08 Juli 2011

Mantra 'The Secret' menyatakan kalau kita menginginkan sesuatu dan memikirkannya terus-menerus, maka alam semesta akan membantu mewujudkannya.


Saya gak percaya.

Memikirkan saja tidak akan cukup. Kalau ditambah dengan cari jalan supaya tercapai, cari tau apa yang bisa dilakukan, dan lalu berusaha mewujudkannya, barulah keinginan itu MUNGKIN tercapai. Ih, saya terlihat skeptis bener ya?

Anyway, saya pikir mantra ini berlaku untuk hal-hal yang kita INGINKAN. Kalimat positif gitu maksudnya. Misal: saya pingin punya mobil, saya pingin punya rumah, saya pingin liburan ke luar negeri. Kayaknya sih gak ada contoh untuk kalimat-kalimat negatif macam: saya gak pengen sakit, saya gak pengen miskin, saya gak pengen dipecat. Lagian konon kabarnya, kalau kita bikin pernyataan dalam bentuk kalimat negatif, kata TIDAK nya jadi hilang dalam pikiran, yang kejadian malah saya pingin miskin, dst. Idih....

Sampai pada suatu hari, saya sedang bingung gimana caranya supaya bisa 'menghentikan' kebaikan-kebaikan yang saya terima dari orang sekitar. Loh kok kebaikan minta dihentikan? Baca terus deh.

Meneruskan yang dilakukan almarhum bapak (dan kemudian juga diteruskan oleh almarhum ibu), saya membantu mantan atasan bapak saya untuk membayar tagihan listrik rumahnya. Nalangin didepan gitu, istilahnya. Berhubung punya segambreng aktivitas, sering keluar kota ngurusin bisnis atau mengunjungi anak cucu, atau liburan, sang nyonya rumah sering kelewat bayar tagihan listriknya. Di zaman auto billing dan internet banking gini, masih banyak tau orang yang belum ngeh cara memanaatkan kemudahan ini. Long story short, biasanya di awal bulan, saya bayarkan dulu tuh tagihan listrik senilai antara 1-2 juta *rumahnya guedeee, dan ada kost-an ber-ac, kalau ada yang nanya listrik kok mahal amat*. Nanti di akhir bulan (yang pada keadaan normal harusnya uda kena denda), sang ibu baru lalu mereimburse nya kepada saya sekaligus minta struk bukti pembayarannya. Hal gampang buat saya, karena di zaman auto billing dan internet banking gini, saya toh masih tetep bayar tagihan listrik lewat atm tiap bulannya. Metode reimbursenya adalah: si nyonya rumah sms ke saya nanya (lagi) jumlah tagihannya - biasanya abis saya bayar juga uda langsung di sms ke nyonya - lalu dia kirim lah sopir atau asisten rumah tangganya ke rumah saya (cuma berjarak sekitar 500m) dengan uang dalam amplop DAN kantong belanja kertas yang isinya 'sedikit oleh-oleh dari ibu'. Isinya bervariasi, pernah tas kecil, tas ukuran sedang, baju tak berlengan, jilbab (iya, dia tau saya pake jilbab), kalung batu-batuan, parfum. Gak bertema ya? Saya pikir juga gitu. Lha wong pernah juga isinya kaos, lipstik, eye shadow merek cina, atau yang paling bikin bingung, tempat naruh pulpen di meja gaya jadul, yang ada pelat mirip pigura nya gitu. Saya uda pernah bilang, "gak , "ga usah repot-repot ibu". Yang tentunya dijawab dengan, "oh gak repot kok mbak". Oh susahnya berbahasa dengan ibu-ibu yang sudah kenyang bahasa basa-basi.

Di saat saya sedang memikirkan dalam-dalam bagaimana cara 'menolak' pemberian ini dengan penuh sopan santu, tau-tau pemberian ini berhenti. Sejak dua bulan lalu, reimburse yang diberikan si nyonya rumah tidak lagi disertai tas kertas. Yipiii... Baru kali ini saya senang ketika orang menghentikan kebaikannya pada saya. Si nyonya rumah bagai bisa membaca pikiran saya aja. Hahahaha.

Sudah bosan bacanya?

Kalau belum, masih ada contoh kasus kedua.

Saya punya tetangga super baik hati. Dari sederet kebaikannya pada saya dan keluarga saya, ada satu lagi tindakan Madame yang bikin saya speechless. Jadi, jemuran kami saling berjejer. Saya yang masih punya sedikit space terbuka dengan atap yang menjorok keluar dengan damai dan tentramnya bisa meninggalkan jemuran berhari-hari tanpa khawatir kehujanan. Madame, spacenya sudah terbatas sehingga setiap gerimis atau hujan, beliau harus segera mengamankan jemurannya. Yang sudah kering dimasukkannya ke dalam rumah, yang belum (atau setengah) kering diletakkannya ke jemuran saya. Tenang aja, masih banyak space kok di jemuran saya. Lha wong cuma bertiga dan nyucinya juga seminggu dua kali *bandinkan dengan keluarga madame yang sekarang bertujuh, dan nyuci tiap hari*. Nah, ketika mengangkat jemurannya yang sudah kering (baik di jemurannya sendiri, atau yang diletakkan di jemuran saya), beliau juga melirik ke jemuran saya. Yang sudah kering, diangkatnya pula. Iya, diangkat. Kalau anda pikir beliau mengamankan dari ancaman kehujanan, anda salah. Karena setelah diangkat, disetrika, diberikanlah tumpukan baju yang sudah rapi dan wangi itu ke rumah saya. O M G. Yang pernah dapat perlakukan seistimewa ini, silahkan angkat tangan!

Gak ada kan?!

Karena malu hati menambah pekerjaan rumah tangga madame yang tentunya uda berkali-kali lipat daripada saya, jadilah saya kucing-kucingan. Mendadak saya jadi rajin ngeliatin jemuran. Biar pas ada yang kering bisa langsung diangkat. Serius deh. Malu akuh bajunya disetrikain ama madame. Karena dari zaman dahulu kala ibu saya uda nyuruh saya dan adik saya nyuci dan nyetrika baju masing-masing. Memang berbeda dengan madame yang masih menghandle cucian dan setrikaan baju anak-anaknya *meski ada yang nyuciin dan nyetrikain juga sih*. Etapi teteppppp ya... Isin akuuuuu. Metode to the point bilang, "madame gak usah diangkatin lah jemuranku, santai aja... baju masih banyak kok hehehe". Tentu tidak ampuh. Saya kehilangan cara bagaimana ngomongnya tanpa menyinggung perasaaan madame. Apalagi belakangan ini saya sering nginep di Depok, jadilah jemuran saya makin rentan.

Di tengah kebingungan saya menentukan sikap dan ucapan *halahhh*, saya mendapati bahwa madame sudah tidak lagi mengangkat jemuran saya. Just like that. Sudah sekitar sebulan ini. Alhamdulillah. Lagi, rasanya seperti pikiran saya bisa dibaca oleh madame. Semoga sih tidak disertai dengan ketersinggungan.

Jadi, apakah ini juga merupakan efek dari "the power of mind"?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -