02 Maret 2010

Saya memang jarang mudik. Gak dulu. Gak sekarang.

Kalo dulu, mudik adalah ajang untuk ngumpulin sangu. Angpaw. Duit.
Kalo sekarang, mudik adalah upaya menghormati sodara sedarah (lainnya). Biar ndak dibilang ponakan durhaka, hahaha.

Dan baru saja hari minggu kemarin, saya menerima friend request dari salah seorang sepupu saya. Status terbaru nya adalah, "kebersamaan=indah". Dan ketika salah satu temennya bertanya, sedang bersama siapa? Dia jawab, "sepupu yang dari Jakarta datang". Ehm.. yang dimaksud dengan sepupu dari Jakarta itu, adalah saya dan adik saya.

Ihiks.. saya jadi terharu. Padahal selama ini saya selalu menganggap enteng ajang mudik. Saya pikir, gak akan ada perbedaan dampak untuk mereka yang saya datangi. Karena hanya ada tambahan 2 orang anak muda doyan indomi yang datang ke rumah mereka. Ternyata saya salah. Sepupu saya ini, setiap harinya dia tinggal bersama ibu dan adiknya. Hanya berjarak 20m dari rumah mereka, ada tante, om, dan sepupu lainnya. Dalam pandangan saya, setiap hari yang dia lewati adalah "kebersamaan". Iyalah. Kalo dibandingin dengan saya yang harus menempuh ratusan kilometer supaya bisa "bersama-sama".

Saya akhirnya baru mengerti, kenapa buat mereka rame-rame jemput ke airport/stasiun itu menyenangkan. Jajan tahu tek, bakso, atau mi goreng dan dimakan rame-rame itu menyenangkan. Kenapa kunjungan ke Tanggulangin masih disambut dengan antusias padahal rumah mereka hanya 10 menit naik motor ke Tanggulangin. Semua menyenangkan, karena dilakukan bersama-sama.

Mungkin... ini mungkin ya... kalau saya lebih sering mudik, saya lebih merasakan rasa 'kebersamaan'nya.

3 Responses so far.

  1. alhamdulillah.. gitu dong ah...

  2. Erma says:

    *bongkar-bongkar receh buat beli tiket mudik*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -