03 April 2012

If your happiness is based on always getting a little more than you've got, then you've handed control over your happiness to the gatekeepers, built a system that doesn't scale and prevented yourself from the brave work that leads to a quantum leap.



Saya manusia biasa yang 'kadang' punya banyak keinginan. Ingin punya rumah, ingin punya mobil, ingin punya rekening yang berM-M isinya, ingin punya banyak waktu luang, ingin bisa berburu kain dan menjahit lebih lama, ingin kurus, ingin bangun pagi, ingin nyoba bikin masak dan bikin kue ini itu. Beragam bentuknya, dari yang keinginan yang bersifat duniawi sampai yang sifatnya memperbaiki diri *ehm*. Khusus yang bersifat duniawi, kadang bikin saya merasa, kenapa ya gue gak kayak orang lain...

yang lulus kuliah langsung dibeliin mobil ama orang tuanya. Kan pas kerja uda gak pusing mikirin nyicil mobil.

...yang orang tuanya punya rumah gede. Kan gak peru mikir mau tinggal dimana kalau keadaan 'mendesak'.

...yang pinternya gak ketulungan. Kan kerja tinggal kedip langsung beres, pindah kerja kayak ganti baju, gaji berjuta-juta, jalan-jalan ke luar negeri.

...yang orangtuanya masih lengkap. Kan enak tiap abis gajian puas beli-beliin.

Etapi, selalu saja ada cara Allah menegur saya dan mengembalikan kewarasan. Iya, kewarasan. Saya sering bilang ke suami, "perjalanan pulang pergi Bintaro-Kemayoran naik angkutan umum (bis, kereta) itu, gunanya untuk menjaga kewarasan gue kali ya".

Kalau naik Metromini, di sekitar Pasar Kebayoran Lama saya sering ketemu dengan bapak tua penjual tissue. Seingat saya, dari zaman saya pertama kali kerja (sekitar tahun 2006) saya sudah pernah menemui bapak ini di bis. Jualan tissue yang harganya seribu per bungkus (sekarang dua ribu), itu untungnya berapa ya? Enam tahun si bapak bekerja seperti ini, dia berhasil ngumpulin berapa ya? Duh, semoga Allah mencukupkan rezeki bapak ini untuk anak dan keluarganya. Dia kerja, gak nyuri, gak maksa minta duit sambil bilang daripada saya nyopet, gak ngancam sambil nyilet dirinya padahal tipu. Saya berhenti beli tissue kecil di supermarket biar bisa beli tissue si bapak. Sebenarnya ada niatan kasih uang atau kasih kembalian ke bapak ini, tapi beberapa kali saya ragu. Gak berani. Takut dikira sombong, belagu. Tapi suatu hari, kesempatan itu datang. Saya beli 2 tissue (harga totalnya Rp 4000,-) yang saya bayar dengan uang Rp 5000,-. Si bapak agak kesusahan ngorek-ngorek uang seribu dari kantongnya untuk ngasih kembalian ke saya. Lalu saya bilang, "gak apa-apa pak, kembaliannya bawa aja". Tepat setelah saya selesai ngomong begitu, si bapak menemukan uang logam Rp 1000,- di kantongnya. Dia kasih uang itu ke saya sambil bilang, "sudah ketemu neng, ini, lumayan buat ongkos neng". Pengen nangis gak sih?

Dan pengen ngegorok hidup-hidup para koruptor.

Saya memilih menerima uang kembalian itu sambil berdoa (sepenuh hati) semoga rezeki bapak ini dicukupkan, kesehatannya terjaga (sakit itu mahal kan), semangatnya terus tinggi untuk mencari uang dengan cara yang benar.

Ini judulnya pake (1) karena ada beberapa kejadian yang sebenarnya ingin dituliskan. Tapi kalau kepanjangan juga gak asyik kan. Jadi nanti dilanjut ke yang ke (2) ya.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -