20 Oktober 2012

Tempo hari, saya bercerita dengan bangga, "aku dong... uda sukses naik taksi gak terang tiga kali".

Dimana?, tanya teman saya.

Di Cengkareng, jawab saya kalem.

What? Why? Ngapain lu pake taksi gak terang? Bahaya tauk! Kita kan perempuan. Jangan deh! Mendingan mahal dikit asal aman. Pokoknya jangan lagi-lagi ya.

Paragraf terakhir itu wanti-wantinya teman saya. Yang saya tanggapi dengan senyum lalu melipir ke luar ruangan. Biar gak dipaksa bilang "Ya" atau terpaksa bilang "enggak".

Nah ini yang mau saya bahas di sini.

Apakah kita lebih percaya:

a. KEMUNGKINAN terjadi sesuatu yang buruk
b. KEJADIAN lampau yang baik

Teman saya di atas, sedang meminta saya memercayai poin a. Saya bilang itu 'kemungkinan', karena setahu saya, teman saya ini tidak punya pengalaman buruk dengan taksi gak terang. Tahu bahwa ada pengalaman buruk di luar sana, ya.

Cerita saya padanya di atas, sedang memintanya memercayai poin b. Kejadian lampau, karena saya yang mengalaminya. Tidak satu atau dua kali, tapi tiga.

Sudah tiga kali dan baik-baik saja aja masih 'dimarahi' ya bok. Boro-boro 'dipercayai' apalagi 'diikuti'.

*lalu saya galau mau ngebahas soal percaya gak percaya ini, atau pengalaman pakai taksinya*

**mikir**

On how people choose what they want to believe, ini menarik buat saya. Otak kita kadang tidak konsisten untuk memilih. Kadang ketika ada kejadian buruk pada diri sendiri atau orang lain di masa lalu, kita memilih untuk percaya bahwa itu MUNGKIN TERJADI lagi pada kita. Kali lain, oleh otak yang sama, kita memilih untuk percaya bahwa itu TIDAK MUNGKIN terjadi pada kita.

Contoh pertama tentang kejahatan di taksi. Kita jadi parno dan lalu memilih merk merk terpercaya demi keamanan. Meski supirnya kadang jutek, kadang tidak tahu jalan. Yang penting aman, karena kejahatan itu mungkin menimpa kita.

*di lokasi 'normal' saya masih hanya memakai taksi merk terpercaya btw*

Contoh kedua tentang helm. Siapa yang belum pernah baca berita tentang kecelakaan di jalanan? Yang korbannya pengendara motor, yang korbannya tidak pakai helm. Toh sudah tau kejadian itu kita kadang (atau sering) mengizinkan diri tidak pakai helm. Apalagi kalau naik ojek, padahal ngebut, plus sering menerabas lampu merah. Ehm, kalimat terakhir pengpri sih. Maksudnya kejadian buruk itu tidak mungkin terjadi pada kita gitu?

Saya masih kepikir contoh lain sih, cuma posting ini sudah panjang sekali. Jadi, saya tutup sampai disini dulu saja.

Ada yang mau berbagi opini?

Published with Blogger-droid v2.0.6

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -