10 Desember 2011

Saya sedang membaca buku "an Introduction to The Mirace of Giving", tenang.. isinya bahasa Indonesia tulen kok. Saya menunda bikin posting tentang buku ini karena belum selesai baca. Pengennya baca sampai selesai, dan mudah-mudahan setelah itu bisa 'menyaring' dan 'meresapi' isinya untuk dibagi di blog.

Saya masih di halaman 145 dari 188 total ketika ada satu pikiran yang saya rasa sayang kalau gak segera ditulis.

Saya pernah dapat beberapa komentar yang bilang ke saya, "lo mah enak, kuliah di tempat yang bagus, kerjanya enak, gajinya gede". Setelah melewati tahap emosi jiwa dengernya karena merasa bahwa orang-orang ini gak melihat susah-susahnya saya kuliah, nganggur lama, kerja dengan kontrak jangka pendek terus, saya sekarang sudah bisa menjawab, "Alhamdulillah, Allah baik sama saya".

Lalu saya 'merenungi' pernyataan saya di atas. Aneh bener, omongan sendiri kok direnungi?

Saya kadang takjub sendiri waktu mikir, kok Allah baik bener ya sama saya? Padahal sayanya juga gak baik-baik amat. Solat kadang masih bolong *iya, bahkan setelah pakai jilbab. Jangan dicontoh ya!*, suka galak sama orang, ngaji jarang, sedekah seadanya doang. Lalu saya mikir, jangan-jangan rezeki yang saya terima selama ini bukan semata-mata hasil kerja saya? Tapi adalah hasil kerja orang tua saya, dahulu. Waktu meninggal, orang tua saya tidak mewariskan rumah berhalaman luas, sawah berhektar-hektar, tabungan bermilyar-milyar, tapi alhamdulillah saya masih bisa hidup. Enak, kata orang. Lalu saya ingat, bahwa semasa hidupnya, ibu saya solatnya gak pernah bolong. Duha juga. Ngaji juga. Bapak saya, rajin ngebagi-bagi makanan tiap ada abis gajian (ini way back waktu beliau belum nikah), menampung orang-orang yang bingung mau tinggal dimana, di rumahnya. Saya gak bilang orang tua saya sempurna. Enggaklah. Tapi kebaikan kalau dicontoh kan gapapa. Keburukan, gak usah dibagi tho, apalagi dicontoh.

Anyway, seperti yang saya tulis di atas, hidup kami gak mewah. Relatif ngepas malah. Jadi mungkin 'balasan' dari kebaikan mereka tidak datang di masa hidup mereka. Tapi kelak, setelah mereka meninggal. Untuk dinikmati oleh saya dan adik. Subhanallah.

Entah jadi apa hidup kami kalau orangtua kami dulu gak 'baik'.

Sekeping hikmah yang bisa saya bagi adalah, jangan segan untuk berbuat baik. Siapa tahu kelak hasilnya dinikmati oleh anak cucu kita nanti kelak.

Published with Blogger-droid v1.7.4

One Response so far.

  1. Assalamualaikum Mbak Erma, salam kenal, saya Muthi (29thn, ibu satu putra). Accidentally saya terdampar ke blog Mbak...dan rada sebel...kok gak dari kmrn2 terdamparnya, hehe. Seneng bgt baca tulisan (ketikan) Mbak, hehe.
    Trs, yang "Warisan" ini, jedug jeder, plek ketiplek aka sama persis ama yang saya rasakan Mbak.
    Trs saya jadi berpikir lagi, trs apa ya yang bisa saya "waris"kan buat anak saya...??? hiks

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -