25 April 2011

Berikut ini tipikal dialog antara saya dan orang lain:


Sekarang kerja dimana Ma?
Enggak kerja
Lha terus?
Di rumah aja
Kenapa gak kerja?
Proyek nya kan uda abis
Lha lu bukan karyawan tetap?
Bukan dong. Kepegawaian gue ya sesuai dengan umur proyek
Terus gak nyari-nyari lagi?
Belum
Kenapa?
Belum mau aja
Iya sih, sekarang kan enak ya, uda ada suami yang nanggung
*krik… krik… krik…*

Jadi, dari 31 Desember 2010 lalu, seiring dengan berakhirnya proyek tempat saya bekerja, maka berakhir pula status kepegawaian sang pegawai kontrak ini. Sedih? Enggak juga. Lha wong dari dulu juga uda tau bahwa proyek ini akan berakhir di tanggal di atas. Senang? Iya, soalnya gak perlu ngarang alas an untuk tidak bekerja lagi hehehe. Jadi tahun baru 2011 buat saya sekaligus berarti masa baru, masa di rumah saja.

Kalau orang lain mungkin akan mengisi masa-masa di rumah saja ini dengan (ehm) konsentrasi bikin anak *busyet bahasanya* atau konsentrasi nyari kerja, atau konsentrasi- konsentrasi lainnya, maka saya punya cita-cita yang lain. Sejak beberapa bulan terakhir bekerja, saya sudah menyatakan pada sang suami bahwa nanti pas sudah gak kerja saya mau:

Belajar jahit

dan

Ikut kursus bikin kue di Makicakes

Kenapa belajar jahit? Karena selama ini saya merasa belum terpuaskan dengan baju-baju yang saya beli, kurang longgar lah, kurang cantik dekorasinya lah, kurang panjang lah, motifnya kurang oke lah. Coba ngejahitin ke orang sudah pernah, tapi juga kurang terpuaskan, kurang cepatlah jadinya, kurang terbuka menerima masukan saya lah (padahal kan baju baju saya), dan utamanya kurang murah hahahaha. Jadi, demi memenuhi kebutuhan diri sendiri, saya belajar jahit. Jika dalam proses belajar nya kelak saya mendapati kegiatan ini mengasyikkan, maka tidak mustahil saya menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan jangka panjang. Sekarang belajarnya uda sampe mana? Baru 9 modul dari 20 modul yang direncanakan. Cerita lengkapnya di posting lainnya *tebar-tebar janji surga*.

Kenapa bikin kue? Kenapa di Makicakes? Karena selama ini saya pembaca setia blognya Mbak Yulia ini. Selain kue-kuenya naudzubillah lucu dan menggemaskan, cerita di balik layar nya juga mengasyikkan untuk diikuti. Dari baca blog ini, saya makin yakin bahwa kalo namanya passion maka yang gak bisa jadi bisa, yang capek jadi mengasyikkan, yang pusing jadi bikin penasaran, dan yang mustahil jadi tantangan. Singkatnya, si mbak yang lulusan STM lalu bekerja di perusahaan telekomunikasi ini tiba-tiba dapat wangsit pengen bisa bikin kue, tanpa bakat tanpa peralatan tanpa latar belakang, dia memutuskan belajar bikin kue. Berkali-kali gagal (bantet, gosong, kepedesan karena kebanyakan mint), berngantuk-ngantuk (karena percobaan bikin kuenya dilakukan malam hari padahal pagi siang sorenya kerja kantoran) adalah fase-fase yang tidak membuatnya putus asa. Jadi, bukan bakat yang menentukan kesuksesan seseorang, tapi kerja keras dan pantang menyerah *cieh gueee*. Untuk itu, saya bercita-cita melihat langsung sang idola melalui sebuah kursus bikin kue.

Kalau uda ngelakuin dua hal diatas, terus mau ngapain lagi?

Ya masih banyak.

Setelah bisa jahit, saya masih pengen bikin bermacam-macam baju buat diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

Saya juga masih pengen nyoba masak. Masak makanan. Sayur dan lauk gitu (meski masak seminggu sekali aja uda untung)

Saya juga masih pengen nyobain resep-resep kue (meski diawali dengan aneka kue yang disediakan oleh tepung ajaib PONDAN hehehe).

Saya juga masih pengen nyobain resep-resep pudding (meski nikmat dan mudah, tepung pudding Haan tidak boleh dijadikan satu-satunya sumber pudding).

Saya juga masih pengen ngurusin badan *ebusettt dari dulu belum kurus juga*.

Saya juga masih pengen bikin rumah jadi bersih *ebusettt bertahun-tahun masih belum bersih juga*.

Emang lu gak butuh duit ya? Begitu biasanya tanya orang.

Butuh. Tapi duit itu bukan raja, bukan tujuan. Duit itu adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Kebutuhan dan keinginan ini ada yang untuk masa kini (present) dan ada yang untuk masa depan (future).

Terus duitnya dari mana? Sumber dana itu kan bisa macam-macam. Bukan CUMA dari suami. Hidup hemat dari tahun 2005 sampai tahun 2010 harusnya bisa menghasilkan sesuatu dong. Kalau orang lain langsung ganti HP dengan yang terbaru, saya setia make HP sampe batrenya gendut dan beli batre baru terus menerus terasa tidak ekonomis lagi, baru ganti HP. Kalau orang lain make tas dan sepatu bermerk, saya setia aja make tas dan sepatu murah-murah yang penting lucu. Kalau orang lain langsung beli DVD, TV, dan peralatan elektronik lainnya, saya nunggu sampai tabungan yang saya miliki sejumlah 10x dari harga barang yang mau saya beli (biar gak shock karena tabungan berkurang drastis). Nah perbedaan keputusan-keputusan di masa lampau ini, yang menghasilkan perbedaan keadaan di masa kini. Hasilnya, saya bisa punya tabungan yang memungkinkan saya memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga untuk beberapa bulan kedepan meski tidak ada pemasukan bulanan. Istilah kerennya adalah dana darurat.

Mau tau rahasia menabung ala saya?

Berapapun gaji kamu saat ini, pastikan untuk menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung. Langsung potong aja ketika gajian. Bikin rekening baru untuk tabungan. Rekening tabungan ini buku atau ATMnya disimpan di rumah aja. Jadi gak kejadian uang tabungan kepake untuk belanja. Nabungnya berapa? Terserah kamu. Pilih satu angka, dan pastikan tiap bulan menabung sejumlah itu. Kalau saya, minimal 25% dari gaji. Ketika gaji naik, naikkan juga persentase tabungan itu, tidak usah terlalu besar, yang penting persentasi tabungan meningkat, jumlah rupiah di tabungan tentu meningkat, tapi jumlah rupiah yang ‘boleh’ dihabiskan juga meningkat. Misal:

Gaji 2.000.000. Nabungnya 500.000. Pengeluaran 1.500.000. Tabungan 25%. Pengeluaran 75%.

Gaji 3.000.000. Nabungnya 1.000.000. Pengeluaran 2.000.000. Tabungan 33,33%. Pengeluaran 66,66%.

Sedap kan? Punya 500.000 ekstra buat dipake, tapi juga memasukkan 500.000 ekstra ke tabungan. Gaji bertambah, pengeluaran juga boleh bertambah.

Gaji 4.000.000. Nabungnya 1.500.000. Pengeluaran 2.500.000. Tabungan 37,5%. Pengeluaran 62,5%.

Menurut saya sih sah-sah aja kalau ketika gaji lebih besar, pengeluaran juga lebih besar. ASAL, tabungannya juga lebih besar hehehehe. Nah pola diatas diterusin aja. Misal uda sampe gaji 10 juta gitu, kan porsinya jadi begini:

Gaji 10.000.000. Nabungnya 5.000.000. Pengeluaran 5.000.000. Tabungan 50%. Pengeluaran 50%.

Nah, ada yang mau bagi-bagi rahasia menabung lainnya? Silahken.

3 Responses so far.

  1. keblug says:

    salah satu rahasia menabung ku adalah dikirim ke rumah!

    defaultnya klo duit udah masuk rekening emak, susah keluarnya hahahaha...

    *gw ga bermaksud membuatmu sedih lho ma, kan critanya bagi2 rahasia :)

  2. Sama sih.. disimpan ke tabungan lain.. tanpa atm. Tapi persenannya ga segede itu... hiks.. nanti penghasilan saya coba ya Ma.. dikau bikin persentasi tabungannya. hihi...

    terus udah persenannya ga segede itu.. cuma kadang-kadang aja ngisinya.. kalau lagi ga pengen belanja.. ohhhh sungguh terlalu

  3. Erma says:

    @Keblug. Ih gapapa kok. Btw, itu maksudnya dikirim ke emak adalah dikasih atau dititip gitu kah? Dititip kali ya, kalau dikasih masak mau diminta lagi? *nanyadanjawabsendiri*

    @Ira. Ayo, dimulai nabungnya. Mulai di 25% aja, atau 20% kalau keberatan. Saran gue buat yang kurang kuat iman (macam lo ini) adalah dipotong di depan aja, dan janjiin sama diri sendiri gak diambil kecuali untuk urusan hidup dan mati *ebusettt dramatis amat ya*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -