12 Januari 2013



Gambar di atas menunjukkan keranjang setrikaan saya yang sudah kosong, sehingga setrika dan alas setrika nya bisa masuk di sana. Perjuangan saya melawan tumpukan setrikaan tak berkesudahan *lebay mode* berhasil dimenangkan.



Pekerjaan rumah tangga yang satu ini benar-benar menantang untuk saya. Berhubung sampai saat ini belum ditemukan alat bernama 'mesin setrika' yang bisa menghasilkan baju rapi seperti habis disetrika (manual) hanya dengan sekali pencet, mau tidak mau saya masih perlu menyingsingkan lengan baju beberapa hari sekali lalu 'ndeprok' di pojok nyetrika. Baju-baju yang sudah diangkat dari jemuran biasanya saya tumpuk dulu di meja ini. Kadang dikategorikan berdasarkan jenis (baju kerja suami, kaos suami, baju rumah saya, baju keluar rumah saya, kerudung, pakaian dalam) sehingga skala prioritas bisa dilakukan. Kalo kelihatan stok baju kerja sudah kosong di lemari, saya tinggal ambil dari kategori tersebut untuk kemudian disetrika. Kali lain, saya membaginya berdasarkan urutan kering. Semacam FIFO gitu. Ini bagus untuk keseimbangan. Jadi sekali setrika bisa dapat baju kerja dan baju rumah plus kerudungnya.



Kalau pekerjaan mencuci sudah saya anggap GAMPANG. Tinggal masukkan ke mesin, pencet tombol, tinggal nonton dvd, voila sekitar 1 jam kemudian panggilan menjemur melengking dari si mesin. Di sini saya biasanya menggantungkan jemuran. Iya, pakai hanger semua, soalnya yang ada tali jemurannya berada di area setengah terbuka yang membuat jemuran saya lembab paska hujan. Tidak basah. Lembab saja.

Tiga gambar di atas mengabadikan kemenangan saya terhadap perang melawan setrikaan. Kemenangan sesaat saja, hingga tiba tumpukan baju berikutnya.

*judulnya doang keminggris, isinya belum berani keminggris.
Published with Blogger-droid v2.0.6

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -