16 June 2011

(1) Jangan buang sampah sembarangan

Kamis, 16 Juni 2011

Bapak dan ibuku mengajarkanku untuk menjaga kebersihan. Tak diperbolehkannya aku membuang sampah sembarangan. Tempat sampah selalu tersedia di penjuru rumah kami. Aku dan kakakku bergantian mengosongkannya dan menaruh sampah-sampah kami di depan rumah. Keluarga kecil pengangkut sampah biasanya datang mengambil sampah di rumahku dan rumah-rumah lain di komplek rumahku setiap dua hari sekali. Rumahku selalu bersih dari sampah.

Pagi ini keluarga pengangkut sampah itu datang. Kali ini sang ibu membawa tiga orang anaknya. Aku tak tau berapa jumlah anak dalam keluarga ini. Si anak pria, yang tampaknya anak terbesar, mendorong gerobak. Ibu, dan si anak wanita mengosongkan tong sampah rumah kami dan memindahkannya ke gerobak mereka. Si anak kecil, yang tampaknya baru berusia tujuh tahun, berjalan hilir mudik mengikuti ibu dan kakak-kakaknya.

Aku sering berjalan mengelilingi komplek rumahku. Aku suka rumputnya yang hijau dimana-mana. Aku suka melihat anak-anak dan orang dewasa bermain bola di lapangan. Kadang aku berdiri memandang mereka, namun mereka memandang aneh ke arahku. Aku tak tahu mengapa.

Aku juga suka melihat orang-orang upacara sebelum masuk kantor. Waktu kecilku dulu, aku bercita-cita menjadi tentara. Seperti bapakku. Tapi aku lupa kenapa aku tidak masuk tentara. Yang kuingat hanyalah aku berdiri di depan kelas dan menuliskan rumus matematika kepada sekumpulan anak berbaju merah-putih. Tapi aku masih selalu hormat kepada bendera merah putih. Aku selalu berjalan tegap layaknya seorang tentara.

Setiap berjalan di luar rumah, aku selalu melihat ke bawah. Memandangi banyak sekali sampah berserakan. Bekas minuman dalam kemasan plastik, kertas-kertas, dan dedaunan. Apakah mereka yang habis minum tidak diajarkan orangtuanya untuk membuang sampah dengan benar? Apakah mereka yang selesai membaca tidak diajarkan membuang sampah dengan benar? Apakah mereka yang menanam pohon di depan rumahnya tidak diajarkan untuk mengumpulkan dedaunan yang gugur di tempat sampah. Aku tak tahan melihat sampah-sampah ini berserakan. Kupunguti sampah-sampah yang berserakan. Kumasukkan dalam kantong celanaku. Nanti akan kubuang di tempat sampah depan rumahku. Ibuku pasti senang padaku.

Tetapi, kenapa orang-orang ini memandangiku dengan sembunyi-sembunyi dari kejauhan? Kenapa mereka tak mengajakku bicara? Kenapa mereka menertawaiku? Dan kenapa kulihat mata ibuku berkaca-kaca ketika memandangku?

Hari ini, ketika kuambil gelas air mineral di tengah jalan, kudengar mereka berkata, “kasihan si Dian, makin hari makin parah aja”.

Kemarin, ketika kuberjalan dengan lurus dan tegap layaknya seorang tentara, kudengar mereka berkata, “ah, kakaknya pasti belum datang membawa obat”.

Dua hari lalu, ketika kuhormati bendera merah putih, mereka berkata, “jangan-jangan dia sudah jadi gila”.

Dan saat ini, kulihat ibuku berbicara di telepon dengan Jon, kakakku yang tinggal tak jauh dari rumah kami, “Jon, bawakan obat untuk Dian ya. Beberapa hari ini dia bicara tak karuan. Ia berteriak-teriak seperti sedang upacara bendera. Ia berjalan lurus tanpa melihat apakah ada mobil atau motor di sekitarnya. Ia mengantungi makin banyak sampah di celananya. Kasihani adikmu Jon. Datang dan bawakan obat untuknya.”

Apa yang salah denganku?

Apa aku gila?

*ini ceritanya cerpen ya. Saya gak ganti nama jadi Dian. Silahkan kritik dan sarannya*

3 komentar:

susetyo jauhar arifin said...

eitt... mulai nulis Cerpeng ya, cerita gepeng..
btw... bagus.. seperti pengalaman pribadi ya. hehehe

ekalong said...

huweee....
gw baru (sempet) baca nih, mba.
bahasanya 'ngalir'. enak utk diikuti.
ditunggu sambungannya ya..

Erma said...

@mas suset. buset... apa pula itu cerita gepeng

@eka. makasih eka... *jadi GR* bolu meranti nya mana *tetetppp*