22 Januari 2013

Di suatu Sabtu, tempat kerja suami mengadakan (ehm) outing. Seperti diduga dari judulnya, tujuan outingnya ke Dufan (nyanyi "masuk di dunia fantasi... dunia ajaib yang memesona..."). Bok, orang dewasa kok outing ke Dufan, gak keren amat, pikir saya. Si suami sih sebenarnya gak hobi-hobi amat dengan Dufan. Plus saya nyalinya mulai menipis entah kenapa, jadi gak ada tuh penasaran dengan Histeria atau wahana-wahana uji nyali lainnya. Namun demi asas solidaritas-biar-rame-gak-kayak-sok-belagu-males-begaul, si suami memutuskan untuk ikutan juga. Dan setelah melihat menyentuh menerawang menimbang setengah matang, diputuskanlah agar saya ikutan juga. "Tapi gue naik wahana yang cemen-cemen aja ya, macam carousel atau istana boneka gitu", menjadi deklarasi pagi itu.

Kami tidak berangkat bersama-sama dengan gerombolan tempat kerja suami, tidak juga berangkat dari rumah langsung. Pagi itu kami ke Sunter dulu untuk (ehm) ketemu klien. Klien suami. Saya mah gak punya klien. Berangkat dari Bintaro sekitar jam 8. Berangkat dari Sunter jam 11.30. Sampai di Ancol, karena kelaparan, saya merepet minta makan. Karena gerombolan tempat kerja sedianya akan makan di Bandar Jakarta, maka saya makan yang dekat-dekat situ aja. Saya makan sendirian, karena suami makan di Bandar Jakarta itu
Nyam nyam. Abis. Enyaaak. Ada yang bisa nebak apa pesanan saya?

Habis makan dan solat, gerombolan tempat kerja kembali ke Dufan. Oya, jadi mereka sudah tiba di Dufan sekitar jam 10 gitu, main-main, lalu keluar makan siang, setelahnya kembali main-main. Ya berhubung kami sampai di Ancol juga sudah jam makan siang, maka kami bergabung di sesi paska makan siangnya.

Selesai makan, kami memutuskan untuk berpisah arah. Suami bergabung dengan gerombolannya dan naik bis carteran ke Dufan, saya ke Dufan jalan kaki.

Hah?

Serius?

Iya, serius. Ya sambil nyuri kesempatan power walk gitu ceritanya. Olahraga bok. Di sepanjang perjalanan itu, bus wara-wiri (bis gratis yang muter-muter Ancol) yang melewati saya seakan berkata "ih hari gini jalan kaki di Ancol? Gak tau apa ada bis gratis?". Saya (juga seakan) menjawab, "biarin wek... dapat salam dari berat badan 50 kg" *lah curcol*.

Di jalan agak gerimis, jadi gak berani sering-sering ngeluarin HP buat foto-foto. 

Ada yang tau itu foto apa?

Putri Duyung Cottage saudara-saudara.

Kalau sudah pernah ke Bali, ke Pulau Sikuai, dan ke Gili Trawangan, ngeliat laut dari Ancol kok rasanya kayak becanda gitu ya *belagu*.

Saya juga melewati Cablepark apa gitu namanya. Berhenti dulu sebentar deh ngeliatin mas-mas bule bergelantungan.
Dan setelah berkilo-kilometer jauhnya *melebay*, akhirnya sampailah di Dufan. Gerombolan suami ternyata dibelikan tiket premium seharga Rp 450.000,-. Ini membuat mereka tidak perlu antri di wahana favorit, plus ada lounge nya. Saya si nona ogah rugi ya ogah ikutan beli tiket premium. Lha mbayar sendiri bok. Tiket rakyat jelata aja lah. Dengan Mandisendiri Card diskon 20% untuk tiket rakyat jelata regular loh.

Yang pertama kami naiki adalah Bianglala. Seingat saya, dulu waktu TK, SMA, bahkan ketika sekitar 3 tahun lalu ke Dufan, Bianglala ini termasuk wahana 'cetek' buat saya. Maksudnya yang saya berani naiki tanpa perlu pikir panjang. Untuk beberapa orang, berada di ketinggian bisa agak menyeramkan, tapi saya merasa santai aja tuh. Waktu itu. Dulu. Kemarin mah ciut juga waktu berhenti di atas lalu angin bertiup membuat tempat duduk kami bergorang. Akuh takut jatuh!

Habis bianglala, kita naik Boom boom car (kok saya lupa ya nama Indonesianya). Si suami yang harusnya gak perlu ngantri, solider ama istri pengiritan, jadi ikut antri juga. Selesai boom boom car, ujan. Yaiks. Neduh aja gitu di tempat yang bisa main sambil masukin koin itu. Sudah kebasahan pula bajunya.

Selesai hujan, kami memasuki wahana terdekat dari tempat kami neduh. Oh, ada atraksi fire apa gitu (sungguh laporan yang tidak detil). Atraksi yang jadwalnya jam 17.00, pada jam 17.15 masih sibuk dipel-pel karena basah bin licin bok.

Akhirnya setelah penantian panjang, dimulai juga lah atraksinya.

Itu si mas bule yang pake topi mukanya lucuk gitu. Bukan lucu ganteng, lucu bikin ketawa. Ini atraksi ceritanya memperebutkan harta karun gitu, suaranya di dubbing, pemainnya bule-bule, dan gongnya adalah:
Api! Betul. Ada beberapa kali api muncul (sesuai skenario). Lumayan bikin hangat badan yang habis kehujanan sih.

Dan perjalanan ke Dufan kali ini ditutup dengan naik carousel 2 kali, lalu beli seplastik snack penuh msg seharga Rp 10.000,-. Hihihi *gak ada potonya jugak*.

One Response so far.

  1. keblug says:

    Do fun. menuju perut bumi.
    paling seneng wahana itu. seru tapi ga serem hahaha
    *eaaa udah cere sama wahana adrenalin*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -