09 April 2012

Sebagai penggemar bros lucu nan imut, saya sudah lama sekali ingin mengunjungi Asemka. Seorang teman saya yang sudah pernah ke sana bercerita bahwa bros-brosnya muraaaaaaah TAPI harus beli selusin. Dan si teman saya itu yang sudah beli selusin, cuma menghadiahi cerita-ceritanya saja. "Brosnya mana?", tanya saya. "Udah gue bawa mudik, emak ama adek gue seneng banget dikasih bros banyak gitu". Saya pun manyun.


Sebenarnya, gak susah-susah amat pergi ke Asemka ini. Tinggal naik Transjakarta turun di Terminal Kota, terus jalan kaki 200m paling, sampai deh. Ehm, ini bisa saya tuliskan karena saya sudah pernah kesana. Iya, akhirnya hari Sabtu kemarin berhasil ke sana.

Lucunya, yang syaa cari di Asemka kemarin bukan bros-bros lucu. Tapi tas besar bergambar kartun berbahan (mirip) plastik. Ituloh yang biasanya dibawah oleh orang-orang yang ngisi stand di pameran untuk membawa pulang barang-barang dagangannya. Saya butuh tas ini buat ngangkutin baju-baju di rumah. Coba browsing kanan kiri, tapi gak tau nama populer dari tas ini.

Pake keyword "tas plastik besar", gak dapat.

Pake keyword "tas jumbo", gak dapat.

Pake keyword "tas kartun". juga gak dapat.

Entah kenapa, setelah itu saya kok merasa ini tas PASTI ada deh di Asemka. Padahal hasil browsing tidak memberikan hasil, Asemka pun belum pernah kudatangi. Tapi, dengan penuh keteguhan hati, keyakinan akan berhasil *ebuset bahasanya*, naiklah saya ke bis Transjakarta siang itu. Sampai di Kota, tanya arah ke mas-mas petugas Transjakarta, dan melangkahlah saya di siang bolong yang untungnya gak bolong-bolong amat itu. Baru setengah jalan, saya sudah lihat ada yang jual tas yang saya cari itu, di pinggir jalan. Tergoda untuk nanya harganya sih. Tapi ini biasanya kalo nanya harga ya nanya doang, sebagai perbandingan, hampir pasti gak beli di penjual pertama. Sementara si penjual ini lagi sepi pembeli, plus lokasi jualannya panas banget. Bukannya kasihan sehingga akhirnya jadi beli barangnya, saya malah kasihan sehingga gak memberi harapan palsu pada penjualnya *alias nanya doang tapi gak beli".

Sampai di kolong fly over, saya melihat ada kotak-kotak mika berisi bros lucu, kemungkinan untuk souvenir. Mulai melirik. Padahal belum tujuan utamanya. Untung terlihat ada masjid di sana, jadinya salat Zuhur sambil ngadem. Seperti biasa, di masjid banyak orang bergelimpangan kepanasan lalu tidur. Sebel saya pada orang-orang yang tiduran di masjid tertutup oleh rasa kasihan. Mungkin mereka uda berangkat dari pagi, lalu capek, lalu haus, dan lapar, tapi daripada uangnya buat beli makanan dan minuman lebih baik disimpan saja, haus dan lapar bisa diobati dengan tidur.

keluar dari masjid, masuklah saya ke salah satu gedung dengan deretan toko. Di sana sebagian besar menjual aksesoris (bros, kalung, gelang, cincin) dan produk-produk untuk anak (tas, termos minum, poster, mainan kecil). Tidak tampak tas yang saya inginkan.

Masuk ke salah satu toko yang jual bros.

Ih lucu nih brosnya, pikir saya. Nanya harga doang kan gak bikin dompet kosong tho. 'Untungnya' pas manggil mbak penjaga untuk nanya harga dianya gak dengar, sibuk melayani pembeli lain. Saya melenggang saja keluar dari toko itu.

Masuk ke gedung sebelah. Tas masih tak tampak. Yang tampak adalah mas-mas yang sedang sibuk merapikan tumpukan bros. Eh apa?

Bros.

Masuk dulu ah.

Tanya-tanya (mas yang ini gak nyuekin, ya secara saya satu-satunya pembeli disana) bros ini itu.

Yang ini 3 pc nya 15.000 mbak, kata dia. Hah? Bukannya kalau beli satuan nawar 10.000 aja musti pake gaya gak butuh, ucap saya dalam hati.

Yang itu 24.000 mbak, kata dia untuk model lainnya. Dua puluh empat ribu tiga biji?, tanya saya. Bukan, enam, jawab dia. Argh... pengen mborooooong.

Intinya, murah-murah bok harganya. Cuma sudah dipak minimal isinya 3. Dan gak bisa dibongkar pasang komponen pengisinya. Maksudnya, di suatu pak ada bros warnanya merah - biru - hijau. Lalu untuk model yang sama di pak lain ada hitam - kuning - putih. Nah kita gak bisa bongkar untuk milih merah - kuning - putih, misalnya. Take it or leave it, gitulah prinsipnya. Lalu, untuk bros yang harga satuannya dibawah 5000, dipak jadi 6 pc. Harganya sih tetep jauh lebih merah daripada beli satuan.

Tapi, dengan 'godaan' begini dahsyatnya, saya berhasil cuma beli 3 pc loh *bangga*. Harganya 15.000 jadi per pc nya cuma 5.000. Itupun karena penasaran dengan model multi bros digabung jadi satu.

Emang, saya orangnya gak gampang tergoda *lah kok muji diri sendiri*.

*Ih tapi bros 3 pc sama persis buat apa ya. Bikin sayembara lagi aja apa?*

Lah terus tasnya?

Oh iya, belum dapat tas ya. Nanya sama si mas yang jualan bros ini, dia menunjukkan arah ke penjual yang tadi saya lewati pas datang. Iya penjual yang sepi itu. Oh ya sudah, mungkin memang di sana doang penjualnya, pikir saya. Melangkahlah saya menyebrang. Eh ternyata passs di depan tempat saya nyebrang, ada yang jual. Kali ini sedikit lebih ramai. Tanya harganya, deal di 20.000 per pc karena beli 2 pc. Oke lah *niatnya beli 5 pc*. Melangkah 10 meter lagi, ada toko lagi. Disini harganya 20.000 per pc tidak peduli berapa jumlah yang dibeli. Ya sudah, beli 3 lagi.

Mission accomplished.

Saatnya pulang.

Eh tapi jadi gak beli yang di pinggir jalan ya. Kok merasa bersalah gini. Apa lain kali kesana lagi aja ya beli di penjual yang panas-panasan di pinggir jalan? *cari alesan aja biar bisa ke Asemka lagi*.

3 Responses so far.

  1. Ikuttt kalau kesana lagi! Btw coba searchnya pakai tas pasar.Hihi. Di taskece.com ada deh. *baru beli disana buat pindahan*

  2. Erma says:

    ih Iraa.... gak pernah onlen sih jadi gak bisa ditanyain. Ya yang gue dapat mirip ama yang harganya 24.000. Masih untung 4 ribu kan ya *teteuppp*.

    Eh Ira mau ke Asemka? Sini gue anterin *cari-cari alasan*. Kapan wiken gak mudik?

  3. Fitri says:

    ga ngajaaaaaakkkk... gw mauuuuu... mauuuuu... mauuu ke sanaaa....

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -