna, kami pun menyerbu hidangan di meja, sampai akhirnya tuan rumah harus ngeluarin piring ke dua. Tamu tak tahu diri. Sorenya, kami berendengan naik motor ke rumah saudara lainnya. Kami bersembilan, dan ada 5 motor di rumah. Pas. Saya pun membuat misi hidup, pulkam berikutnya harus sudah bisa, sudah berani, dan sudah punya SIM untuk naik motor. Bukan yang matic doang.

Beberapa hari setelah lebaran kami pun piknik ke Malang. Pantai Balekambang kami datangi. Udahlah jauhhh belok kanan belok kiri naik turun dari jalan raya, ternyata pantainya pun ramai. Ya iyalah...lebaran gitu looh.

Pola hidup kami pun berubah selama di kampung. Bangun jam 7 soalnya disana uda terang, dan penghuni rumah lainnya uda pada wara wiri. Kan malu kalau tidur terus. Udah gitu, begitu bangun uda ditawarin sarapan aja gitu. Makanan uda lengkap. Ck ck ck. Siangnya, karena panas disini begitu gonjreng, hampir gak ada orang beraktifitas di luar rumah antara jam 12-4. Demikian pula kami. Biasanya sih kami terkapar bobo ciang dengan kipas angin atau pintu dibuka lebar-lebar. Begini terus sampai hari terakhir disana.

Tanpa halangan berarti, kami pun kembali ke Jakarta sabtu pagi.

Sampai di Jakarta, baru berasa betapa bedanya ritme hidup di kampung dan di sini. Saya jamin, kalau kemaren saya gak mudik, libur seminggu ini pasti akan berlalu tak berasa. Tak berbekas. Its good to leave the big city for a while.

Looking forward for another pulkam session. JIKA keuangan mengizinkan ya, hehehehe.

Saturday, September 12, 2009

Histeria mudik lebaran

*oh rindu sekali ngeblog. Tiada kukira sibuk bekerja bisa membuat gak sempet ngeblog*


Selama 26 tahun berlebaran, seingat saya keluarga kami baru merasakan mudik lebaran 2 kali.

Iya, keluarga inti saya tinggal di Jakarta sejak orang tua saya menikah. Sementara semua keluarga besar saya berlokasi di Porong (ho oh, deket ama lumpur). Rumah keluarga bapak dan ibu saya hanya berjarak 30 menit dengan angkot. Keluarga inti saya lebih sering mudik pas liburan sekolah. Sementara lebaran kami habiskan dengan keluarga-keluarga 'baru' di Jakarta.

Konon kabarnya (karena saya juga uda gak ingat), mudik lebaran pertama keluarga kami terjadi waktu saya masih bayi. Nenek dari ibu saya, sedang di Jakarta, sehingga kemungkinan besar kami mudik untuk mendekatkan sang Nenek pada keluarga besarnya. Bapak saya meminjam mobil kantor dan menyetir sendiri sepanjang jalur Jakarta - Surabaya. Capeee deeee, gitu kali ya pikir bapak saya. Konon kabarnya, karena ngantuk, mobil yang dikendarai hampir aja mampir di jurang. Untung selamat. Jadi kalian semua masih bisa bertemu Erma dewasa yang cantik jelita ini. Kemungkinan besar, kejadian ini yang membuat ibu saya akhirnya bilang,"huhuhu... gak usah lagi lagi deh mudik lebaran. Mending mudik biasa aja naik kereta pas libur sekolah".

Dan waktupun berlalu... sampai akhirnya saya... SMP kalo gak salah. Adek saya SD. Meski berlebaran di Jakarta artinya dapat 'sangu' dari om, tante, pakde, bude baru yang lumayan jumlahnya, kami penasaran juga dong sama rasanya mudik lebaran. Emang gak inget ama 'insiden' mudik sebelumnya. Jadilah saya dan adik saya nanya nanya mulu ke orang tua kami, "kenapa sih kita gak pernah mudik lebaran, orang-orang aja pada mudik". Setelah sekian tahun merengek rengek, akhirnya orang tua kami pun luluh. Tiket kereta pun dipesan untuk acara mudik lebaran. Saya lupa tahunnya. Kami pun menanti hari mudik dengan gembira.

Di kereta, kami mendapati suasana penuh nuh nuh.. Uda kaya kambing deh..dempet-dempetan. Bapak saya memang dapat karcis duduk, sehingga kami semua bisa duduk dengan tenang. Tapi, kereta ini juga menjual karcis berdiri. Jadilah, lorong tempat jalan, WC, sambungan kereta, pintu, penuh diisi dengan orang-orang dengan karcis berdiri ini. Mau tau apa nama keretanya? Gaya Baru Malam Selatan. Ini kereta ekonomi. Zaman dulu saya inget banget, harga tiketnya cuma Rp 10.000,- Ini masa ketika uang sangu lebaran kami aja bisa mencapai 200 ribu rupiah masing-masing. Jakarta-Surabaya ditempuh dalam 18 jam. Kegiatan alami ke wc hanya bisa dilakukan jika kereta sedang berhenti di suatu stasiun. Itupun buru-buru. Walhasil, ibu saya harus menahan 'panggilan alam'nya selama beberapa jam. Meski adik saya dan saya gembira karena kami dapat sangu yang buanyak lebaran itu (maklum...gak tiap tahun mudik, jadi om tante saya disana pada royal ngasih sangu), ibu saya kembali bersabda, "cukup sekali.... (aku merasaaaaa *ngedangdut*) mudik lebaran naik kereta ini. Ampuuunnn".

Dan kemudian, kami melewatkan seluruh lebaran di kota metropolitan ini.

Sampai beberapa bulan lalu. Si om, adik ibu saya, nanya "mau mudik gak lebaran? Sekalian gue cariin tiketnya nih. Sekali-kali lah lebaran dengan keluarga beneran". Hm...

Karena perekonomian alhamdulillah sudah membaik saat ini, maka pilihan kendaraan mudik kami jadi jauh beragam. Adik saya yang gak perlu ngeluarin duit sepeserpun untuk mudik *courtesy of a pretty, nicely, and lovingly sister* ho oh ho oh aja diajakin mudik. Jadilah demikian ini jadwal mudik kami lebaran ini:

Berangkat 18 September 09.30 (kereta Anggrek)
Pulang 26 September 07.00 (Garuda)

harga tiketnya aja uda bikin mengelus dada. Alhamdulillah deh.. masih ada rezeki buat bayar.

Tinggal sekarang pertanyaannya: bagaimana bikin jadwal kunjungan sehingga semua keluarga disana berhasil ditemui hanya dalam durasi 7 hari ini.

Mudik oh mudik.

Tuesday, September 01, 2009

Jackpot di Basko

Sesi perbaikan gizi kami selama team meeting Padang kemarin mengambil lokasi di Hotel Best Western a.k.a Grand Basko Hotel. Saya dapat jackpot di hotel ini. Dapat kamar yang guedee.... Ya sama seperti yang di website ituh. Nanti kapan-kapan saya aplod foto jepretan saya sendiri ya. Ini jackpot beneran, karena saya sebenarnya check in bareng si bos dan satu rekan bule lainnya. Si bule dapat kamar menghadap sungai (yang lebih kecil dari kamar saya), dan si bos ketiban apes dapat kamar yang gak ada jendelanya. Padahal ya, sang admin kantor yang bagian booking-booking uda pesan sebelumnya untuk memberikan kamar terbagus pada si bos. Apa saya yang dikira bos ya???

Sebenarnya justifikasi paling masuk akal dari keadaan ini adalah: admin kami memesan single bed untuk semua orang (11 orang). Waktu saya check ini, si mbak resepsionis bilang, "mbak.. kami mau upgrade kamar mbak, jadi ... (lupa kelasnya) tapi tempat tidurnya twin. Soalnya, yang single bed adanya untuk kelas ... (dibawah yang dipesan)". Nah saya berpikir cepat. Mending kamarnya gede. Uda biasa juga di rumah tidur di tempat yang kecil kan. Dan ternyata ini adalah pilihan yang sangat tepat saudara-saudara! Saya pun membulatkan tekad untuk bikin kamar kayak gini di rumah saya nanti. Hehehe.

Nah kalo hotel yang ini, beneran hotel nih. Makanannya bener. Coffee Break nya enak. Buffet nya juga. Air panas nya jalan. TV nya berisi TV cable. Handuknya diganti setiap hari. Eh..ada welcome fruit nya juga. Dasar lah kami abis kena serangan kurang gizi di Sikuai itu, semangkok buah yang isinya 1 apel merah, 1 apel ijo, anggur, salak, dan jeruk, ludes dimakan. Dan karena nyampe nya di jam tanggung, jam 2, jadi makan malam masih lama. Bahkan dengan buah semangkok itu masih lapar, jadilah kami makan KFC. Welcoming fast food with all our heart deh pasca bencana kelaparan di Sikuai itu. Hehehehe.

Sebenarnya disamping hotel ini ada mall. Tapi belum 100% beroperasi, jadinya counter yang buka baru sedikit. Eh, tapi even dengan keadaan 1/2 buka ini aja, teman saya sempet beli sandal disini. Bukan sandal etnik atau apa. Sandal BATA. Idih..kayak di Jakarta (atau Jogja, atau Bali) gak ada aja sih :p