11 Januari 2013

Awalnya saya gak mau nonton film ini karena: 1) Ga banyak yang review bilang ini film bagus banget; dan 2) Film barat yang adaptasi dari buku yang sudah saya baca aja tidak ada yang berhasil memuaskan saya, apalagi film Indonesia. Akhirnya kemarin nonton juga karena: 1) Roy bilang "sepertinya cinta sejati masih ada" setelah nonton film ini; dan 2) Saya keseringan di rumah aja pada periode libur satu bulan ini. Seperti sesi nonton sendiri lainnya (suami dengan senang hati bilang dia gak minat nonton film ini, jadi saya dengan senang hati nonton sendiri), eksekusinya dilakukan di Bintaro Plaza. Bioskop yang terdekat (naik angkot sekali bayar 2000 aja kakak....) dari kontrakan kami. Nonton yang jam 19.30 kirain bakal sepi seperti saat nonton Demi Ucok jam 21.25 di PIM 1, eh ternyata enggak. Saya dapat di baris kelima dari depan.

Berbekal Ice Blended Green Tea (yang ternyata enak, beli lagi ah lain kali nonton di XXI), saya memasuki ruangan yang tergolong penuh.

Jalan ceritanya sudah pada tau pastinya dong. Habibie si Engineer pintar lulusan Jerman, pulang ke Indonesia karena kena TBC, dikenalkan dengan Ainun si dokter muda yang juga teman SMA nya via upaya sistematis ibu dan kakaknya (atau adiknya? Fany Habibie itu adik/kakaknya sih?). Mereka menikah di Bandung (pada tahun 60-an, tapi minumnya Sirup Markisa, maklum sponsor), kemudian Habibie memboyong Ainun ke Jerman. Habibie bekerja di perusahaan kereta api (padahal dia ahli konstruksi pesawat?) hingga menyeleseaikan doktoral nya. Lulus doktoral, ia menyurati pemerintah Indonesia mengabari kelulusannya plus mengabdikan ilmunya bagi bangsa Indonesia, yang dibalas dengan "Maaf kami belum siap". Lanjutlah ia kerja di Jerman, Ainun pun praktek jadi dokter anak di sana, hingga suatu hari Ibnu Sutowo (dengan setting ala mafia Sisilia) memanggil Habibie pulang karena "Indonesia di bawah pimpinan Soeharto sedang giat membangun". Kalau dilanjutin, ya jadi spoiler tho namanya.

Ada beberapa dialog yang menurut saya `ajaib`. Yang ajaib bagus adalah pas Ainun akan operasi ovarium dan Habibie khawatir, Ainun bilang "Saya yang dokter, kamu kan bikin pesawat terbang, jadi jangan sok tau", ngomongnya pake muks mesra ya, bukan muka pengen nampar. Agak keliatan maksa juga sih setelahnya pesawat-pesawatan salah satu anak mereka rusak lalu minta mamanya benerin, yang langsung diambil alih papanya sambil balas "Saya yang bikin pesawat terbang, kamu kan dokter, jangan sok tau".

Yang ajaib bikin kening saya mengkerut adalah dialog mereka di becak. Ainun bilang "saya gak bisa janji akan jadi istri yang baik, tapi saya janji akan menemani kamu terus mewujudkan cita-cita kamu". Errr... istri yang baik itu kayak apa ya?

Pulang nonton, saya jadi mixed feeling gitu.

Feeling pertama, saya iri dengan Habibie. Dia hidup dengan cita-cita (yang disimpannya, meski kala itu dianggap mustahil), sehingga Ainun bisa mendedikasikan hidupnya untuk menemani Habibie mewujudkan cita-citanya. Lha saya masih menggalau gini, abis bulan Maret mau ngapain. Perlu cari cita-cita nih, supaya hidup lebih berarti. Atau ngomporin suami biar punya cita-cita, biar saya nebeng *eh*.

Feeling kedua, pegel banget liat Reza Rahadian disini. Dia berupaya keras meniru cara bicara, cara memandang, dan cara berjalan Habibie. Yang kata orang hasilnya mirip. Kalo kata saya kok mengingatkan saya pada Khan, di My Name is Khan. Dan upaya keras Reza ini kayaknya ga berhasil diimbangi oleh pemain lainnya (not even BCL). Alhasil, jadi kayak jomplang gitu.

"Nangis gak?", tanya teman saya setelah tau saya selesai nonton ini. Mewek dikit, di belakang, pas Habibie betulannya mengunjungi makam istrinya di Kalibata.

Pertanyaan dikit nih buat yang membuat film, pernah mempertimbangkan untuk memperbanyak narasi dari Habibie aslinya sebagai background ga? Seperti di film My Sister`s Keeper (yang juga adaptasi dari buku). Kayaknya bisa lebih dramatis.

2 Responses so far.

  1. iya gw lihat thrilernya aja ngejomplang gitu aktingnya.. BCL ga ada nua-nuanya. Mekup doang... karakternya ga menua.

  2. galau mau nonton 5cm apa enggak nih

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -