09 September 2011

Sebagai tindak lanjut atas pertemuan mantan anak SD kemarin *hyperlink nya gimana ya?* (lihat postingan 'When I was a Little Girl di posterous) kemarin saya dan teman saya Mia, mengunjungi rumah Mila. Kunjungan yang saya pikir akan berdurasi maksimal 2 jam ternyata molor jadi 4,5 jam. Bukan isi obrolan ngalor ngidul khas perempuan yang akan jadi topik postingan ini. Bukan juga soal resep american risoles yang Mila bikinkan untuk kami. Bukan juga soal anaknya yang hobi bilang "enggak boleh". Tapi tentang budaya memberi hadiah (biasanya uang) saat pergi kondangan.

Mila dan suaminya (yang adalah teman SMP dan SMA) saya bersikeras memberikan kado pernikahan untuk saya. Fakta bahwa 10 April 2010 sudah lebih dari setahun lalu, tak diperdulikan mereka. Bahwa yang saya harapkan dari mereka saat saya undang 'makan-makan' 10 April itu HANYA kehadiran mereka, tidaklah cukup. Bahwa bermotor dari Bintaro Sektor 9 coret ke Senopati sambil bawa anak 2 adalah hadiah yang sudah lebih dari cukup. Datang kondangan itu harus sambil ngasih sesuatu, prinsip mereka. Jadi keputusan saya dan suami untuk tidak menaruh tempat angpaw di Omah Sendok waktu itu dianggap mereka (dan banyak orang lainnya) tidak lazim.

Tidak sesuai budaya kita, sebagian orang bilang. Budaya apa? Budaya menerima uang (atau hadiah) sebagai timbal balik makan-makan, dan bukan sebagai hasil kerja keras? Budaya menganggap nilai uang hadiah yang diberikan sebanding dengan lokasi dan jenis makanan yang disajikan? Setahu saya, budaya itu bikinan manusia. Jadi, selama saya masih menjadi manusia, saya juga boleh dong bikin budaya sendiri? Ya kan?! Ya dong!

Ih nolak rezeki, kata sebagian lainnya. Ehm. Justru karena kami gak nolak rezeki, akhirnya kami bisa undang makan-makan. Lagipula, kami gak nolak hadiah yang sudah dibungkus rapi, atau ditenteng jauh-jauh dari Depok, atau hasil musyawarah dan patungan temen-temen kantor. Yang kami tolak adalah tangan-tangan yang 'maksa' berusaha menyelipkan amplop pada tangan kami saat kami salami. Maksa, karena absennya tempat angpaw harusnya jadi pertanda jelas bahwa anda-anda bisa menyimpan kembali amplop yang sudah anda bawa.

Saya masih ingat, bertahun-tahun lalu, saya sering menemani ibu saya beli kado untuk undangan pernikahan yang diterimanya. Mayestik adalah tempat favorit ibu saya untuk membelinya. Peralatan rumah tangga macam piring oval besar, panci, mangkok pyrex atau setengah lusin gelas cantik biasanya jadi pilihannya. Kali lain digantinya dengan handuk besar atau sajadah.

Dan saya masih ingat setelah itu ada masa dimana undangan yang diterimanya bertuliskan (kecil-kecil tapi jelas) "Akan sangat berterima kasih jika tanda kasih yang diberikan tidak berupa hadiah atau karangan bunga". Tulisan inilah yang diartikan sebagai "jangan kasih kado, kasih uang aja". Undangan masa kini tidak lagi menyertakan tulisan kecil-kecil seperti itu. Tapi semua meja tamu kini dilengkapi gentong besar, atau kotak, atau guci yang diberi lubang pipih sepanjang 5 cm yang (ehm) disepakati sebagai tempat anda memasukkan 'sumbangan' anda untuk hidup berumah tangga sang pengantin. Lagi-lagi, ini semua kebiasaan, budaya, yang adalah buatan manusia yang gak ada dasar hukum atau dasar agamanya. Jadi, sebagai manusia tulen, saya juga boleh dong bikin budaya saya sendiri. Bukan begitu bukan?

Anyway, malam itu saya pulang membawa panci besar bertutup kaca, yang dipilihkan khusus oleh Mila dan suaminya. Yang sudah disimpannya cukup lama karena gak kunjung sempat ke rumah saya. Yang diiringi kenangan akan perabotan rumah tangga pertama yang mereka miliki, 5 tahun lalu saat mereka memutuskan untuk tidak lagi tinggal dengan orangtua tiga hari setelah hari pernikahan. Mereka bilang, "waktu itu kami sibuk beli sapu, ember, gayung, tapi kami gak perlu beli penggorengan teflon, karena ada seorang teman yang menghadiahi kami penggorengan teflon". Saya mesem-mesem karena ingat bahwa 'teman' itu adalah saya. Karena saya masih ingat Carrefour lah tempat saya membeli hadiah itu. Karena saya ingat bahwa teflon itu menyisihkan kaca kamar mandi, tea set, dan setengah lusin gelas yang waktu itu jadi alternatifnya.

Karena kenangan dan perasaan semacam ini, saya gak pernah menolak hadiah yang diberikan. Meski satu tahun lima bulan sudah berlalu.

Published with Blogger-droid v1.7.4

4 Responses so far.

  1. Aku terharuuuu bacanya hiks.

    eh aku belum ngasih kado ya..

  2. Erma says:

    Iya, kasihnya kado aja ya, jangan amplop *kepedean*

    Kadonya jangan BB ya, rumah aja, mobil juga boleh, voucher taxi buat setahun juga boleg *ngelantur*

    Btw, cepet amat ini komennya ya?

  3. ekalong says:

    keknya gw tinggal copas comment-nya jeng capcai deh.. hehe

    anyway, terjawab sudah wondering gw 1 tahun lima bulan yg lalu..

    lo emang no.1, mba, buat "ngelawan arus" gini. #acungjempol

  4. Erma says:

    Ira mau ngasih kado untuk menebus ketidakdatangannya tauk *disiram pake mi saos padang*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -