25 Oktober 2011

Ramadhan kemaren, saya sukses masak semur dengan hasil akhir yang tidak mengecewakan. Suami, karnivora sejati, mengajak saya masak semur lagi. Saya, yang kemaren itu masaknya di Bintaro dengan 'peralatan perang' lengkap hasil warisan ibu, menolak masak di Depok dengan amunisi seadanya gini. Pisau cuma satu, kecil. Panci juga kecil. Talenan gak ada. Beli bumbu dapur terancam kebuang sisanya. Akhirnya diputuskan untuk beli bumbu halus di supermarket DAN suami yang masak *istri durjana*. Suami gak keberatan.

Dan siang itu nongkronglah suami di dapur. Saya bersiap leyeh-leyeh, baca twitter, atau main game. Etapi kok daging belum dipotong, kentang belum dikupas, mateng jam berapa ini semur? tanya saya. Jadilah saya melangkah ke dapur, nawarin tenaga jadi seksi kupas kentang.

Layaknya kapal yang tidak bisa punya dua nahkoda, masak juga gak bisa pakai dua chef dong. Jadi saya tetep jadi pembantu umum. Hari ini semur ala chef Choy.

"Itu pancinya isi air", kata suami.

Istri berbakti masukin air ke panci.

"Kalo gue kemaren sih dagingnya gue tumis dulu sebelum dikasih air", istri mulai lupa peran pembantu.

"Biar apa?", tanya suami.

"Sebentar saya telepon bu Siska Soewitomo dulu, hehehe. Ya mana gue tau, resepnya bilang begitu", kembali bermental babu.

"Digoreng aja dulu dagingnya kali?", suami kasih usul.

But why? Tanya istri dalam hati. Etapi kembali sadar peran, istri kembali nurut aja. Ini sudah gak sesuai dengan ilmu permasakan yang saya pelajari nih.

Long story short, semur akhirnya matang. Kami makan dengan gembira.

Rasanya gimana?

Rasa bumbu nya terlalu kuat, kecapnya tenggelam. Dan kami sepakat menyalahkan komposisi bumbu jadi sebagai biang keladinya. Bukan teknik memasak dong.

Moral story, lain kali mending yang masak satu orang aja deh. Yang satu lagi duduk manis somewhere else aja.

Published with Blogger-droid v1.7.4

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -