15 November 2011

Saya hampir selalu 'gemas' melihat hubungan anak - orang tua di sekitar saya. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang rumitnya definisi berbakti kepada orang tua.

Sebagai orang yang mencari hikmah di setiap peristiwa *ciehhh guee* saya merasa keadaan saya memungkinkan saya untuk bisa mengomentari hubungan orang tua - anak dewasa dengan leluasa. Seperti komentator bola yang tidak pernah terlihat menendang bola, saya bisa ngomong ini itu tanpa orang lain perlu lihat bagaimana hubungan saya dengan orang tua.

Mari kita simak contoh kasus yang diangkat dari kisah nyata *pasang musik latar mencekam*.

Alkisah ada seorang anak laki berumur 33 tahun. Ia dan istrinya baru saja dikaruniai bayi montok sehat. Senang rasanya. Beberapa waktu sebelum kelahiran sang bayi, pembicaraan sudah mulai dilakukan untuk menentukan siapa yang akan memiliki hak asuh terhadap sang bayi. Keluarga mereka rukun aman tentram bahagia, namun berjauhan secara geografis (walau tetap di hati *aishhh bahasanya*). Sang suami bekerja di Jakarta, tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua adiknya. Satu orang sudah menikah dan punya balita. Sang istri jadi abdi negara di Pangkal Pinang. Keluarganya berada di Malang, ayah, ibu, kakak, dan adik yang butuh perhatian ekstra karena keterbatasan fisiknya.

Rencana awal untuk sang bayi adalah, ditinggal di Malang bersama keluarga sang istri. Etapi ibunda dikhawatirkan akan kerepotan karena harus mengasuh cucu dan anak, keduanya butuh perhatian khusus. Dan digantilah ke rencana dua.

Bayi akan ditinggal di Jakarta, bersama suami dan keluarganya. Banyak tangan yang diperkirakan akan membantu. Ada Opa, Oma, Tante, Om, Om lainnya, Tante tukang ganggu anak kecil, Om tukang goda anak kecil. Etapi sayang sekali kalau sang bayi hanya dapat ASI selama 2 bulan. Sang istri tak rela. Baik mari ganti ke rencana ketiga.

Bayi akan ikut ibunya kembali ke Pangkal Pinang seiring dengan berakhirnya cuti melahirkan sang ibu. Setidaknya hingga lulus ASI eksklusif 6 bulan. Loh tapi, disana siapa yang akan menjaga? Ibu kan kerja? Sang suami pun membujuk ibundanya untuk menyebrangi lautan, menemani anak dan menantu. Ibunda mengisyaratkan keengganan. Khawatir tidak betah, khawatir kelelahan lalu sakit lalu merepotkan menantu, khawatir pengeluaran keluarga bertambah, khawatir rumah tak terurus. Suami tak putus asa, dibujuknya sang ibu dengan janji beli makan di luar. Di Jakarta dan di Pangkal Pinang. Diberikan uang saku. Ibunda masih mengisyaratkan keengganan. Dan akhirnya suami mengeluarkan argumentasi pamungkas, "kok sama cucu yang disini mau bantu mengasuh, tapi sama anakku kok gak mau?". Ibunda tak berkutik. Keadilan, bagi sebagian orang, berarti perlakuan sama rata. Dan ibunda tak mau dibilang pilih kasih.

Pertanyaan saya:

Benarkah tindakan suami yang 'memaksa' ibunya bekerja mengasuh cucu di seberang lautan, di usia senja?

Salahkah keengganan ibunda meninggalkan rumahnya, suaminya, anaknya, cucunya, demi cucu lainnya?

Sampai kapan anak boleh meminta dari orang tuanya?

Dan sampai kapan orang tua harus bekerja keras demi kesenangan anaknya?

Published with Blogger-droid v1.7.4

2 Responses so far.

  1. Ga setuju eike. Gw salah satu orang yang berprinsip kalau punya anak, terlarang minta orang tua ngurus. Secara mereka udah ngurus kita waktu kecil, sekarang disuruh ngurus cucu. Kapan istriahatnya coba. Kasian ah.


    Bahkan gw ga doyan liat yang tinggal sama ortu tapi anaknya harus dipegang kakek nenek. Cari pengasuh lah. Kakek neneknya cuma mandorin. ngawasin pengasuhnya baik apa gak. Gitu aja.

    Tokoh di cerita ini juga harusnya bayar pengasuh aja. Neneknya diajak, maksimal sebulan buat ngajarin pembantu masak, ngajarin ngasuh bayi, dan lihat apakah si pengasuh kerjanya bener atau gak. Setelah itu ya balik aja. Berduaan sama suaminya. Ngaji. Senam Jantung di lapangan. Istriahat.

    *panjang deh*

  2. Erma says:

    Dan mereka hidup bahagia selamanya :)
    Ibunda ini tiap hari kerja masih bangun jam 3 pagi loh. Masak. Biar anak dan menantunya bisa bawa bekal makan siang ke kantor.
    Semoga bertumpuk pahala buat Ibunda.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -