17 Oktober 2012

Suatu hari bertahun-tahun lalu saya ngobrol dengan seorang teman baik di kampus.

Saya : Abis lulus mau kerja di mana?
Dia : Di sini.
S : Di kampus?
D : Iya.
S : Ngajar?
D : Iya
S : Kenapa?
D : Karena bisa sambil ngurus anak. Jadwal kerjanya gak segila pekerja kantoran lainnya. Liburnya juga banyak kan.
D : Lu mau jadi dosen juga?
S : Ogah ah.
D : Kenapa emangnya?
S : Horor. Kayaknya gue gak cukup sabar untuk mengajarkan sesuatu ke orang lain. Plus, gue galak juga kan. Plus, kalo murid gue gak ngerti-ngerti, kayanya gue deh yang bakal stres duluan, bukan dia.

Teman saya itu, akhirnya mengajar di kampus kami, lalu melanjutkan S2 nya di Australia, kembali ke Depok untuk mengajar, tapi sekarang menjadi PNS (bukan di kampus).

Saya, akhirnya bekerja kantor pemda (bukan PNS), pindah ke lembaga *ehm* internasional, pindah ke NGO dengan bos ganteng, dan kembali ke lembaga *ehm lagi* internasional yang sebelumnya. Dan hari ini, adalah hari kedua duduk manis di kantor setelah rangkaian lima pelatihan dengan durasi masing-masing lima hari.

Saya tidak sengaja, malah disuruh 'ngajar'. Berdiri di depan 20 orang yang memandang ingin tahu, bersiap mencuri ilmu, lalu bersuara selama 30 menit hingga 1 jam. Tidak sengajar pertama terjadi di tahun 2009. Lalu sekali lagi di tahun 2010. Lalu lima kali lagi di tahun 2012 ini.

Saya sih merasa tidak hobi atau minat mengajar. Dulu waktu kuliah memang sempat mengambil pekerjaan sebagai guru privat untuk siswa/i SMA dan SMP. Dijalanin sih. Dan serius sih. Tapi ya, ketika waktunya tidak memungkinkan lagi, saya dengan senang hati memberi pemberitahuan berhenti kepada para murid dan orangtuanya itu.

*mendadak ingat nama murid*

**mendadak ingin ngegoogle si murid**

***kembali sadar bahwa postingan belum selesai***

Jadi, mengajar tidak jadi cita-cita saya. Bahkan ketika saya tahu bahwa "Ilmu yang bermanfaat" adalah salah satu amalan yang tidak terputus meski kita sudah meninggal. Saya galak. Saya kurang sabar. Dua sifat yang rasanya tidak cocok untuk mengajar.

Tapi, sepulangnya dari rangkaian lima pelatihan di atas, saya merasa "ih asyik juga ya pelatihan ini". Ternyata saya senang melihat para peserta nya yang ketika datang belum ngerti, sepulangnya jadi agak ngerti. Yang ketika datang bicara di depan sambil menatap langit-langit, menjelang pulang sudah bisa menatap lawan bicara. Bangga sedikit rasanya.

Nah sekarang perlu cari tahu kayanya, apakah para 'murid' itu juga merasa bangga sedikit diajari oleh saya?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -