29 Oktober 2011

Dalam perjalanan 'karir' saya selama lima tahun, lebih dari empat tahun diantaranya membawa saya bekerja pada lembaga internasional. Satu setengah tahun di lembaga non profit dari Perancis, membangun kesiapsiagaan masyarakat kota dalam menghadapi banjir. Penyandang dananya adalah Uni Eropa. Tiga tahun di perusahaan yang jadi perwakilan Jerman dalam membangun sistem peringatan dini tsunami. Penyandang dananya adalah Pemerintah Jerman.

Pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya waktu itu adalah: buat apa mereka 'menghamburkan' uangnya disini? Di Indonesia. Apa 'udangnya'? Itu loh, peribahasa Ada Udang di Balik Batu.

Jerman tidak terancam tsunami, jadi buat apa membangun sistem peringatan dini tsunami berharga jutaan euro?

Banjir bukan ancaman di negara-negara Uni Eropa. Disana kayaknya gak ada perkampungan di pinggir sungai besar yang hampir setiap tahun dilanda banjir besar.

Jadi, buat apa?

Kalau sudah hubungan bilateral antar negara, menurut saya sih kata IKHLAS gak ada di kamus. Pasti ada tujuannya. Apalagi ini adalah proyek grant bukan loan.

Pertanyaan ini saya ungkapkan ke beberapa orang. Lain orang, tentu lain jawabannya.

Seorang teman saya yang sudah lama bekerja di bidang ini menjawab bahwa negara-negara berkembang (seperti Indonesia) adalah tempat mereka memasarkan barang dagangannya. Jadi masyarakat kita adalah pembelinya. Untuk memastikan barang dagangan mereka bisa terus terjual, perlu dihindari faktor-faktor yang dapat mengurangi daya beli. Bencana alam, kondisi negara yang tidak stabil, perekonomian yang lemah, adalah beberapa penyebab turunnya daya beli. Ditangani lah satu persatu. Mana bagian yang dilihat tidak mampu ditangani pemerintah, 'dibantu' oleh masyarakat internasional ini.

Bos saya di proyek tsunami menjawab bahwa di negaranya ilmu berkembang pesat. Tapi apalah arti ilmu kalau tidak bisa diimplementasi. Belajar geologi, belajar tentang gempa tapi jarang ketemu gempa. Bisa bikin alat deteksi tsunami, tapi di wilayahnya sendiri hampir pasti gak akan terjadi tsunami. Dan ketika mereka menemukan ada negara dimana ilmu-ilmu ini bisa diaplikasikan, diambillah kesempatan ini. Pas SMA atau kuliah kalau mau praktikum bayar tho? Lah ini juga mereka bersedia mengeluarkan biaya.

Teman saya lainnya yang sudah lama bekerja di bidang ini punya jawaban lainnya. Katanya, setiap negara maju punya keinginan untuk 'menguasai dunia', menunjukkan bahwa negaranya lah yang terbaik. Jadi saling berkompetisilah mereka. Jika dilihat negara A mulai 'bermain' di satu bidang, negara B tidak mau ketinggalan. Berlomba mereka menunjukkan masing-masing memiliki ilmu yang terbaik, teknologi terdepan, sumber daya terpintar.

Di luar jawaban-jawaban panjang di atas masih ada jawaban-jawaban pendek yang belum sempat saya elaborasi lebih lanjut pada sang pemberi jawaban. Ada yang menjawab bahwa ini adalah trik jualan negara-negara maju. Karena di ujungnya nanti kita akan 'terpaksa' menggunakan teknologi atau alat buatan negara mereka. Ada juga jawaban yang mengaitkan dengan lapangan pekerjaan. Katanya, para pekerja yang dikirim kesini adalah mereka yang tidak dapat kerjaan di negaranya sana.

Nah, selain jawaban-jawaban di atas, ada yang punya jawaban lainnya?

Published with Blogger-droid v1.7.4

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -