Thursday, November 26, 2009

Kursus Bahasa Jerman di Goethe

*berhubung kerjaan numpuk, tapi malah kepikiran PR les, padahal belum ada ide mau diapain PR nya, maka lebih baik kiranya kalau saya bagi informasi tentang les di Goethe saja. Siapa tau bermanfaat*

Belajar bahasa Jerman? Ya di Goethe dong.

Well, sebenarnya bukan cuma di Goethe doang sih. Belajar di LIB UI juga bisa. Saya pilih di Goethe karena:

  1. Lokasi. Goethe di Jalan Sam Ratulangi, Menteng. Lebih deket dari kantor daripada ke UI yang di Salemba atau bahkan di Depok.
  2. Pilihan waktu belajar. LIB kalau tidak salah cuma ada 2 pilihan, Senin+Rabu atau Sabtu. Goethe lebih banyak. Ada Senin+Rabu, Selasa+Kamis, dan Sabtu (ada pagi, ada siang). Itu untuk kelas yang ekstensif, artinya seminggu ada 5 jam pertemuan. Masih ada pilihan kelas lainnya intesif, superintensif, dll. Lihat sini atau telpon aja ke Goethe untuk info lebih lanjut.
  3. Customer Service. Berhubung saya gak ada waktu untuk datang dan tanya-tanya, jadi saya mengandalkan informasi hasil browsing dan telpon. Whoever yang ngangkat telpon di LIB dulu, gak informatif. Jawabnya lama dan (buat saya) gak jelas. Yang di Goethe, meski nunggu agak lama untuk bisa disambungkan ke operator, namun informasi nya jelas. Dari kapan pendaftarannya, jam berapa, metode bayarnya, mulai belajarnya. Informasi ini sebenarnya ada di situs nya, tapi I took the chance to crosscheck. Dan ternyata mbak yang jawab cukup pintar. Atau situsnya uptodate. Anyway, informasinya maching lah.
Jadilah sejak Januari lalu saya les di Goethe. Saya ambil kelas yang ekstensif. Seminggu 2 kali. Senin+Rabu jam 18.30-21.00 ada istirahat 15 menit di jam 20.00. Sejak tahun ini Goethe mengubah sistem kursusnya dari yang dulu semesteran (6 bulan) menjadi kuartalan (3 bulan). Kalau tebakan saya sih supaya lebih banyak kesempatan mendaftar, dan lalu makin banyak murid, hehe. Tapi buat para murid ini juga jadi lebih banyak kesempatan 'rontok' nya. Setelah 3 bulan kalau tidak mau, tidak minat, tidak mampu, tidak cocok jadwalnya, bisa udahan.

Tingkat kursus di Goethe banyak bener. Jadi pusing. Karena saya lanjut terus, jadi Desember ini saya di A.2.1 (A Zwei Eins). Waktu A.1.1 guru saya bernama Frau (ibu) Orion, karena beliau sedang hamil besar dan akan cuti setelah meluluskan kami dari A.1.1, jadilah di A.1.2 saya ganti guru menjadi Herr (bapak) Alamson. Dan lalu waktu saya naik ke A.1.3 kelas Senin+Rabu nya ditutup. Kurang peminat kali, hehehe. Jadi deh saya pindah jadi Selasa+Kamis. Gurunya ganti lagi jadi Herr Reynold. Untungnya, pas naik lagi ke A.2.1 saya gak ganti guru lagi.

Cerita tentang gaya mengajar masing-masing guru, di edisi lainnya aja ya. Nanti saya pikirkan dulu apakah diperlukan atau tidak.

Ruang kelasnya kecil, maksimal hanya memuat 20 orang setiap kelasnya. Waktu A.1.1 saya ber-20 sekelasnya. Ramai. Seru. Masih sama o'on nya di kelas. Begitu naik ke A.1.2 'rontok' jadi... delapan orang. Bayangkan betapa sunyi kelas saya jadinya. Ada yang gak lanjut karena sudah harus berangkat ke Jerman, ada yang karena kantornya sudah tak mensponsori, ada yang emang uda gak mau les lagi, ada yang uda dapat kerja (les nya iseng isi waktu saja, sepertinya), ada yang pindah hari. Untungnya ketika naik ke A.1.3 uda nambah lagi jumlah siswa nya. Saya lupa jumlah persisnya, tapi sekitar 18-20 orang kayaknya. Mungkin ini akibat merger kelas ya. Dan di A.2.1 jumlahnya relatif sama, walaupun komposisinya ganti.

Eh biaya belum ya?

Di situs juga ada sih. Saya bagi informasi untuk kelas yang saya ambil aja deh. Buat ekstensif, saya bayar Rp 1.350.000,- per kuartal. Dibayar tunai atau debit BCA waktu daftar. Lalu ada buku pelajaran dan kamus yang beli sendiri. Harganya kalau tidak salah ingat antara 150-200rb. Maaf sudah lama, jadi lupa. Bisa beli di Goethe juga sih, katanya harga sama dengan di luaran. Entah saya gak cek. Di Gramedia juga ada. Di pameran buku juga ada. Bukunya gak ganti tiap kuartal kok. A.1.1 sampai pertengahan A.1.3 kami pakai buku Studio d A1. Setelah itu hingga sekarang saya pakai buku Studio d A2. Btw, kok sekarang di situsnya bilang ekstensif Rp 1.400.000,- ya? Jangan-jangan emang bakal naik nih uang les nya :(

Nah, sekian dulu informasi awal nya. Niatnya sih besok-besok mau berbagi pelajaran les nya dari awal. Sekalian review gitu. Soalnya uda hampir setahun les kok masih merasa belum pinter ya. Ya..sekalian latihan nulis lah, kali aja saya ada bakat bagi-bagi ilmu, hehehe.

Tuesday, November 24, 2009

Kecemburuan Sosial

Tahukah anda, betapa mudahnya kecemburuan melanda pada orang yang setiap hari bekerja di samping anda, ketika mengetahui bahwa ia naik taksi kemana-mana, sementara anda naik bus.

Itu yang pernah terjadi pada saya beberapa waktu terakhir.

Gaya kantor yang open space itu membuat kami semua duduk bersama tanpa dipisah ruangan-ruangan. Kami bekerja dengan meja yang sama. Kadang makan di tempat yang sama. Punya meja dengan tingkat keberantakan yang sama. Sama-sama dikejar bos karena uda lewat deadline, hehe.

Tapi sepatunya beda. Tas nya beda. Gaji, jelas beda, hehe.

"Bujetttt.... dia mah gajinya berjut-jut", ujar kami kalo sedang ngomongin rekan lainnya yang sedang makan di foodcourt sementara kami di kantin.

"Iyalah.... adviser kan beda ama assistant", ujar kami di kali lainnya.

Masa kerja yang 5 kali lipat diganjar dengan gaji yang 4 kali lipat dari saya, wajar aja ya sebenernya. Tapi dasar manusia, saya juga sering berandai-andai, "wah enak kali ya kalo jadi si X, kemana-mana naik taksi. Tas nya bermerk. Bisa pake sepatu hak tinggi tanpa merasa kelelahan".

Dan tebak, ketika tanggal 24 dan gaji belum masuk di rekening masing-masing, siapa hayo yang kehabisan uang?

Bukan saya.

Well, seperti orang pernah bilang, gaya hidup manusia menyesuaikan dengan besarnya pendapatan. Ada kejadian orang yang gajinya 500ribu, habis tiap bulannya. Yang gajinya 5 juta, juga habis tiap bulannya. Yang gajinya 50juta, habis juga setiap bulannya.

Nah sekarang, apakah saya masih perlu cemburu pada orang lain?

Wednesday, November 18, 2009

Buku-buku saya, harta saya

Saya seneng baca.

Semenjak diberkahi keleluasaan rizki, pilihan bacaan saya jadi lebih sesuka hati. Kalo dulu, yang saya baca adalah yang dibaca temen saya. Kan minjem. Harus pasrah ama pemilik. Sekarang, saya bisa pilih sendiri apa yang saya suka. Untungnya, belanja buku itu rasanya jauh beda dengan belanja sepatu, atau baju, atau tas. Kalo buku... bukan foya-foya kan namanya. Bukan hedonis kan. Bukan matrialis kan *
pembelaan diri*. Dan senangnya saya menenteng pulang buku dari toko buku berakibat ruang yang harus saya alokasikan untuk menyimpan buku dari sekedar berjejer diatas meja, lalu ditumpuk diatas meja, lalu diselipin di lemari baju, dan akhirnya mengosongkan lemari dari baju supaya buku-bukunya bisa disimpen dengan lebih layak. Abis kadang suka lupa diri sih, niatnya gak beli buku kok malah pulang nenteng beberapa buku.

Dan lalu penuhlah lemari saya. Beberaoa buku yang sudah dibaca, sempat diceritakan di blog. Sebagian besar gak sempet masuk blog. Alasan sejuta umat: gak sempet.

Dan sampailah saya pada blog Yasmin. Voila. Sebagian buku-buku itu bisa saya titipkan disana. Lemari yang kosong akan memberi arti bahwa saya bisa isi dengan buku-buku lainnya. Apa yang terjadi nanti ketika bukunya sudah dikembalikan? Ya.... mmm.... belum mikir juga sih, hehehe.

Berhubung gak kenal secara langsung sama Yasmin dan Ebi, kamipun janjian ketemuan. Dan berhubung saya jadwalnya penuh *
sok sibuk*, ketemuannya pun dilakukan di mall-segede-gaban-deket-kantor-saya-ituh. Ngobrol ini itu. Nanya ini itu. Dan akhirnya kami sepakat bahwa duo ini akan mengambil buku saya ke rumah. Pake nyasar sampe Bintaro Jaya pula. My mistake. Saya taunya itu pintu tol berjudul "Veteran", ternyata "Tanah Kusir".


Penghuni Bintaro yang jarang lewat + penghuni jakarta timur yang jarang ke selatan = nyasar.

Untunglah, akhirnya mereka berhasil juga nyampe di rumah saya. Dan diangkutlah buku-buku saya itu. Harta saya. Maklum, mau investasi emas, gak cukup duitnya. Tanah apalagi. Saham ngeri.

Selang beberapa bulan kemudian, readingwalk pun beroperasi.

Tuh.. yang rumahnya berada di jangkauan readingwalk, silahkan register, silahkan pinjem.

Monday, November 16, 2009

A wedding and a funeral

Seperti judul film.


Hari Minggu disambut dengan undangan pernikahan seorang teman. Teman SMA. Ah...menikah. Saya ingat suatu hari dahulu, kami bertiga, teman saya ini salah satunya. Kami berbincang khas anak-kuliah-baru-lulus-uda-kerja, pertanyaan standar "jadi, kapan undangannya?" pun digilir satu persatu. Teman saya ini hanya menjawab kalem, "gimana mau nikah....calon aja gak ada. Cariin dong". Dan kami pun lalu tertawa terbahak. Sungguh waktu itu pertanyaannya hanya sekedar basa basi. Saya dan teman lainnya memang sudah punya pacar. Ups, koreksi. Saya punya pacar, teman lainnya, ada calon suami. You know what I mean kan? Hehehe.

Long story short, sekitar dua tahun lalu, teman lainnya ini menikah. Dengan calon suaminya waktu itu. Meski sudah ada episode putus sambung. I am glad to be able to attend her wedding. Dan, minggu kemaren adalah pernikahan teman saya satunya. Yang dulu belum punya calon itu. Yang minta cariin itu. And I am also glad to be able to attend her wedding.

Dan sorenya, kala bayangan kebaya, makanan, pelaminan sang teman belum sirna dari kepala saya, seorang teman lainnya menelpon. Kali ini teman SD. Kali ini ia membawa kabar duka. Ia mengabarkan bahwa seorang teman SD kami lainnya meninggal dunia. Kecelakaan motor. The details are even to scary for me to document here. Its just.....painfull. Saya mengenang bertahun-tahun lampau, almarhum teman kami ini adalah anak yang baik, lucu, ceria. Anak. Iya.. kami kan bergaul ketika masing-masing berusia kisaran 10-12 tahun. Setelah meninggalkan bangku SD pun kami sempat berpapasan di jalan. Adik saya yang bergaul kemana-mana pun akhirnya mengenal almarhum teman saya ini. Ah...for some people, life is too short.

And I began to wander, sudah kuisi dengan apa sajakah hidupku ini?
Is it worth it? The things that I am doing now? Is it?

Friday, November 13, 2009

Pamer



Akhirnya bisa masang nama beneran di newsletter. Senangnya

*yang mau dapat versi lengkapnya, silahkan hubungi saya. Gratis. Berasa artis aja bagi-bagi tulisan gini hahahaha*

Sunday, November 08, 2009

Si Iyra dan skripsinya

Meine neue Freundin, Iyra, akan sidang skripsi besok.
Semangattttt!!!!
Kamu bisaaaaa!!!!
Nih orangnya,
*ehm.. pake baju gini gak keliatan gemuk kan sayanya
*ehm lagi.. pipinya juga gak keliatan tembem-tembem amat
*ehm yang terakhir.. sekalian pamer tas 5-hari-5-malam itu deh

Baiklah, saya kembali dulu menjadi pegawai berbakti bagi negeri ya. Minggu pagi gini ngerjain laporan *sigh*.