30 Desember 2011

Seru juga ternyata berangkat kerja naik kereta. Banyak yang bisa dilihat. Mulai dari cepet-cepetan masuk supaya bisa dapet tempat duduk. Kalau sudah penuh semua, maka mari berlomba cari posisi berdiri enak supaya bisa senderan. Hahaha.


Hari ini agak lain ceritanya. Naik kereta yang sekitar jam 8.30 hasilnya sudah gak berdesakan. Mungkin karena banyak yang libur. Mungkin karena saya di gerbong khusus wanita. Mungkin karena gak lama setelahnya akan ada kereta yang berangkat dari Depok Lama. Mungkin karena saya lagi beruntung aja. Anyway, sampai di Manggarai, masuklah segerombolan pria dan wanita. Pria masuk gerbong wanita sih masih wajar, biasanya setelah itu pria-pria ini langsung melipir ke gerbong berikutnya, dengan atau tanpa diminta oleh petugas gerbong. Kali ini beda. Para pria ini meski sudah diminta oleh petugas, gak perduli. "Numpang doang pak", jawab mereka. Numpang apa, saya juga gak tau. Seorang wanita di dalam gerbong juga sudah bilang "ini kan khusus wanita pak", tetep juga gak perduli. Walhasil para pria ini bergerombol di dekat pintu, dengan dua petugas di sekitar mereka. Lucu ya ngeliatnya, ada petugas tak berdaya menghadapi mereka yang 'melanggar aturan'. Tapi mari kita lihat sisi positifnya, mungkin si petugas merasa kalah jumlah, kalaupun dipaksa mungkin jadi bentrok dan malah merugikan wanita tulen yang ada di sana. Jadilah ia pasang badan berharap pria-pria ini bertahan di dekat pintu saja.

Nah disini pertanyaan "Salah siapa?" pertama ingin saya ajukan.
Salah gak si wanita yang protes ke pria-pria yang masuk ke gerbong khusus wanita?
Salah gak si pria-pria yang (mungkin merasa) toh gue gak gangguin para wanita kok?
Salah gak si petugas yang gak melakukan upaya lanjutan untuk meminta para pria ini untuk pindah gerbong?
Salah gak si penumpang wanita yang cuma ngeliatin fenomena ini sambil main bejeweled di Ipod?

Okeh, masih dalam waktu yang sama, ada fenomena kedua. Wanita penjual gorengan. Dari Manggarai pula masuk wanita ini dengan sebuah kotak ukuran medium. Di dalamnya ada aneka gorengan seperti bakwan, risol, martabak, combro. Dia membuka kotaknya yang disambut oleh beberapa penumpang wanita yang kemudian membeli. Dilayaninya pembeli-pembeli ini dengan senang hati. Ketika transaksi selesai, petugas mendatangi wanita ini dan bilang, "gak boleh jualan disini bu". Yang dijawab oleh wanita ini dengan, "saya mau kerja kok, ini buat dijual di tempat kerja". Oya, ibu ini penampilannya cukup rapi menurut saya. Dia pakai celana kain, kemeja kain, jilbab. Bahkan plastik tempat naruh makanan yang dibeli dimasukkan dalam tas wanita warna hitam. Jadi gak kumal deh penampilannya. Petugas hanya memandangi tak berdaya. Menurut saya sih dia bingung, masak wanita ini mau dipaksa turun? Takut dibilang gak sopan kali ya. Setahu saya sih di kereta AC ini gak pernah ada penjual makanan, jadi saya rasa perkataan sang petugas itu valid. Tapi gak ada stiker yang bertuliskan "dilarang berjualan" seperti stiker "dilarang makan dan minum" yang ada di busway. Ketika petugas ini berlalu, sang wanita berkata ke penumpang lainnya "lah orang mereka mau beli ya saya layanin". Pendapat saya ya, wanita ini memang sengaja berniat berjualan. 'Kalimat bermakna ganda' yang jadi jawabannya ke petugas sepertinya sudah dipersiapkan. Pendapat saya juga, ini memang 'pekerjaan'nya sehari-hari.

Nah, pertanyaan "Salah siapa?" kedua yang ingin saya ajukan:
Salah gak wanita ini berjualan makanan di kereta AC?
Salah gak para penumpang yang membeli jualannya?
Salah gak si petugas yang memberitahukan larangannya?

Jadi mikir, susah ya ngatur manusia. Apalagi yang jadi pengaturnya, juga manusia. Salah dan benar gak bisa dibedakan langsung. Bikin bingung. Lalu buat apa ada aturan?

Atau kita bisa berharap pada kesadaran setiap manusianya saja, untuk membuat hidupnya lebih mudah namun tidak merugikan orang lain.

Berat bener kayaknya postingan akhir tahun ini.

2 Responses so far.

  1. jadi kesimpulannya apah sayang? hihi

  2. ekalong says:

    @capcai: Kan seperti kata om pramuoedya, "orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah".
    Jeng Erma nulisin pemikirannya..

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -