03 Oktober 2011

Buat yang baru jadi orang tua, pasti pada sibuk belajar ilmu parenting. Menjadi orang tua yang baik. Tapi apakah orang tua kita (yang sekarang mungkin sudah dapat predikat kakek/nenek) pernah belajar ilmu ini? Atau sedang belajar ilmu ini?

Rasanya sih enggak.

Kalau begitu, supaya hubungan anak dan orang tua tetap harmonis, sang anak dong yang perlu belajar menjadi anak yang baik.

Tapi gimana caranya?

Belajar dimana?

Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua. Demikian pasti doa orang tua pada anaknya (dan mungkin pada anak orang lain juga). Tapi, berbakti itu apa? Bagaimana caranya?

Kalau ada rezeki, ingat pada orang tua. Ini salah satu bakti pada orang tua. Katanya. Nah saya punya contoh kasus dimana si anak sering ngajak jalan orang tua, ngajak makan di luar, atau bawain makanan ke rumah orang tua. Ikhlas hati si anak ingin nyenengin orang tuanya. Sumner rezekinya halal. Nah, menurut anda, si anak sudah berbakti kan? Ya dong?! Tapi, bagaimana kalau sang orang tua berharap si anak hidup sederhana aja, gak usah makan di luar, gak usah jalan-jalan, mendingan uangnya buat ditabung, mendingan uangnya disimpan sehingga tagihan kartu kredit gak menggunung, mendingan uangnya buat beli rumah. Anak pikir, kalau ditabung yang menikmati dirinya sendiri, kalau jalan dan makan bareng yang menikmati dirinya dan orang tuanya. Orang tua pikir, mana bisa hatiku senang kalau tahu anakku uangnya habis atau punya cicilan dimana-mana.

Menurut pada orang tua. Contoh kasus lainnya. Si anak punya pilihan hati, mari kita sebut calon istri, untuk memperlihatkan *ehm* keseriusan mereka. Si anak mantap memilih si calon karena perhatian, dukungan, dan kesetiaannya sudah teruji. Si orang tua juga mantap. Mantap menentang. Anda tau penyebabnya? Karena sang orang tua ingin anaknya berjodoh dengan wanita yang 'sama'. Sama tingkat pendidikannya. Sama asal sukunya. Iya, anda tidak salah baca. Ini penyebabnya. Ketika dunia berjuang menghapus diskriminasi SARA, haruskah si anak menuruti kehendak orang tua? Apakah orang tua selalu benar? Si anak berpikir kebahagiannya ditentukan oleh sifat calon istrinya, sementara si orang tua berpikir faktor suku dan pendidikan PASTI akan membentuk karakter yang sesuai dengan stigma yang ada, yang kelak akan berujung pada ketidakbahagiaan si anak.

Berkata-katalah yang baik pada orang tua. Gampang ya? Ternyata gak segampang yang dikira. "Pah, ayo ke Optik, periksa kacamata, sekalian beli yang baru", ajak si anak. Si Papah menjawab, "gak usah. Beli aja yang sama ama sekarang". Si anak yang tau kacamata yang sekarang sudah bikin sakit kepala si Papah, berniat mengantar ke Optik untuk mendapatkan ukuran terbaru. Si Papah yang merasa akan merepotkan anaknya kalau pergi ke Optik, keukeuh tidak mau diajak pergi. Si anak keukeuh ngajak pergi. Akhirnya, si anak kesal karena si papah keras kepala, si papah kesal karena si anak terlalu memaksa. Dan ini semua melalui dialog yang (menurut saya) sopan dan tidak bernada tinggi. Contoh lainnya, si anak yang akan belanja oleh-oleh bertanya kepada ibunya, "Mah, mau dibeliin apa?". Ini pakai nada lembut. Dan dijawab, "Kalau mau beliin orang tua gak usah pake ditanya. Apa yang dibeliin pasti dimakan". Ini pakai nada kesal. Lho, anda bingung kan dengan kekesalan si mamah. Apalagi si anak. Ternyata, si mamah yang sebelumnya mendengar si anak menyebutkan rekan-rekan kantornya yang dibelikan oleh-oleh merasa bahwa, kalau untuk orang lain si anak bisa menerka yang dimaui, si anak juga harusnya bisa menerka apa yang disukai orang tuanya. Si anak, merasa dengan mengajukan pertanyaan "Mau dibeliin apa?" ia memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memilih apa yang diinginkan, memberikan apapun yang diinginkan.

Kalau sudah begini, masih bisa bilang "berbakti pada orang tua" itu gampang?

Eh, kalau ada yang mengira saya kurang objektif karena saya adalah si anak dalam contoh kasus di atas, anda salah. Insya allah ini objektif, karena saya bicara dengan si anak dan si orang tua. Lagian, orang tua saya kan sudah 'pulang' sebelum kondisi-kondisi di atas harus dihadapi.

Published with Blogger-droid v1.7.4

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -