23 Desember 2010

Menyambut hari ibu dan hari ulang tahun saya sesudahnya, mari saya perkenalkan ibu saya.


Ibu saya adalah ibu rumah tangga tulen. Menikah pada usia 21 tahun dengan latar belakang pendidikan guru agama, rasa-rasanya ibu saya tidak pernah mengalami bekerja secara profesional. Keahliannya (yang merupakan warisan turun temurun dari keluarga ibu saya) adalah membordir, jadi gak heran kan kenapa saya hobi mainan sama bahan walaupun belum bisa jahit atau bordir. Kami tidak banyak berbincang atau curhat ibu-anak layaknya Gilmore Girls, namun saya akui momen-momen yang saya rindukan adalah momen dimana saya nongkrong di dapur nemenin ibu saya masak, bangun pagi ikut belanja ke pasar biar bisa minta beliin kue-kue, bikin kue lebaran. Kadang-kadang kalo lagi waras saya belajar masak, tapi sampai sekarang gak ada keahlian yang berhasil saya serap. Abisan, yang dikasih ke saya cuma kerjaan cemen macam motong buncis, motong wortel, ngupas bawang putih. Ngulek bumbu, sampai saat ini saya gak bisa.

Kekuatan batinnya diuji ketika bapak saya meninggal saat saya kelas 2 SMU. Saya yakin insting pertama yang muncul di kepala ibu saya saat itu adalah pulang ke kampung, hidup berdekatan dengan adik-adik nya (2 perempuan dan 1 laki-laki) dan meneruskan hidup di kampung halaman. Namun saya dan adik saya tidak menunjukkan keinginan untuk meneruskan hidup di kampung. Kami ingin terus merasakan ramainya ibukota. Saya bahkan sudah menyatakan bahwa cita-cita saya adalah "memakai jaket kuning" (baca: masuk UI). Tanpa protes, ia pun mengabulkan keinginan kami.

Ujian batin berikutnya adalah ulah adik saya yang bawa parang ke sekolah. Iya, bawa parang. Karena saya dan adik saya bersekolah di SMP yang sama, meski gak pernah dalam waktu yang sama, maka guru-guru SMP saya shock waktu tau bahwa si anak-yang-bawa-parang itu adalah adik dari anak-baik-rajin-belajar-dan-mengerjakan-PR-bernama-Erma.

And after that, life did not get easier for her.

Lulus SMA, saya diterima di STAN dan UI. Tanpa mengucap, saya tau bahwa harapan ibu saya adalah saya pilih STAN. Karena GRATIS. Dan karena PASTI dapat kerja sesudahnya. Tapi si anak sok tau ini gak mau milih STAN, karena -ehem- kalah keren daripada UI *ditabok anak STAN*. Setelah diyakinkan oleh seorang teman bapak saya yang kerja di UI bahwa ada banyak beasiswa dan keringanan SPP di UI, restu pun diberikan pada saya. Bertahan hidup di Jakarta dengan Rp 700.000,- per bulan uang pensiun dari almarhum bapak saya tentu tidak mudah. Tapi kami bertahan. Karena hanya bisa menyisihkan Rp 100.000,- per bulan buat saya kuliah, maka ibu saya bangun pagi setiap harinya, bikin sarapan buat saya (dan adik), lalu membungkus bekal makan siang saya. Rp 100.000,- waktu itu hanya cukup untuk ongkos Bintaro-Depok-Bintaro selama sebulan. Tapi toh saya bertahan. Bisa belajar. Bisa lulus. Dari situ saya percaya, rezeki manusia tidak hanya yang terlihat saja. Ada banyak sekali rezeki yang tidak kasat mata.

Ibu saya memastikan benjolan di payudaranya berbahaya baru setelah bapak saya meninggal. Dari sana perjalanan hidup kami diwarnai dengan beberapa kunjungan ke Rumah Sakit. Tanpa bermaksud merepotkan kami anak-anaknya, ibu saya periksa ke rumah sakit ditemani madame, teman terdekatnya. Madame ini juga yang menutupi semua kerepotan urusan rumah sakit dan mengambil alih peran mendampingi ibu saya.

Hati saya kadang masih tersayat saat melihat saldo tabungan setiap habis gajian. Saya gak pernah dapat kesempatan untuk "makan-makan gaji pertama" sama orang tua saya. "Jalan-jalan ditraktir anak" juga jadi kesempatan yang hilang. Saya gak dapat kesempatan untuk menunjukkan bahwa kuliah di UI pun akhirnya saya bisa dapat kerjaan yang asyik, di kanor yang asyik, dengan rekan kerja yang asyik, bisa menabung dengan asyik pula.

Tapi Allah maha tahu. Saya percaya ini yang terbaik. Untuk ibu saya, untuk saya, dan untuk adik saya.

Ibu, selamat hari ibu. Sampai jumpa kelak. Pada waktunya.

4 Responses so far.

  1. bunda says:

    ini kenapa sedih-sedih aja sihhhh postingnya.. *bercucuran air mata*

    Ya ampyunn saya baru sadar erma pinter *nasib anak nyoba stan tapi ditolak*

  2. Erma says:

    Ini komen dari Ira jg kan ya?

  3. Erma says:

    ciee.. bundaaa

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -