24 Juni 2010

Sang suami memberikan pertanyaan 'cerdas' semalam. Apa definisi kaya, menurut lo? *iya, kami ber lo-gue*


Jawab saya, "kaya itu ketika kita punya pilihan dan mampu mengambil pilihan-pilihan yang ada". Bingung gak? Sini saya jelasin.

Misal, kita mau makan. Jenis makanannya, ada banyak. Mau fastfood, warteg, restoran keren, kantin. Semua bisa, kalau mau. Mau masak sendiri, mau beli di luar, mau pesan antar, semua bisa. Mau daging, nasi, sayur, buah, semua bisa.

Jadi artinya punya duit buat mengeksekusi pilihan-pilihan yang ada gitu?

Enggak juga sih. Kalau punya uang tapi punya penyakit, jadinya kan makanan tertentu tidak boleh dimakan. Tempat makan tertentu jadi a big no no. Tuh, pilihannya jadi terbatas. Gak kaya lagi deh jadinya *menurut saya*.

Maraknya tulisan mengenai investasi sempat membuat saya tergiur. Siapa yang gak tergiur dengan visi "masa tua foya-foya pake passive income". Atau "beli rumah idaman sekian tahun dari sekarang".

Tapi, dari dulu saya bukanlah orang yang suka bikin rencana jangka panjang gitu. Berkomitmen menyetor uang sekian rupiah selama sekian tahun, saya juga gak suka. Sebagai nasabah setia bank ini, uda beberapa kali ditawarin model asuransi ini itu. Tapi saya selalu bilang, gak mau. Nabung saya bisa. Nyisain penghasilan saya bisa. Tapi memberikan diri saya tanggungan setoran rutin sekian rupiah itu yang saya gak suka. Dan ketemu dengan suami yang gak mau nabung, yang gak mau nyisihin penghasilan di depan. Good bye bye bye lah dengan model investasi konvensional.

Diskusi saya dan suami pun bergeser ke arah, apa yang terjadi dengan uang yang diinvestasikan itu hingga akhirnya menjadi hasil yang lebih besar. Nongkrong tengah malam di McD Kemang, ditengah orang-orang yang sibuk nonton bola, tapi kami sibuk mencecar orang ini tentang bagaimana cara kerja saham. Bagaimana cara kerja reksadana. Dan berbagai sumber pemasukan lainnya.

Nah, hasilnya apa?

Hasilnya: emang motivasi utama orang adalah kebutuhan. Buat kami, kebutuhannya belum ada. Kebutuhan untuk punya harta lebih, belum ada. Seperti kata si suami, "sekarang aja kita uda cukup kok hidupnya. Mau jajan bisa, mau nonton bisa, mau belanja bisa". Jadi keinginan untuk take action nya juga tenggelam didasar kepala. Ditimbun dengan keinginan to live in the present time.

Lagian, buat apa punya uang banyak, tapi gak punya pacar. Jadi gak ada teman untuk menghabiskan uangnya? *disambit oknum E* Atau punya uang banyak, tapi pas iphone ilang gak bisa langsung beli yang baru? *disambit oknum N*

*btw, siapa hayo yang bilang harga emas turun pas musim liburan sekolah? Sekarang harga emas lagi tinggi-tingginya tuh*

6 Responses so far.

  1. keblug says:

    Kesimpulannya : Jual emas mumpung lagi tinggi2nya :D

  2. Erma says:

    tapi belum sempet beli :D

  3. wawoetz says:

    :D jadi inget perbincanganku dengan si doi : katanya kaya yang paling penting adalah kaya syukur karena dengan itu kita bisa merasa lebih dalam keadaan apapun :)

  4. Erma says:

    hm.. kalau aku punya pandangan lain. Keseringan 'bersyukur' bisa bikin orang jadi kurang bersemangat mencapai yang lebih tinggi lagi.

    Btw, ini temennya Keblug ya?

  5. Iya...
    Gak bisa beli yang baru model yang sama, bisanya beli yang baru model yang baru donk :p
    *sombongmenunggudigampar*

  6. Erma says:

    ih tapi belinya kan gak langsung :p

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -