23 Desember 2010

Menjunjung tinggi asas keadilan dan tidak adanya hari bapak, kali ini mari berkenalan dengan bapak saya.


Ketika denger "bapak saya ABRI", komentar pertama temen-temen saya pasti "galak dong". Err... well galak itu relatif. Kalau galak itu artiya saya gak boleh main ke luar, atau gak boleh pulang malam, atau (untuk ABG) gak boleh pacaran, maka bapak saya jelas TIDAK GALAK. Izin keluar rumah lebih gampang didapat dari bapak saya daripada ibu. Pacaran? Bapak saya bilang "sini pacarmu bawa ke rumah aja, jangan pacaran ngumpet - ngumpet di pinggir jalan kayak si anu". Hahahaha. Etapi, kalau saya dan adik berisik rebutan channel TV, bapak saya akan mematikan TV. Kalau saya dan adik rebutan mainan, maka bapak saya akan ambil mainannya dan banting ke lantai supaya berhenti rebutan, kalau saya dan adik berantem mulut, maka bapak saya akan menyodorkan sapu ijuk dan sapu lidi untuk meneruskan 'pertarungan'. Ahem, itu GALAK gak sih namanya?

Dengan latar belakang profesinya, plus hobinya, maka 'jalan-jalan' versi keluarga kami adalah ke airport atau ke Taman Puring.

Kenapa airport?

Jadi, dulu bapak saya ini adalah ajudan (istilah saat ini asisten kali ya) seorang pejabat tinggi TNI AL. Jika sang pejabat ini akan bepergian dengan pesawat, bapak sayalah yang mengantar dan menjemput. Saking 'penting'nya pejabat ini, ada saat-saat dimana ketika ia kembali ke Jakarta, ada 2 mobil yang menyambut kedatangannya di airport. Satu mobilnya dibawa oleh sang supir pribadi, membawa sang pejabat melenggang langsung pulang. Satu mobilnya dibawa bapak saya berisi bagasinya. Bingung gimana caranya? Biasanya beberapa saat sebelum kedatangannya, bapak saya akan ke rumah sang petinggi, ngambil mobil, jemput kami sekeluarga, dan menanti kedatangan sang petinggi sambil piknik di airport. Kadang ibu saya bawa bekal makanan loh. Nah ketika pesawat mendarat, bapak saya yang pakai baju dinas melenggang masuk ke terminal kedatangan bawa trolley (kayaknya sekarang metode ini uda gak bisa dijalankan deh), nemuin sang petinggi, ngambil tag bagasinya dan mempersilahkan sang petinggi menemui sang sopir untuk langsung pulang. Bapak saya lah yang kemudian ngambil bagasinya dan mengirimkannya ke rumah sang petinggi. Liat deh foto saya dan adik di bawah ini, dengan latar bandara Soekarno Hatta sekian puluh tahun lalu.

Ngilu gak sih hati ini saat saya mondar-mandir bandara demi menunaikan tugas negara? Miris gak sih ngebayangin bapak sayagak bisa jemput saya di bandara, diantara dua bulan tergila dalam pekerjaan ini dimana saya punya 5 kali perjalanan pp. Satu ke Padang, satu ke Jogja, satu ke Surabaya, dan dua ke Bali.

Masih mau cerita kenapa Taman Puring? Ah.. kayaknya kurang menarik dibanding cerita bandara ini.

Di suatu hari di ulang tahun bapak, kami makan di luar. Ini adalah hal baru, karena makan di luar sebenarnya bukan budaya kami. Tagihannya setara dengan uang belanja seminggu, kata ibu saya. Jadilah ini satu-satunya pengalaman kami makan di luar sekeluarga. Allah pasti punya rencana dengan 'menjodohkan' saya dengan si suami yang keluarganya doyan (dan sering) makan di luar, dan akhirnya sekarang ini saya jadi jarang masak *cari alesan*.

Yang 'lucu', bapak saya adalah guru mengemudi (mobil dan motor) bagi sebagian besar anak-anak temannya. Tapi Padahal kami tidak pernah punya mobil. Waktu pertama kali nyoba belajar motor, saya nabrak pohon dengan suksesnya, dan menghasilkan luka parut di pipi kanan. Sambil meringis saya pulang dan bilang ke bapak, "err... itu spakbor depan motornya patah pak". Dan jawabnya cuma, "gampang, besok dibenerin". Motor kembali normal dalam waktu singkat tapi nyali saya untuk belajar motor tidak muncul hingga beberapa tahun kedepan. Tetangga sebelah rumah diajari nyetir mobil oleh bapak saya dan diantarkan ke Komdak untuk bikin SIM. Pulangnya, membawa SIM, si tetangga disuruh nyetir mobil bapaknya sampai rumah. Panas dingin. Keringat bercucuran. Etapi selamat sampai rumah kok. Saya sih gak nanya berapa lama waktu perjalanannya hahahaha. Ironisnya, ketika tiba waktunya saya dan adik siap belajar mengemudi mobil, waktu tak bersahabat dengan kami.

Bapak saya mengetahui bahwa dirinya punya tekanan darah tinggi dan diabetes tepattt setelah pensiun. Padahal, ketika masih bertugas, rapor tes kesehatan tahunannya selalu ok. Beliau pernah mengejutkan kami ketika tau-tau muncul di rumah padahal harusnya sedang opname di rumah sakit. "Membosankan, cuma disuruh tidur dan minum obat doang", jawab bapak ketika kami tanya kenapa pulang. Dan ketika kami tanya bagaimana caranya keluar dari rumah sakit, "bilang aja sama si suster, mau main ke rumah temen di komplek AL di belakang rumah sakit". Wahahaha... di mata bapak saya , hidup dibuat tidak rumit.

Beliau meninggal ketika saya kelas 2 SMA. Di pelukan ibu saya. Saat mereka sedang berbincang santai di teras rumah. Sejak saat itu saya meyakini, manusia meninggal karena Allah memutuskan masa hidupnya telah berakhir. Saya berhenti bertanya "kenapa?".

Warisan terbesar yang ditinggalkan bapak saya pada kami bukanlah tabungan puluhan juta, bukan rumah, bukan mobil. Tapi pertemanan erat dengan teman-temannya dari berbagai kalangan. Pertemanan ini yang memastikan saya selalu bisa melunasi SPP tiap semester di UI. Pertemanan ini yang memastikan saya dikunjungi mbak Migi dan mas Bebi di hari pernikahan saya.

Bapak, kenalkan suamiku. Chairul Alamsyah. Bukan orang Jawa. Bukan orang Betawi. Orang Padang dia. Etapi gak pelit kok orangnya hahahaha *disambit orang Padang*

Bapak, terima kasih. Sampai jumpa. Kelak.

7 Responses so far.

  1. Winy says:

    gw selalu jadi sedih kalo inget bapak lo ma, tapi pas baca artikel ttg ibu lo gw malah ketawa. mungkin karena narsis lo ga ktinggalan ada di sana :p

  2. *menahan titik-titik air mata*

  3. Erma says:

    @ Winy & Ira: :)

  4. fitri says:

    saya terharu..

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -