75%

26 Juli 2012

Jadi kan terjadi CLBK antara saya dengan pekerjaan ini. Sebelas bulan di rumah saja dan lalu ditawari untuk kembali bekerja di kantor yang sama, rekan kerja yang sama, dan pekerjaan yang hampir sama. Komitmen pertama menyatakan saya akan bekerja jadi konsultan selama 6 bulan. Ih keren lagi istilahnya. Konsultan. Padahal itu artinya sama dengan pekerja tidak tetap. Pekerja sebentar doang. Anyway, saya tidak ada masalah dengan status semacam itu. Enam bulan itu ternyata berjalan dengan sangat cepat. Dan kurang (ternyata). Karena sampai tanggal 7 Juni 2012 (akhir kontrak 6 bulan itu) ternyata pekerjaan tercinta ini masih membutuhkan saya *cieee Erma*. Si bos menawarkan untuk memperpanjang kontrak saya hingga Maret 2013.

Wait.

Itu Maret tahun depan?

Iya.

Masih gegar budaya paska santai-santai di rumah selama 11 bulan sambil mencari jati diri dan hobi *ih bahasanya* lalu lompat bekerja penuh selama 6 bulan, bikin agak gamang juga dapat tawaran seperti ini. Otak saya bilang kalau saya kerja penuh begini mari kita ucapkan selamat tinggal aja deh ama jahit-menjahit, masak-memasak, baca-membaca. Duh, belum ikhlas juga rasanya berpisah dengan cita-cita itu. Tapi sayang juga kalo tawaran ini dilewatkan. Kesempatan untuk mengasah otak, kesempatan untuk merasa jadi komponen penting dalam keselamatan hidup banyak orang, kesempatan untuk menggerakkan badan >8 jam setiap harinya, kesempatan untuk ketemu dengan orang-orang baru, dan kesempatan untuk menambah angka di rekening tabungan.

Akhirnya diputuskanlah untuk mengajukan skema paruh waktu. FYI bos saya bekerja 80%, jadi dia punya banyak waktu libur untuk pulang kampung ke negeri merah-kuning-hitam itu. Sayapun minta 60% saja. Tiga hari kerja seminggu, sisanya libur. Sebelum dibilang "ih enak banget bisa minta gitu!", mohon diingat juga bahwa di dunia yang serba adil ini, kerja 60% artinya gajinya juga 60% ya. Situ mau? Saya sih mau. Hehehe.

Eh, angka ini sih ditolak ama si bos. Dia nawar jadi 75%. Lha saya kan bingung itu ngitungnya gimana? Dia bilang ya tinggal persentase dari jumlah hari kerja hingga Maret 2013 aja. Oooo.

Saya terimalah tawaran itu. Itung-itungan gampangnya adalah: dalam sebulan ada 3 minggu bekerja dan 1 minggu libur. Ih asyik kan libur tiap bulan?

Asyik.

Kalau emang beneran bisa libur.

Lha wong saya belum bisa libur karena kerjaan masih banyak. Yaiks. Baru masuk seminggu, minggu depannya nongkrong di Bali selama 9 hari (25 Juni - 3 Juli). Kerja saudara-saudara, bukan liburan. Lalu karena mau nyuci baju *ih alasan kurang keren banget* saya libur tanggal 4 nya. Dua hari di kantor (atau 3 hari di Jakarta), saya ke Bali LAGI (8 - 13 Juli). Yuk mari. Lalu dua minggu di Jakarta (kerja, belum bisa libur karena masih balapan sama kerjaan), nanti tanggal 5 Agustus berangkat lagi. Ke Bali lagi. Lima hari lagi. Oh em jih. Hai hai bandara Soekarno Hatta dan Ngurah Rai.

Libur terdekat yang bisa ditangkap (dan gak bisa diganggu gugat) adalah lebaran. Untuk mendukung suksesnya acara pernikahan sepupu, maka nona Jakarte yang jarang mudik lebaran ini akan mudik lebaran ini. Tanggal 15 berangkat dan entah sampai tanggal berapa baliknya. Tidak sebelum 26 Agustus tentunya, karena nikahan sepupu ada di tanggal itu. Palingan masuk kantor lagi baru tanggal 29 Agustus.

Oh dan abis itu sudah menanti pekerjaan-pekerjaan dan penerbangan-penerbangan lainnya dong ah.

Perlu beli koper baru nih kayaknya.

2 Responses so far.

  1. Ma.. Ada lowongan Ma? Mau dong Ma.. *melas*

  2. tapi tapi tapi, kamu kan harus bayar penalti

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -